Shinkenjuku, Cara Asyik Kerjakan Soal Matematika dengan HOTS

0

JAKARTA (Suara Karya): Mengerjakan soal matematika bernalar tinggi (Higher Order Thingking Skills/HOTS) kini bisa dilakukan dengan cara lebih menyenangkan lewat metode Shinkenjuku. Metode ala Jepang itu, tak hanya mengajak anak berpikir secara mendalam (in-depth), tetapi juga kritis, inovatif dan out of the box.

“Metode Shinkenjuku ini bisa jadi bekal bagi anak dalam mengerjakan soal matematika bernalar tinggi (HOTS) yang muncul dalam ujian nasional,” kata Direktur PT Benesse Indonesia, Suzuki Tatsunosuke di Jakarta, Kamis (23/1/20).

Suzuki dalam kesempatan itu didampingi Presdir PT Benesse Indonesia, Keiko Toyoizumi, Kepala Seksi Pembelajaran Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar (SD), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Setiawan Witaradiya dan Manager Quality Enhancement PT Benesse Indonesia, Jovan Basir.

Suzuki yang fasih berbahasa Indonesia itu menjelaskan, metode Shinkenjuku bukanlah hal baru di Jepang. Metode itu telah diterapkan selama 60 tahun terakhir dan terbukti mampu mengajak siswa di negara matahari terbit itu untuk berpikir kritis dan ‘out of the box’, sesuai dengan model pembelajaran abad 21.

“Shinkenjuku di negara asalnya Jepang, diterapkan pada semua mata pelajaran. Namun di Indonesia, Shinkenjuku fokus pada matematika, karena banyak anak Indonesia yang lemah dalam mata pelajaran tersebut,” ujarnya.

Shinkenjuku dalam bahasa Indonesia memiliki arti mengerti itu menyenangkan. Metode belajar yang mengajak anak untuk mengerti lebih dulu apa yang dipelajari, sehingga tidak kesulitan dalam mengerjakan soal ujian baik di sekolah maupun ujian nasional.

“Shinkenjuku ini menekankan pada kemampuan berpikir anak. Tak sekadar menghapal rumus atau teori, tetapi bagaimana memanfaatkan rumus untuk menjawab soal dengan logika. Ternyata caranya lebih mudah,” tuturnya.

Karena itu, tak heran jika Shinkenjuku menarik perhatian siswa di Indonesia. Sejak diperkenalkan tiga tahun lalu, Shinkenjuku kini memiliki puluhan cabang di seputar Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya dan Malang. Target 5 tahun kedepan, ada tambahan 200 cabang baru di kota-kota besar di Indonesia.

Seperti dikemukakan Jovan, pihaknya optimis atas perkembangan Shinkenjuku. Selain menyajikan materi pembelajaran yang ‘menantang’, Shinkenjuku selalu menggelar kompetisi matematika antar cabang sebanyak 2 kali dalam setahun.

“Kompetisi semacam ini ternyata memicu anak untuk belajar secara serius. Nama para juara akan dipamerkan di cabang. Agar prestasi itu juga mendorong anak lain untuk berprestasi serupa,” ujarnya.

“Kompetisi matematika Shinkenjuku ke-3 sudah dilakukan sejak 18 Januari lalu di 33 cabang. Jumlah pesertanya mencapai 1.500 siswa sekolah dasar. Final akan digelar pada 26 Januari di 6 regional yaitu Tangerang Selatan, Kota Tangerang, Jakarta Timur dan Bekasi, Bandung, Solo dan Yogya serta Jawa Timur,” katanya.

Ditanya soal biaya belajar di Shinkenjuku, Jovan menyebut tak mahal yaitu sekitar Rp430 ribu per bulan. Biaya bisa lebih murah jika ambil paket belajar dalam satu tahun. “Untuk saat ini, program hanya untuk siswa SD. Jika dari kecil, matematika bukan hal yang menakutkan, prosesnya akan lebih mudah saat naik kelas,” ujarnya.

Alasannya, menurut Jovan, matematika digunakan tak hanya dalam kelas tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Kepercayaan diri seseorang juga meningkat jika paham matematika. Selain juga berguna untuk pengembangan nalar dan logika seseorang.

Upaya yang dilakukan PT Benesse Indonesia mendapat apresiasi dari Kepala Seksi Pembelajan Kemdikbud, Setiawan Witaradiya. Anak milenial memang sudah waktunya diajarkan metode pembelajaran yang bernalar tinggi sejak dini. Karena tuntutan zaman yang berbeda.

“Metode Shinkenjuku bisa jadi alternatif bagi siswa dalam memahami pembelajaran. Ini akan memperkaya wawasan dan pengetahuannya,” ucap Setiawan. (Tri Wahyuni)