Setelah Jalani DBS, Pasien Parkinson ini Merasa Diberi Kehidupan Kedua

0

JAKARTA (Suara Karya): Lima tahun hidup dalam keterbatasan gerak karena penyakit parkinson, Meritha Yumasari (48) sempat depresi dan ingin bunuh diri. Namun, kini ia mengaku bahagia. Berkat operasi DBS, warga Pekanbaru, Riau itu seakan mendapat kehidupan kedua.

“Senang rasanya bisa melakukan aktivitas sehari-hari tanpa dibantu orang lain. Saya seakan mendapat kehidupan kedua,” kata Meritha Yumasri dalam perbincangan saat akan kontrol hasil operasi DBS-nya di Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk Jakarta, Jumat (28/6/2019).

Meritha menuturkan, ia adalah pribadi yang lincah sebelum didiagnosa terkena parkinson. Petaka terjadi setelah ibu dari tiga anak itu terjatuh di kamar mandi di pagi hari, sekitar 5 tahun lalu. Ada trauma di kepala, setelah itu kondisi kesehatan Meritha terus menurun.

“Pada awalnya saya sering pusing. Dokter mendiagnosa vertigo. Kesehatan saya melemah, meski saya rutin minum obat. Saya tidak bisa lagi melakukan berbagai hal sendiri. Bahkan untuk makan saja, saya butuh orang lain. Kondisi itu membuat saya depresi dan ingin bunuh diri,” tuturnya.

Ditambahkan, beragai upaya pengobatan dilakukan. Termasuk berobat ke sebuah rumah sakit di Melaka, Malaysia. Dokter disana mendiagnosa dirinya terkena parkinson. Meski sudah minum beragam obat, kondisi kesehatannya tak juga membaik.

“Sampai ada yang mengusulkan untuk operasi Deep Brain Stimulation (DBS) di Siloam Kebon Jeruk. Keputusan ini tepat, karena 2 minggu pascaoperasi, saya sudah bisa pergi ke mall lagi tanpa kursi roda. Kunjungan mall pertama saya, setelah “terkurung” di rumah selama 5 tahun,” kata Meritha sambil tersenyum lebar.

Ia mengaku bahagia bisa kembali jalan seperti sebelumnya. Meski kadang tremor (gerakan gemetar berulang) di tangannya masih sering terjadi. “Karena itu, saya rutin ke Jakarta untuk cek kesehatan. Saya senang sekali, karena banyak hal sudah bisa saya lakukan pasca operasi DBS,” kata Meritha yang pada kesempatan itu didampingi putri Aline (18).

Seperti dijelaskan dokter spesialis bedah saraf dari Parkinson’s & Movement Disorder Center, Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Made Agus Mahendra Inggas, operasi stimulasi otak dalam atau Deep Brain Stimulation (DBS) bisa menjadi pilihan setelah pengobatan dengan obat-obatan sudah tidak efektif.

Operasi DBS merupakan standar baku tindakan operasi yang telah diakui Food Drug Administration (FDA) Amerika untuk pengobatan essential tremor (ET), penyakit parkinson (PD), dystonia, dan obsessive compulsive disorder (sindrom Tourette).

”Pemberian obat jangka panjang menjadi kurang efektif karena pasien sudah resisten dan adanya efek samping dari obat. Operasi DBS memungkinkan sel dopamin dirangsang untuk memproduksi dopamin dan bekerja optimal sehingga gejala penyakit parkinson dapat diatasi dan dosis obat berkurang,” katanya.

Teknik operasi DBS dilakukan melalui penanaman elektroda atau chip pada area tertentu di otak bagian dalam. Elektroda atau chip itu dihubungkan dengan kabel ke baterai yang diletakkan di dalam dada sebagai sumber arus listrik.

“Batere bertahan antara 5-7 tahun, tergantung kesibukan pasien. Penggantian baterai tergolong operasi ringan. Tak sampai 1 jam. Sedangkan operasi DBS berlangsung hingga 6-7 jam,” kata Made Agus yang dalam kesempatan itu didampingi rekan sejawat dr Frandy Susatia.

Menurut Made Agus Mahendra, prosedur operasi yang dilakukan dalam 2 tahap itu tergolong aman dan memiliki tingkat kesuksesan yang tinggi. Pada tahap pertama, pasien menerima anestesi lokal dan dibiarkan dalam keadaan sadar. Kabel yang tipis dan kecil ditanamkan di area tertentu di dalam otak.

Tahap kedua, lanjut Made Agus, anestesi umum yang dilakukan dengan menghubungkan kabel yang ditanam pada tahap pertama ke baterai seperti pacemaker yang ditanam di daerah dada (neurostimulator). Neurostimulator itulah yang nantinya diprogram dokter spesialis saraf untuk menghilangkan gejala serta respon gerak pasien yang paling optimal.

“Rata-rata pasien merasakan peningkatan perbaikan motorik sekitar 75-87 persen setelah dioperasi pada keadaan tanpa obat,” kata Made Agus Mahendra Inggas menandaskan. (Tri Wahyuni)