Siap Berkolaborasi, Mahasiswa Doktoral Indonesia di Inggris Dirikan Doctrine-UK

0

JAKARTA (Suara Karya): Sejumlah ahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan doktoral (S3) di London, Inggris membentuk organisasi bernama Doctoral Epistemic of Indonesian in the United Kingdom atau Doctrine-UK.

Peresmian organisasi dilakukan bersama Wakil Duta Besar Indonesia untuk Inggris Raya, Khasan Ashari dan Pelaksana tugas (Plt) Direktur Riset, Teknologi dan Pengabdian Masyarakat, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek), Prof Teuku Faisal Fathani.

“Organisasi ini diharapkan bisa menjadi media untuk saling belajar, berkolaborasi dan saling membantu antar mahasiswa doktoral Indonesia di Inggris. Sehingga kuliah bisa selesai tepat waktu,” kata Khasan Ashari pada peluncuran Doctrine-UK di Kantor KBRI London, Jumat (20/5/22).

Peluncuran organisasi ini dilakukan bertepatan dengan Peringatan Hari Kebangkitan Nasional dengan harapan mahasiswa doktoral terus bersemangat dalam menyelesaikan studi, agar memberi dampak nyata bagi bangsa dan negara. Karena sebagian besar mahasiswa dibiayai melalui beasiswa pemerintah Indonesia.

“Para mahasiswa doktoral mendapatkan keistimewaan dari negara untuk kuliah di jenjang pendidikan tertinggi. Oleh karena itu, harus mampu membawa manfaat untuk ilmu pengetahuan, dan berdampak bagi sosial kemasyarakatan,” ujarnya.

Pernyataan senada dikemukakan Prof Faisal. Pemerintah telah memetakan potensi riset di Indonesia ke dalam sejumlah bidang, antara lain teknologi digital, ekonomi hijau dan kesehatan. Karena itu, riset yang diambil mahasiswa harus diarahkan untuk mencapai potensi tersebut.

“Cari topik riset yang sesuai agenda pemerintah, kebutuhan masyarakat dan kebutuhan industri,” ucapnya.

Pemerintah pun, lanjut Prof Faisal, terus berupaya meningkatkan jumlah doktor di Indonesia. Upaya itu dilakukan, antara lain lewat penyediaan beragam beasiswa untuk program strata tiga, baik di luar maupun di dalam negeri.

“Butuh niat dan tekad yang kuat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral. Saya berharap Doctrine-UK dapat memotivasi dan menginspirasi para calon mahasiswa doktoral Indonesia di Inggris,” ujar Faisal.

Data OECD pada 2019 menyebut, jumlah doktor di negara berkembang, termasuk Indonesia, masih terbilang sangat minim. Jumlah penduduk usia 25-64 tahun di negara-negara OECD yang bergelar doktor rerata hanya 1,1 persen, diantara populasi penduduk.

Prof Faisal menyebut, negara dengan jumlah doktor terbanyak antara lain Slovenia, Amerika Serikat, Jerman, dan Inggris. Negara-negara yang memiliki lulusan doktor terbanyak juga dikenal dengan negara yang unggul di bidang inovasi dan teknologi.

Ketua Doctrine-UK, Gatot Subroto mengatakan, saat ini jumlah anggota Doctrine UK mahasiswa doktoral Indonesia di Inggris sebanyak 157 orang. Jumlah itu terus meningkat setiap tahunnya, karena Inggris masih menjadi salah satu magnet di bidang pendidikan tinggi.

“Organisasi ini didirikan untuk membantu mahasiswa doktoral, yang selama ini tak banyak saling kenal, karena terlalu sibuk dengan risetnya. Padahal banyak topik risetnya sejenis. Karena itu, diharapkan Doctrine-UK bisa jadi penghubung para doktoral melalui riset yang dikerjakan,” ucapnya.

Gatot yang menjadi mahasiswa doktoral di University College London mengatakan, Doctrine-UK mengusung misi ‘connect, collaborate, and contribute’. Artinya, seluruh mahasiswa doktoral harus saling terkoneksi, berkolaborasi dan berkontribusi agar hasil risetnya bisa berdampak pada bangsa.

“Kalau kita saling kerja sama, maka hasil riset jadi lebih efisien, efektif dan berdampak lebih besar,” ujarnya.

Doctrine-UK memiliki beragam rencana program bagi mahasiswa doktoral Indonesia di Inggris. Antara lain, program peningkatan kapasitas, seperti pelatihan riset, manajemen waktu, menulis akademik, hingga mengelola stress selama studi.

Doctrine-UK juga bersiap memberi pembekalan bagi para mahasiswa Indonesia yang bertekad menempuh pendidikan doktoral di Inggris. (Tri Wahyuni)