Suara Karya

Sinema Mikro Dana Indonesiana Bantu Tingkatkan Literasi Warga tentang Film

JAKARTA (Suara Karya): Guna meningkatkan literasi film di Indonesia, Ditjen Kebudayaan,
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) membuka Program Fasilitasi Bidang Kebudayaan kategori sinema mikro melalui bantuan Dana Indonesiana.

Sebanyak 39 komunitas film telah difasilitasi bantuan Program Sinema Mikro Dana Indonesiana tahun 2020. Beberapa diantaranya, memanfaatkan bantuan tersebut melalui pemutaran film di daerah-daerah yang memiliki gedung bioskop.

“Fasilitasi Bidang Kebudayaan Sinema Mikro tak hanya menjadi ruang bioskop alternatif, tetapi bentuk dukungan pemerintah kepada komunitas untuk meningkatkan jumlah ruang-ruang pertemuan kebudayaan berbasis audio-visual,” kata Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid di Jakarta, Rabu (22/2/23).

Dana Indonesiana atau dana abadi kebudayaan dialokasikan untuk membantu para budayawan berkembang dan meraih prestasi serta menyalurkan ekspresi. Sejak beberapa tahun terakhir, dana tersebut mulai digunakan para budayawan secara bertahap.

“Dana Indonesiana menjadi bukti bahwa pemerintah hadir dan bergerak bersama masyarakat untuk mendorong interaksi budaya dan inisiatif-inisiatif baru dalam upaya pemajuan kebudayaan Indonesia. Hal itu sesuai UU No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan,” ucap Hilmar.

Salah satu komunitas yang menerima bantuan Program Sinema Mikro Dana Indonesiana adalah Komunitas Kembang Gula. Komunitas itu menggelar layar tancap keliling di 9 titik setiap bulannya yang disebut Srawung Sinema.

Srawung Sinema merupakan program pemutaran reguler Kembang Gula yang diharapkan dapat mempertemukan pembuat film dengan warga sekitar melalui pemutaran film layar tancap dan diskusi.

Srawung yang artinya ‘berinteraksi’ merupakan upaya untuk membuka ruang menonton dan membahas film-film alternatif dengan cara-cara yang kreatif dan tak terbatas. Kegiatan itu menggunakan pendekatan wacana atau narasi yang dekat dengan persoalan warga sekitar Kota Solo.

Sejak menerima bantuan, komunitas itu tercatat sudah 3 kali melakukan pemutaran film. Program berjalan sejak 17 Desember 2022 di Kampung Malangjiwan, Colomadu. Bertempat di Balai karang taruna Malangjiwan, kegiatan dihadiri ratusan orang dari beragam usia.

Pemutaran kedua pada 14 Januari 2023, berlangsung di Kampung Mojo, Kelurahan Semanggi dan pemutaran ketiga pada 18 Februari 2023 di Rusunawa Mojosongo.

“Selama pemutaran film, warga selalu antusias dan memberi respon positif. Mereka merasa terhibur dengan adanya kegiatan layar tancap itu,” kata Fanny Chotimah dari Kembang Gula.

Komunitas lain penerima dama adalah Komunitas Gemulun Indonesia di Jambi. Komunitas itu menggelar pemutaran film 2 kali dari 6 kali yang direncanakan.

Pemutaran pertama pada 4 Februari 2023 di Taman Tapa Malenggang, ikon Kabupaten Batanghari.

Sean Popo Hardi dari Komunitas Gemulun mengatakan animo masyarakat untuk menonton film sangat besar. Jumlahnya mencapai ribuan.

“Bagi masyarakat di daerah, kegiatan itu menjadi sarana hiburan sekaligus edukasi bagi generasi muda. Masyarakat menanti Bioskop Rakyat yang rencananya diputar di Kecamatan Pemayung, Desa Singoan, Kampus PGSD UNJA, Desa Terusan, dan Benteng Tembesi,” ujar Sean.

Pemutaran kedua digelar di SMKN PP Pemayung pada 7 Februari 2023. Selain pemutaran film, generasi muda diundang untuk diskusi budaya. Para perangkat desa pun antusias mengikuti kegiatan itu.

“Warga bertanya apakah Bioskop Rakyat juga bisa digelar di desa lain dengan biaya mandiri dari desa,” ucapnya.

Sean Popo berharap kegiatan itu berdampak positif bagi warga guna menunjang peningkatan pengetahuan lokal dan aspek inovasi bagi generasi muda melalui karya film.

“Lewat bantuan dan hibah dari pemerintah ini, membuat geliat film pendek produksi komunitas film di daerah kian meningkat. Hal itu diharapkan dapat membuat film Indonesia semakin dihargai di rumahnya sendiri,” katanya.

Dana Indonesiana 2023 akan dibuka pada pertengahan Maret 2023, untuk informasi lebih lanjut dapat mengakses secara berkala danaindonesiana.kemdikbud.go.id dan media sosial Ditjen Kebudayaan @budayasaya. (Tri Wahyuni)

Related posts