Strategi Penerapan Literasi Sains dalam Proses Pembelajaran di Sekolah Dasar

0

JAKARTA (Suatu Karya) : Menguatkan literasi sains dan teknologi dalam proses pembelajaran siswa Sekolah Dasar (SD), program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Jakarta bekerja sama dengan Pemda DKI Jakarta memberikan Workshop pada guru-guru SD di Jatinegara Kaum.

“Workshop yang diikuti guru-guru di SDN Jatinegara Kaum 14 Pagi datang dari SDN Jatinegara Kaum 01 Pagi, SDN Jatinegara Kaum 03 Pagi, SDN Jatinegara Kaum 05 Pagi, SDN Jatinegara Kaum 06 Pagi, SDN Jatinegara Kaum 07 Pagi, SDN Jatinegara Kaum 11 Pagi, SDN Jatinegara Kaum 14 Pagi, dan SDN Jatinegara Kaum 15 Pagi, ‘tegas Dosen Pembimbing PKM UNJ, Iwan Sugihartono di Jakarta, kemarin.

Iwan menjelaskan, secara makna pengertian literasi berhubungan dengan kemampuan manusia dalam mengolah dan memahami berbagai informasi melalui membaca dan menulis. Namun, bila kita pahami secara lebih detail, literasi tidak hanya dimaknai secara sempit membaca dan menulis saja, literasi dalam hal ini juga mencakup keterampilan manusia dalam berpikir dengan menggunakan sumber-sumber pengetahuan, baik dalam bentuk cetak, visual, digital, dan sebagainya.

Lalu bagaimana bila konteks literasi ini kita hubungkan dengan perkembangan sains dan teknologi? Pesatnya perkembangan teknologi katanya, memerlukan kecakapan sains sehingga kita dituntut untuk mampu mencetak sumber daya manusia unggul.

Unggul dalam hal ini diartikan sebagai manusia yang memiliki kompetensi utama yaitu literasi, berpikir inventif, komunikasi, serta produktivitas tinggi. Selanjutnya, dalam World Economic Forum tahun 2016, telah disepakati bahwa dalam proses pembelajaran harus mampu menghasilkan siswa yang memiliki keterampilan yang mampu diandalkan untuk menghadapi tantangan pesatnya teknologi.

Salah satu rekomendasi keterampilan yang wajib dikuasai adalah literasi sains. Saat ini literasi sains siswa siswi Indonesia dianggap masih rendah. Hal tersebut mengacu pada laporan Programme for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organisation untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) bahwa pada tahun 2018 peringkat literasi sains siswa siswi Indonesia berada di urutan ke 71 dari 74 negara. Tentu saja ini menjadi pekerjaan rumah tidak hanya guru dan orang tua, namun juga civitas akademik di perguruan tinggi khususnya lembaga pendidikan tenaga kependidikan.

Untuk itu, dalam rangka memberikan kontribusi terhadap peningkatan literasi sains tingkat sekolah dasar, tim pengabdian kepada masyarakat terintegrasi kuliah kerja nyata Universitas Negeri Jakarta yang terdiri dari enam orang mahasiswa Fisika, yaitu: Ferdiansyah Faturachman Achmad, Ridha Octa Alhuriyyah Azzahra, Marliana Candra Kartika, Febriana Yunhas Putri, Rania Virda Sukmaningsih, dan Muhamad Fajar.

Kegiatan ini tentu saja memberikan bukti kepedulian mahasiswa terhadap persoalan pendidikan yang ada di masyarakat.

Iwan Sugihartono melanjutkan, kegiatan pengabdian kepada masyarakat terintegrasi kuliah kerja nyata berharap literasi sains menjadi budaya dan sikap ilmiah siswa dapat dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mampu menciptakan siswa yang memiliki kecakapan sains, beradab dan berbudaya serta memiliki kreativitas berinovasi dalam kancah pesatnya perkembangan teknologi.

Sedang Teti Surtikah selaku kepala sekolah SDN Jatinegara Kaum 14 Pagi mengatakan, memandang bahwa implementasi literasi sains merupakan tantangan bagi guru sekolah dasar. Ia juga menyampaikan bahwa gencarnya arus terknologi saat ini memerlukan kecakapan sains yang baik agar siswa di masa mendatang tidak hanya sebagai pengguna teknologi saja namun dapat menjadi inventor dalam kemajuan teknologi.

Sedang Lurah Jatinegara Kaum dalam sambutannya memandang bahwa kegiatan workshop literasi sains sebagai implementasi kerjasama berkelanjutan program pengabdian kepada masyarakat antara Universitas Negeri Jakarta dengan Pemda DKI Jakarta khususnya di Jatinegara Kaum harus terus berjalan agar sinergisitas antara kampus dengan masyarakat dapat memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kesejahteraan dan kualitas masyarakat khususnya di lingkungan Jatinegara Kaum.

Antusiasme peserta workshop sangat terlihat tatkala narasumber utama memaparkan wawasannya tentang pentingnya literasi sains dan teknologi dalam proses pembelajaran.

Adapun Jaja Jamaludin S.Pd, M.Si sebagai pengamat pendidikan meyakini bahwa, literasi sains mutlak harus dimiliki oleh siswa sekolah dasar. Guru sebagai peletak dasar literasi sains harus mampu memberikan stimulasi bagi siswa untuk berpikir secara kritis dan saintifik melalui pendekatan kontekstual dan holistik.

