Siswa Indonesia Berhasil Ciptakan Alat Deteksi Diabetes Tanpa Jarum

0
?

JAKARTA (Suara Karya): Celestine Wenardy (16), siswi kelas 10 dari British School Jakarta berhasil meraih juara dalam kompetisi dunia “Google Science Fair” 2019 di Silicon Valley, Amerika pada akhir Juli lalu. Hasil penelitiannya berupa alat deteksi penyakit diabetes tanpa sampel darah dengan menggunakan jarum.

“Cukup masukan jari telunjuk ke lubang yang ada dalam alat deteksi. Yang diukur adalah suhu tubuh lewat jari,” kata Celestine usai audensi dengan Menteri Kesehatan (Menkes), Nila FA Moeloek di Jakarta, Senin (26/8/2019).

Selain celestine, Menkes Nila Moeloek juga mengundang trio siswa dari SMA di Palangkaraya yang berhasil menemukan ramuan obat kanker dari tumbuhan akar bajakah. Ketiga siswa itu adalah Ijitra Ali Akbar, Arsya Aurealya Maharani dan Anggina Rafit.

Celestine menjelaskan, pihaknya tertarik meneliti alat ukur diabetes karena tahu betapa sakitnya dilakukan tusuk jarum saat mengukur kadar gula dalam darah. Sebuah penelitian 30 tahun lalu membahas soal suhu tubuh pada pasien diabetes.

“Lalu terpikir untuk membuat alat untuk mengukur kadar gula darah dari panas tubuh,” ujar Celestine yang mengirimkan idenya ke sebuah kompetisi tahunan yang diikuti remaja dari seluruh dunia bernama “Google Science Fair 2019”.

Proyek alat glukometer non-invasif yang dikembangkan Celestine berhasil meraih Virgin Galactic Pioneer Award dan hadiah berupa beasiswa pendidikan sebesar 15.000 dollar Amerika. Selain, mengunjungi kantor pusat Virgin Galactic, dan bertemu mentor teknik dari Virgin Galactic selama satu tahun.

Metode interferometri dan teknologi termal dalam alat glukometer gagasan Celestine dapat mengukur konsentrasi kadar gula dalam darah tanpa harus mengambil sampel darah. Hal itu penting karena tak sedikit masyarakat Indonesia, khususnya di pedalaman, yang masih takut dengan jarum suntik.

“Kami hanya butuh panas pada kulit untuk menguji kadar glukosa dalam darah. Caranya, masukan jari ke lubang yang ada pada alat, lalu geser jari sedikit supaya cahaya bisa masuk lewat jari. Tunggu sekitar 10 detik hingga kulit memanas, lalu alat akan memberi tahu kadar gula dalam darah Anda,” tuturnya.

Glukometer itu bisa dibilang sangat akurat, mencapai koefisien determinasi 0,843 dengan harga sekitar 63 dollar Ametika, lebih murah dibanding glukometer invasif di pasaran yang dapat mencapai seribu dollar Amerika.

Celestine berharap, alat itu dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang memerlukan deteksi penyakit melalui darah. Hal itu menjawab beberapa kendala isu diabetes yang ada di Indonesia karena harganya yang lebih murah serta mudah digunakan.

Celestine mengaku sangat suka meneliti hal-hal yang terkait dengan kesehatan manusia. Waktunya banyak dihabiskan di laboratorium dari sebuah sekolah menengah atas berstatus internasional itu. Dalam waktu dekat ia akan mengurus paten atas produk temuannya tersebut. (Tri Wahyuni)