Siap Jadi Mediator, Menkes Sayangkan Pemecatan IDI atas Terawan

0

JAKARTA (Suara Karya): Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyayangkan pemecatan yang dilakukan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) terhadap mantan Menkes, dr Terawan Agus Putranto.

Dampak atas pemecatan tersebut, dr Terawan tak bisa lagi membuka praktik. Untuk itu, Budi Sadikin menyatakan, pihaknya siap menjadi mediator dalam perselisihan tersebut.

“Masalah yang terjadi dalam tubuh IDI adalah urusan rumah tangga organisasi. Tetapi paling tidak harus ada mediasi dan komunikasi terkait masalah ini,” kata Budi Gunadi sadikin dalam keterangan pers secara daring, Senin (27/3/22).

Dokter Terawan dipecat permanen berdasarkan hasil keputusan Muktamar Ke-31 di Banda Aceh, Jumat (25/3/22). Sebelumnya, keanggotaan Terawan dihentikan sementara oleh IDI.

Kabar itu mencuat setelah akun twitter milik epidemiolog Pandu Riono membagikan video yang diklaim dari Muktamar XXXI IDI. Dalam video berdurasi 1 menit 31 detik itu terdengar seorang pria membacakan penghentian Terawan dari keanggotaan IDI berdasarkan keputusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI.

Seperti diketahui, perseteruan antara Terawan dengan IDI sudah dimulai sejak 2018 lalu. Kala itu Terawan mendapat kritikan karena menggunakan teknik digital subtraction angiography (DSA) untuk terapi ‘cuci otak’ yang belum teruji ilmiah.

IDI sempat menghentikan sementara keanggotaan Terawan, namun sanksi etik berupa pencabutan izin praktik, baru diumumkan pada Jumat (25/3/22). Pemberhentian dr Terawan dilaksanakan PB IDI selambat-lambatnya 28 hari kerja. Ketetapan itu berlaku sejak tanggal dikeluarkan.

Menkes Budi Gunadi menegaskan, pihaknya tidak bisa melakukan intervensi terhadap IDI, karena Undang-Undang (UU) Praktik Kedokteran memberi amanah yang sangat besar kepada PB IDI untuk pembinaan anggotanya.

“Seharusnya dibangun komunikasi yang baik antara IDI dengan anggotanya. Banyak pekerjaan rumah butuh tenaga kesehatan untuk mengatasinya. Energi jangan dihabiskan untuk hal-hal yang tidak perlu,” ujarnya.

Menkes menyebut sejumlah pekerjaan rumah yang butuh banyak tenaga kesehatan, seperti bagaimana menurunkan angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB), stunting, diabetes, hipertensi hingga masalah penyakit menular.

“IDI harus membantu pemerintah bagaimana menyehatkan 270 juta penduduk Indonesia saat ini. Janganlah mudah emosi, karena kita semua bersaudara,” ucapnya menegaskan.

Apalagi, lanjut Menkes Budi Gunadi, Indonesia dinilai banyak pihak berhasil dalam menangani pandemi covid-19. Karena itu, tenaga kesehatan diminta kerja samanya untuk membangun sistem kesehatan yang lebih baik

Ditanya kapan mediasi akan dilakukan, Menkes Budi Gunadi tidak menjawab. Sedetik kemudian, layar zoom berakhir. (Tri Wahyuni)