STP Trisakti Tuan Rumah Diskusi Pariwisata Ramah Muslim

0

JAKARTA (Suara Karya): Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti bersama Yayasan Hari Pariwisata Dunia Indonesia menggelar webinar bertajuk pariwisata ramah muslim (muslim friendly tourism). Hasilnya akan jadi masukan bagi pemerintah untuk pengembangan pariwisata di Indonesia kedepan.

Wakil Ketua IV STP Trisakti, Ismeth E Oesman dalam sambutannya menyatakan, diskusi tersebut merupakan ‘talkshow seri’ ke 4 yang dilaksanakan pada tanggal 27 setiap bulannya oleh Perguruan Tinggi Pariwisata sebagai bagian peringatan Hari Pariwisata Dunia di Indonesia.

Diskusi dilakukan karena kondisi pariwisata dunia saat ini memerlukan perhatian untuk menghadapi kebangkitan Pariwisata setelah pandemi covid-19. Untuk itu, diperlukan strategi dan solusi yang dibahas para pembicara dalam diskusi tersebut.

Seperti dikemukakan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahudin Uno saat membuka secara resmi webinar tersebut, Selasa (27/4/21) pihaknya mendukung pengembangan pariwisata ramah muslim. Apalagi, wisata semacam itu kini tengah menjadi trend global.

“Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, kita harus ambil kesempatan. Apalagi State The Global Economic Report 2019 menyebut, spending money dari wisata ramah muslim ini mencapai 12 persen dari total pariwisata dunia,” ujarnya.

Jika pendapatan pariwisata dunia mencapai 1,66 triliun dolar, lanjut Sandiaga, maka wisata ramah muslim berhasil meraup sekitar 203 miliar dolar. “Sebuah angka yang tidak kecil,” ucap pria yang biasa disapa bang Sandi tersebut.

Padahal, menurut Sandiaga, komponen utama menuju wisata ramah muslim sudah menjadi bagian dari Indonesia. Seperti hotel, keuangan, makanan dan fasilitas lain yang berlabel halal serta penyediaan tempat ibadah yang mumpuni.

“Dan yang tak kalah penting adalah dalam Islam kita juga mengedepankan kesehatan, kebersihan dan keamanan di semua tempat-tempat wisata. Tunjukkan bahwa Islam itu adalah agama yang ‘rahmatan lil alamiin’. “Semua syarat itu baru bisa kita capai, jika kita bersatu padu. Karena pemerintah tidak bisa melakukan sendirian,” ucap Sandi menegaskan.

Pembicara dalam webinar tersebut adalah Deputi Bidang Produk Wisata Dan Penyelenggara Kegiatan (Event) Kemenparekraf/Badan Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif, Rizki Handayani Mustafa; Ketua Umum Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI), Riyanto Sofyan; CEO Adinda Azahra Group, Priyadi Abadi; Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, Lalu Mohammad Faozal dan Founder Asosiasi Chef Halal Indonesia, Muhammad Suherman.

Deputi Bidang Produk Wisata Dan Penyelenggara Kegiatan (Event) Kemenparekraf/Badan Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Rizki Handayani mengemukakan, wisata ramah muslim itu bukan soal keramahan, tetapi kemudahan akses bagi wisatawan untuk dapat makanan halal, menjalankan beribadah di tempat wisata dan toilet dengan pembilas air.

“Kalau saya lihat mall-mall besar di Indonesia sekarang sudah menyediakan tempat shalat dan toilet dengan pembilasan air. Tapi belum semua tempat wisata menyediakan fasilitas itu,” kata Rizki.

Ia kembali menekankan, wisata ramah muslim itu bukanlah meng-Islam-kan destinasi wisata. Tetapi menyediakan fasilitas bagi wisata muslim agar tetap bisa beribadah saat berwisata, bukan mendirikan banyak masjid dimana-mana.

“Karena wisatawan itu ingin melihat alam atau keindahan budaya, bukan ingin melihat masjid. Kecuali paketnya adalah wisata religi atau ziarah. Jadi memang harus dibedakan,” ucapnya.

Inti dari wisata ramah muslim adalah wisatawan mengejar keunikan sesuatu dari negara lain yang dilihatnya tidak ada di negaranya sendiri. Jadi, kemudahan dalam beribadah adalah tambahan agar wisata merasa nyaman.

