Sisi Gelap Lainnya Sebagian Generasi Millenium Pada Masa Kini

0
Ketua PPK Kosgoro 1957, Isdiyono. (suarakarya.co.id/Bayu Legianto)

Oleh: Isdiono

Media massa banyak memberitakan peranserta anak muda dalam program berbangsa dan bernegara pada dewasa ini yang cukup menggembirakan. Mereka cerdas, pandai dan berwawasan serta sangat peduli terhadap masa depan bangsa kita.

Dari sekian banyak prestasi, diantaranya turut mengambil bagian di berbagai bidang kehidupan, salah satu diantaranya di lahan politik praktis. Partai politik yang dikelola oleh anak muda itu berhasil lolos menjadi partai peserta Pemilu pada tahun 2019.

Selain dari itu, banyak pula yang menjadi calon anggota legislative baik DPR RI maupun DPRD dari partai politik. Bahkan ada pula yang sudah berhasil terpilih menjadi Kepala Daerah di tingkat provinsi, kabupaten dan kota.

Pada sis lain, mereka aktif menjadi pengurus partai politik, organisasi kemasyarakatan dan profesi baik di tingkat regional maupun nasional. Kondisi ini mencerminkan bahwa mereka memiliki kepedulian yang sangat tinggi.

Dicermati pula, mereka sangat banyak yang sukses mengisi lahan berbagai sektor kehidupan pada lapangan kerja di dalam negeri. Anak-anak muda  kelompok ini, dengan tekun dan bertanggung jawab memberikan yang terbaik pada profesinya masing-masing.

Kitapun dapat melihat juga, banyak yang dipercaya memegang jabatan pimpinan perusahaan swasta nasional maupun asing, berkat hasil kerja keras dan tanggung jawabnya.

Selain dari itu, tidak sedikit pula yang sukses di luar negeri sebagai TKI yang berdampak mampu membantu mendulang devisa Negara.

Dari sekelumit penyajian fakta itu, secara alamiah, mereka akan mampu menggantikan peranan para orang- orang (generasi) tua.

Atas prestasi itu, wajib kita syukuri. Namun disayangkan media massa kurang tertarik untuk mengeksposnya dengan gencar dan gamblang terhadap prestasinya bila dibandingkan dengan  yang dilakukan terhadap kelompok ini di bidang politik praktis. Berdasarkan data yang layak dipercaya, jumlah kaum muda di negeri kita pada tahun 2018 mencapai 65 juta jiwa, suatu potensi yang cukup besar

Akan tetapi di balik itu, kitapun harus berprihatin yang sangat mendalam terhadap perilaku beberapa orang yang masih dikatagorikan millenium yang bertabiat bertentangan dengan hukum dalam berbagai  kasus (walaupun presentasinya kecil) Suatu contoh, mereka yang berhasil dipercaya menjadi kepala daerah dengan sadar telah melakukan tindak pidana korupsi.

Akibatnya harus mendekam di lembaga permasyarakatan dalam waktu yang panjang. Demikian pula terhadap beberapa anggota dewan terhormat (DPR RI) yang berusia relative muda, terkena operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK. Mereka harus juga rela menanggalkan kehormatan diri dan keluarganya.

Contoh lain, seperti yang diberitakan oleh media sosial, baru-baru ini di kota Padang Sumatera Barat, seorang laki-laki yang tergolong melenium yang menjadi Caleg DPRD kota itu dari  partai tertentu, telah  tega memperkosa dua anak perempuan di bawah umur.

Berkait dengan kasus ini, KPK telah menggariskan bahwa  tiga jenis tindak kejahatan yang tidak  bisa ditelolir, yakni korupsi, narkoba dan memperkosa anak perempuan di bawah umur. Jika perilaku ybs. memang demikian, maka dia tidak lolos dalam pencalegannya.

Di Pringsewu provinsi Lampung, ayah kandung memperkosa anak perempuannya yang distabilitas, dan secara bergantian dilakukan pula oleh kedua anak lelakinya ( yang juga termasuk  mellenium)

Perilaku lainnya, para remaja antar kampung di wilayah Jabodetabek, acap kali melakukan tawuran massal dengan menggunakan sajam (senjata tajam). Korbanpun berjatuhan. di antaranya luka-luka yang cukup serius dan bahkan meninggal dunia.

Belum lagi, para remaja yang sudah terlanjur biasa mengkonsumsi minuman  alkohol oplosan racikan pedagang tertentu. Dengan berperilaku di luar kesadarannya akibat pengaruh minuman itu, mereka menimbulkan onar. Masyarakat setempat, pasti merasa terganggu.

Tak jauh berbeda akibat yang ditimbulkan oleh sekelompok yang tergolong mellenium, yang sudah tercandu dengan narkoba. Mereka bergerombol dalam waktu tertentu pada malam hari di suatu tempat, untuk menikmati narkoba bersama-sama.

Selain berdampak melanggar hukum, juga tidak sadarkan diri, serta berbuat kegaduhan di wilayahnya. Penegak hukum sudah melakukan tindakan, demikian  yang dikabarkan oleh media massa.

Mungkin kasus ini dinilai tidak signifikan bila dibandingkan dengan jumlah generasi muda bangsa kita yang sukses dan berperilaku positif.

Namun paparan itu menggambarkan secara  nyata, bahwa mereka itu yang tidak produktif bagi diri dan juga bangsanya yang tidak terpuji dan pasti menghambat dan menghancurkan masa depannya sendiri.  Mereka disibukkan oleh masalahnya sendiri.

Marilah kita berinisiatif mengambil untuk bagian memberikan kepedulian terhadap mereka di sekitar tempat tinggal kita dan jangan dibiarkan larut dengan budaya negatif yang berkepanjangan. Merekapun  juga bagian dari bangsa kita. (*)

Penulis adalah Ketua Pimpinan Pusat Kolektif Kosgoro 1957