Singgah di Maluku Utara, Laskar Rempah Disambut Raja Banda

0

JAKARTA (Suara Karya): Perjalanan Laskar Rempah mengarungi laut dengan KRI Dewaruci dalam kegiatan Muhibah Budaya Jalur Rempah (MBJR) tiba di titik kelima, yaitu Banda Neira, Maluku Tengah, pada Minggu (19/6/22).

Kedatangan Laskar Rempah disambut Raja Banda, Ely Basar Alimudin Latar. Kunjungan Basaudara Wandan di Banda Neira difasilitasi Ditjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek).

Sedikit informasi, Basudara Wandan adalah anak cucu keturunan Raja Banda yang sekarang menetap di Kepulauan Kei disebut Banda Ely dan Banda Elat. Ketika itu, mereka terusir dan selamat dari pembantaian VOC pada 1621, karena menolak usaha monopoli perdagangan pala dan fuli (rempah-rempah) di Kepulauan Banda.

Kehadiran Ely Basar Alimudin Latar di Banda Neira terbilang bersejarah, karena untuk pertama kalinya warga Banda Ely menginjak lagi tanah Banda setelah 400 tahun meninggalkan Banda, lantaran mereka menolak untuk dijajah.

Raja Banda Ely Bashar Alimudin Latar memberi apresiasi atas terlaksananya Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022. Hal itu menjadi momentum baginya, karena telah mempertemukan generasi asli Banda dengan tanah leluhurnya.

Kepada Laskar Rempah, Raja Banda Ely menyampaikan pesan, pentingnya membangun silaturahmi. “Dan jagalah negeri Banda untuk kepentingan Indonesia,” ucapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, MBJR adalah program yang digagas Ditjen Kebudayaan untuk membangun kesadaran masyarakat tentang kekayaan rempah di Indonesia. Persebaran rempah Nusantara di masa lalu telah menghubungkan peradaban, baik di Nusantara dan dunia.

Program tersebut merupakan upaya Kemdikbudristek yang saat ini sedang penyusunan nominasi Jalur Rempah sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO. Usulan tersebut akan disampaikan pada 2024 mendatang.

Dirjen Kebudayaan, Kemdikbudristek, Hilmar Farid menuturkan, Muhibah Budaya diikuti pemuda-pemudi terpilih dari 34 provinsi. Mereka mendapat sebutan sebagai Laskar Rempah. Di setiap titik singgah, Laskar Rempah melakukan interaksi dengan masyarakat.

“Rempah di Indonesia tak sekadar keunikan flora, tetapi juga menjadi penghubung terciptanya peradaban kebudayaan di setiap daerah,” tutur Hilmar.

Lahir pertemuan antarbudaya di Indonesia, lanjut Hilmar, disebabkan proses distribusi rempah dari satu daerah ke daerah lainn sehingga Indonesia dikenal sebagai bangsa yang kaya dan besar. Hal itu diakui tak hanya pedagang bangsa sendiri, tetapi juga dari bangsa lain.

“Rempah menjadi medium pertukaran budaya yang sepantasnya terus kita lestarikan,” ujarnya.

Hilmar menegaskan, kekayaan rempah Nusantara bukan sekadar komoditas, tetapi juga memberi pengaruh besar dalam membangun peradaban Nusantara. Para pemuda peserta Muhibah Jalur rempah diharapkan meneruskan pesan itu ke seluruh pemuda di Indonesia.

“Kesadaran mencintai dan merawat keberagaman di Indonesia diharapkan tumbuh dari program yang diikuti 147 Laskar Rempah dan ribuan masyarakat di titik persinggahan,” kata Hilmar.

Peserta MBJR dilepas keberangkatannya dari Surabaya pada 1 Juni 2022 lalu oleh , Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim dan Wakil Kepala Staf TNI AL, Laksamana Madya Ahmadi Heri Purwono.

Laskar Rempah telah melintasi rute Surabaya, Makassar, Bau-Bau-Buton, Ternate-Tidore, dan Banda, yang akan dilanjutkan dengan rute Kupang, lalu kembali lagi ke Surabaya. (Tri Wahyuni)