Konsep sains yang memiliki nilai kejujuran secara alamiah harus mampu dipahami oleh pendidik secara substantif sehingga implementasi dalam proses pembelajaran dapat memberikan wawasan kepada siswa secara komprehensif. Jaja memberikan ilustrasi sifat alamiah air yang mengalir bila memiliki kemiringan tertentu harus menjadi inspirasi untuk membuat lingkungan memiliki drainase yang baik sehingga bebas banjir.

Literasi sains siswa menurut Jaja juga dapat distiimulasi oleh pemahaman substansi dari guru sebagai fasilitator pendidikan. Pendapat tersebut juga dikuatkan dengan peragaan sains sederhana oleh Iwan Sugihartono selaku dosen pembimbing sambil memeragakan hubungan luas penampang benda dengan hambatan udara yang diharapkan mampu menginspirasi konsep aerodinamika dari suatu benda.

Guru yang inspiratif dan memiliki kemampuan substansi yang tentunya dapat meningkatkan rasa ingin tau siswa dan keinginan kuat siswa untuk memperoleh pengalaman belajar secara langsung. Melalui workshop dari CV Jyotis Cemerlang memeragakan bagaimana besaran-besaran fisika dapat terdeteksi oleh sensor cerdas dan tervisualisasi secara grafis.

Hal ini menguatkan para guru bahwa sains yang merupakan fenomena alam dapat diukur dan divisualisasikan secara grafis sehingga siswa dapat melakukan analisis hubungan alamiah yang mempengaruhinya. Peragaan sains ini membuktikan bahwa sains bukanlah rumus matematika yang rumit namun merupakan fenomena alam yang dapat diukur dan diamati. Jaja juga menggarisbawahi untuk memahaminya harus secara kontekstual dan holistik sehingga siswa pada akhirnya dapat menjadikan metode ilmiah sebagai landasan dalam berpikir dan bersikap.

Jaja Jamaludin dalam sesi akhir menekankan bahwa sains, teknologi, masyarakat, dan lingkungan adalah suatu siklus yang berkorelasi. Artinya di dalam proses pembelajaran yang memiliki aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik harus mampu memberikan wawasan sains yang mampu memberikan kreativitas dalam menciptakan teknologi untuk memecahkan berbagai persoalan sosial yang ada di dalam masyarakat. (Warso)

Johansyah Lubis :
Sosialisasi LTAD Cabang Pencak Silat, Mengacu pada IPTEK

JAKARTA (Suara Karya) : Dunia olahraga mengalami perkembangan cukup cepat, baik dalam segi kualitas atlet maupun event yang diikutinya. Upaya menjawab semua itu, PB IPSI bekerja sama dengan Deputi IV Bidang pembinaan prestasi Kemenpora memberikan sosialisasi pembinaan cabang olahraga pencak silat yang mengacu model Long-Term Athlete Development (LTAD).

“Saya berharap sosialisasi LTAD dalam pembinaan cabang pencak silat yang diikuti 64 pelatih dari Jabodetabek itu mampu menjawab tantangan pembinaan atlet yang mengacu pada pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) olahraga, ” tegas Dekan Fakultas Ilmu Olahraga UNJ,
Johansyah Lubis di GOR UNJ Jakarta, kemarin.

Sosialisasi LTAD cabang pencak silat dibuka langsung Asisten Deputi IV Bidang Pembibitan dan IPTEK Kemenpora, Bayu Rahadian, dan dihadiri pembicara Wakil Ketua Umum PB IPSI, Tunas Dwidharto, dan Agung Robianto, Dosen FIK UNJ.

Sebagai pembicara Johansyah yang juga mantan pesilat dunia menegaskan, berbagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan prestasi pencak silat, diantaranya, meningkatkan intensitas penyelenggaraan kejuaraan pencak silat, baik ditingkat nasional maupun internasional.

Begitu juga dengan menyelenggarakan pelatihan bagi pelatih pencak silat dan
menyelenggarakan pelatihan bagi wasit-juri dan menyelenggarakan pusat pendidikan dan pelatihan pencak silat bagi pelajar serta mahasiswa.

Secara umum, pembinaan olahraga dapat diklasifikasikan dalam dua kategori, yaitu, spesialisasi Dini (Early Specialization Model) dan Spesialisasi Akhir (Late Specialization Model). Olahraga spesialisasi dini (early specialization model) memerlukan model empat fase, yaitu: Training to Train stage, Training to Compete, Training to Win, dan Retirement
/Retainment.

Berdasarkan tinjauan karakteristik, katanya, cabang olahraga pencak silat termasuk dalam cabang olahraga spesialisasi akhir. Untuk itu, pembinaan cabang olahraga pencak silat perlu mengacu model Long-Term Athlete Development (LTAD) yang disosialisasikan pada para pelatih pencak silat tersebut.

Menurutnya, model LTAD Balyi telah digunakan sebagai patokan di berbagai negara dalam melakukan pembinaan atlet jangka panjang. Oleh karena penerapan model tersebut akan mempermudah pembagian tanggung jawab segenap unsur yang terlibat dalam proses pembinaan.

Dengan demikian jenjang karir atlet dapat diarahkan dan dipantau mulai dari awal sampai dengan puncak prestasi dan bahkan setelah pensiun sebagai atlet. Selain itu, jenjang kompetisi juga dapat ditata lebih baik sesuai tahapan tumbuh kembang atlet (anak).

Menurutnya, tahap-tahap LTAD dalam. cabang pencak silat memiliki klasifikasi seperti halnya Kategori Tunggal, kategori tanding, kategori ganda,  dan kategori  regu. Namun semua pembinaannya tetap mengacu pada IPTK, dengan harapan kesehatan dan keselamatan atlet tetap terjaga hingga mencapai prestasi puncak era keemasan. (Warso)