Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Libatkan Organisasi PGRI

0

JAKARTA (Suara Karya): Sosialisasi Empat Pilar MPR RI akan melibatkan organisasi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Penandatanganan naskah kerja sama ditandatangani Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet) dan Ketua Umum PGRI, Unifah Rosyidi disela Konferensi Kerja Nasional (Konkernas) PGRI, di Jakarta, Jumat (21/2/20).

Acara yang dibuka Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin itu juga dihadiri Mantan Wapres Jusuf Kalla yang kini menjabat sebagai Dewan Pembina PGRI dan Menteri Sosial (Mensos) Juliari Batubara.

Lewat kerja sama itu, lanjut Bamsoet, guru tak hanya menjadi agen pemasyarakatan Empat Pilar MPR RI di kalangan internal, tetapi juga kepada peserta didiknya. Mereka diajak untuk bersama-sama dalam menjaga dan merawat Indonesia melalui Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhineka Tunggal Ika.

“Tidak adanya mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) mulai dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi sejak 1994, membuat generasi 90-an jadi putus hubungan dengan ideologi bangsa, yaitu Pancasila,” ujarnya.

Ditambahkan, mata pelajaran PMP sebenarnya tidak sepenuhnya hilang pada 1994. Mata pelajaran itu melebur ke dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN), lalu berubah menjadi Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) pada 2003.

“Meski dalam PKN juga memuat tentang Pancasila, namun pembelajarannya bersifat pengetahuan, bukan pemahaman,” ujarnya.

Padahal, lanjut Bamsoet, keberadaan mata pelajaran PMP merupakan amanat Ketetapan MPR No IV tahun 1973 yang disempurnakan pada tahun 1978 dan 1983. Akibat ketiadaan PMP, generasi muda Indonesia seperti kehilangan pegangan ideologi. Kondisi itu dengan mudah disusupi ideologi transnasional yang tak sejalan jati diri bangsa.

“Pancasila yang digali Bung Karno itu bersumber dari jati diri bangsa Indonesia. Kita sebagai bangsa lupa, karena terlalu asyik memakai ‘make up’ jati diri bangsa lain,” ujarnya.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI itu menjelaskan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) saat ini sedang menelaah untuk menghidupkan kembali mata pelajaran PMP. Sambil menunggu hal itu terwujud, MPR RI bekerja sama dengan PGRI untuk sosialisasi Empat Pilar di kalangan guru dan peserta didik pada semua jenjang pendidikan.

Wakil Ketua KADIN Indonesia itu menambahkan, selain dengan PGRI, MPR RI juga bekerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) untuk sosialisasi Empat Pilar MPR RI, Persatuan Wartawan Indonesia, hingga ke berbagai pesantren dan institusi pendidikan keagamaan lainnya.

“MPR RI tak akan tinggal diam melihat generasi bangsa direnggut ideologi transnasional. Kita punya Pancasila, yang terbukti berhasil mengikat rasa persaudaraan berbagai suku, agama, ras, dan golongan di Indonesia,” tuturnya.

Menurut Bamsoet, jika saat ini kenyamanan hidup terganggu akibat ulah segelintir orang, tak lebih merupakan kesalahan kita sebagai sebuah bangsa yang mulai mengabaikan Pancasila.

“Porak porandanya rasa kebangsaan yang akhir-akhir terjadi, bisa jadi karena ulah pihak-pihak asing yang menginfiltrasi ideologi transnasional akibat ketiadaan Pancasila di bangku-bangku sekolah, dunia usaha, pekerjaan, hingga kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.

Karena itu, lanjut Bamsoet, MPR RI mengetuk kesadaran seluruh elemen bangsa untuk kembali ke jati diri nasional melalui Empat Pilar MPR RI. “Kita bangsa besar yang kuat dan dahsyat, dengan Pancasila sebagai pedoman ideologinya,” kata Bamsoet menegaskan. (Tri Wahyuni)