“Kita punya banyak daerah wisata yang kayak akan budaya, tetapi penduduknya hampir sebagian besar muslim, seperti Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat atau Jawa Barat yang bisa dikembangkan lagi,” ujarnya.

Dan tak kalah penting adalah transportasi untuk wisata darat yang waktunya panjang. Penting untuk menentukan titik dimana wisatawan bisa istirahat sambil menjalankan ibadah di masjid yang dilalui. Berikut guide yang pandai bercerita tentang keindahan budaya yang ada di daerah tersebut. Sehingga perjalanan panjang bisa berjalan menyenangkan.

“Guide juga harus pandai menyakinkan wisatawan untuk membeli souvenir yang hanya ada satu-satunya di wilayah itu. Dampak dari penjualan souvenir adalah perekonomian masyarakat ikut meningkat,” katanya.

Soal kendala adalah penerbangan langsung ke Indonesia masih terbilang sedikit. Dibandingkan dengan Singapura yang menjadi tempat transit, maka perlu promosi yang kuat agar Indonesia juga dipandang sebagai destinasi wisata yang tak kalah menarik.

Agar daerah wisata di Indonesia mematuhi CHSE (Cleanness, Health, Safety and Environment), lanjut Rizki, pemerintah akan mengeluarkan sertifikat CHSE. Dan pemerintah akan mendukung daerah wisata yang telah memiliki sertifikat CHSE.

“Kami minta daerah yang ingin didukung pemerintah penuh mulai mengajukan sertifikat CHSE. Sertifikat tersebut penting untuk kepentingan bersama,” kata Rizki menandaskan.

CEO Adinda Azzahra Group, Priyadi Abadi saat ditanya kemungkinan pengembangan virtual tour di masa pandemi mengatakan, hal itu kurang menarik minat wisatawan. Karena interaksi langsung dengan alam dan penduduk setempat adalah inti dari perjalanan wisata.

“Memang bisa dikembangkan virtual tour, tetapi sensasi berbeda jika pergi langsung,” katanya.

Ia mencontohkan momentum Turki yang membuka negaranya saat mengubah museum Hagia Sofia sebagai masjid di masa pandemi. Wisatawan berbondong-bondong ke negara tersebut meski harus menjalani karantina selama beberapa hari.

“Virtual tour itu 100 persen tidak bisa menggantikan tour langsung,” ucapnya.

Hal senada dikemukakan Founder Asosiasi Chef Halal Indonesia, Muhammad Suherman. Pihaknya beberapa kali menggelar halal food tourism dan menarik perhatian dunia. “Sekarang kami ingin menjual makanan halal Indonesia dengan cara mengajak wisatawan untuk belajar masakan khusus,” katanya.

Ia mencontohkan makanan Indonesia yang menjadikan nomor satu di dunia, yaitu rendang. “Sensasi belajar langsung di dapur akan berbeda dengan belajar dari youtube. Sensasi semacam itu yang akan dijual kepada wisatawan. Lengkap dengan sejarah makanan dan bumbu-bumbu pelengkapnya,” ucap Suherman.

Hal senada dikemukakan Ketua Umum Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI), Riyanto Sofyan. Katanya, promosi wisata ramah muslim ini harus digembar gemborkan melalui media sosial yang akan menarik wisatawan ke Indonesia. “Kini platform promosi bisa dilakukan secara digital. Hal itu akan jadi pilihan saat ada kesempatan untuk traveling lagi,” ujarnya.

Wisata dengan kekhususan itu, lanjut Riyanto, menarik komunitas-komunitas di luar negeri untuk datang. Ia mencontohkan vegan tour yang dilakukan banyak negara. Karena mencicipi makanan vegan di negara lain menjadi sensasi yang berbeda.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, Lalu Mohammad Faozal mengatakan, pihaknya terus melakukan pengembangan destinasi wisata baru untuk menyambut wisata ramah muslim. Apalagi pihaknya mendapat dukungan dari pemerintah.

“Kami ingin mempertahankan prestasi yang diraih NTB selama ini dari World Halal Tourism, sekaligus pengembangan lainnya agar semakin baik lagi,” kata Lalu menandaskan. (Tri Wahyuni)