SMKN 2 Subang Jadi Sekolah Contoh Bidang Pertanian

0

JAKARTA (Suara Karya): Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Subang menjadi sekolah percontohan bidang pertanian. Baik kurikulum, maupun tenaga ahlinya dapat bantuan dari pemerintah Belanda.

“Sekitar 70 persen kurikulum yang dikembangkan di SMKN 2 Subang ini mengadopsi penuh kurikulum pendidikan pertanian di Belanda,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy saat berkunjung ke SMKN 2 Subang, Jawa Barat, Jumat (3/8).

Hadir dalam kesempatan itu, Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Moeldoko dan Direktur Nuffic Neso Indonesia, Mervin Bakker.

Muhadjir menjelaskan, kerja sama Indonesia dengan Belanda dalam pengembangan sekolah kejuruan bidang pertanian itu dilakukan selama 3 tahun. Selain ada sejumlah tenaga ahli Belanda datang ke Indonesia, sekitar 70 guru SMKN 2 Subang akan belajar ke Belanda.

“Belanda kan terkenal dengan sistem pertanian modernnya. Bahkan, Belanda menjadi pemasok atas dua pertiga kebutuhan pangan Eropa. Jadi tidak salah jika kita belajar pertanian ke Belanda,” ujarnya.

Ditanya jumlah sekolah yang dapat bantuan dari kerja sama itu, Mendikbud mengatakan, pemerintah Belanda ingin fokus pada 1 sekolah yaitu SMKN 2 Subang. Setelah itu, baru dikembangkan ke 1150 SMK pertanian yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Intervensi ini baru bisa dilakukan pada sekitar 25 persen SMK pertanian milik pemerintah. Jika kami persilakan swasta jika ingin mengadopsi kurikulumnya,” kata nya.

Muhadjir menuturkan, program kerja sama itu merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mendongkrak sektor pertanian di Indonesia, yang dimulai dari bangku pendidikan menengah. Kurikulum fokus pada empat prioritas utama.

“Pertama adalah agronomi, yakni ilmu budi daya, yang mencakup pertanahan, kepemilikan lahan, hingga pemupukan. Kedua, teknologi mekanisasi pertanian. Siswa diberi pengetahuan untuk menguasai teknologi dan alat-alat berat,” tuturnya.

Ditambahkan, siswa ditekankan pada teknologi pengolahan hasil. Dari keahlian itu, siswa SMK Pertanian diajarkan agrobisnis dengan tujuan memperoleh pengetahuan untuk menjadi pelaku bisnis di pertanian.

“Peminat SMK pertanian setiap tahun terus menurun. Generasi muda kita tak mau petani, karena melihat kondisi bapak atau keluarganya yang serba kekurangan. Untuk itu, kurikulum pertanian kita ubah agar profesi petani lebih modern dan bergengsi,” ucap Muhadjir yang pada kesempatan itu didampingi Direktur Pembinaan SMK Kemdikbud, Bahrun. (Tri Wahyuni)