STP Trisakti Ajarkan Mahasiswa Berbisnis Sejak Dini

0

JAKARTA (Suara Karya): Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti dalam ajarkan mata kuliah (matkul) kewirausahaan sejak dini. Dengan demikian, lulusannya tak melulu mencari pekerjaan, tetapi juga bisa membuka peluang usaha baru.

“Kampus tak boleh menutup mata atas ketaktersediaan lapangan pekerjaan bagi lulusannya. Karena itu, kami sangat mendukung mahasiswa yang ingin berbisnis setelah lulus,” kata Ketua STP Trisakti, Fetty Asmaniati saat melihat pelaksanaan “Business Concept Gallery” di kampus Tanah Kusir, Jakarta, Rabu (15/5/2019).

Dalam kesempatan itu, Fetty didampingi Kepala Departemen Perhotelan, STP Trisakti, Agus Riyadi dan dosen kewirausahaan STP Trisakti, Novita Widyastuti.

Fetty menjelaskan, matkul kewirausahaan diberikan kepada seluruh mahasiswa, tanpa melihat program studinya sejak semester dua. Di akhir pembelajaran, mahasiswa diminta mengembangkan konsep bisnis dalam bentuk produk, tak sekadar ide semata.

“Mahasiswa jadi terlatih bagaimana mewujudkan ide-ide menjadi produk nyata, lalu menjualnya. Konsep bisnis perlu dipahami mahasiswa, karena bukan perkara mudah dalam menjual produk,” ujarnya.

Dosen kewirausahaan Novita Widyastuti menambahkan, mahasiswa diajarkan konsep bisnis dalam bentuk teori. Konsep itu kemudian diwujudkan dalam bentuk desain produk, kemasan, menghitung harga jual hingga desain promosinya.

“Konsep bisnis dibuat berdasarkan hasil observasi di lapangan. Apa yang sedang tren di masyarakat. Setelah itu, meteka membuat bisnis model kanvasnya. Dengan rincian, siapa calon konsumen, media yang digunakan untuk promosi, dan membuat kemasan yang menarik,” tuturnya.

Untuk realisasinya, mahasiswa diminta membentuk kelompok yang terdiri atas 5-6 orang. Total dalam 1 angkatan ada 15 kelompok bisnis. Modal usaha dibatasi bekisar Rp200 ribu hingga Rp500 ribu.

“Sengaja modal ditetapkan kecil, agar mahasiswa tahu bahwa bisnis itu bisa dimulai dari dana Rp500 ribu. Jadi tak ada alasan untuk tidak bisa menciptakan bisnis dengan alasan tak ada modal,” ucap Novita menegaskan.

Jika sudah paham makna kewirausahaan, lanjut Novita, mahasiswa ajarkan “ilmu” yang rumit yaitu rencana bisnis (business plan). Dibilang rumit, karena menyangkut ilmu lain, seperti manajemen keuangan dan dasar-dasar akuntansi dan lainnya. Pameran produk dibuat dalam bentuk beda, yaitu Expo Food Festival.

Salah satu mahasiswa kewirausahaan, Axel Scala mengaku awalnya kesulitan dalam membuat produk yang akan dibuat. Akhirnya dipilih produk coklat khas Jepang, Fave yang belum ada di pasar dalam negeri. “Kami belum tahu apakah produk ini bakal laris, mengingat harga jualnya yang agak mahal,” katanya.

Hal senada dikemukakan Hisya Mahendra, yang membuat kaos yang menggambarkan ke-Indonesiaan. Kaos itu bisa menjadi oleh-oleh turis mancanegara yang tertarik dengan Indonesia. (Tri Wahyuni)