Studi Terbaru: Vaksin Covid-19 Efektif Cegah Kesakitan dan Kematian

0

JAKARTA (Suara Karya): Hasil evaluasi atas keefektivitasan vaksin covid-19 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), Kementerian Kesehatan (Kemkes) menunjukkan vaksin mampu menurunkan risiko terinfeksi virus corona disease (covid-19).

“Dengan demikian, vaksin covid-19 efektif dalam mencegah kesakitan kematian, terutama bagi tenaga kesehatan (nakes),” kata Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemkes, Siti Nadia Tarmidzi dalam siaran pers, Sabtu (14/8/21).

Nadia menyebut, studi tersebut dilakukan terhadap 71.455 tenaga kesehatan di DKI Jakarta, meliputi perawat, bidan, dokter, teknisi, dan tenaga umum lain sepanjang periode Januari-Juni 2021.

Studi itu mengamati kasus konfirmasi positif covid-19, perawatan dan kematian pada 3 kelompok nakes yaitu mereka yang sudah vaksinasi dosis pertama, vaksinasi lengkap (dosis kedua) dan yang belum divaksinasi. Para nakes mendapat vaksin Sinovac.

“Saat laporan iji diturunkan, ada sekitar 143 ribu nakes di DKI Jakarta yang dapat vaksinasi dosis pertama dan 125.431 nakes vaksinasi dosis kedua,” ujarnya.

Studi dilakukan dalam kondisi pandemi yang dinamis, mengingat sepanjang Januari-Juni 2021 terjadi beberapa gelombang peningkatan kasus covid-19 serta dinamika komposisi ‘variants of concern’ yaitu adanya mutasi varian Delta, baik di DKI Jakarta maupun secara nasional.

“Sebanyak 5 persen nakes yang telah divaksinasi lengkap dilaporkan terkonfirmasi covid-19 pada periode April-Juni 2021. Jumlah itu lebih besar dibanding nakes yang terkonfirmasi covid-19 pada periode Januari-Maret 2021 sebesar 0.98 persen,” ucap Nadia.

Ternyata, lanjut Nadia, jumlah nakes yang telah divaksinasi lengkap yang harus dirawat jauh lebih rendah (0,17 persen) ketimbang mereka yang belum divaksinasi (0,35 persen). Hal ini menunjukkan, vaksin covid-19 yang digunakan saat ini efektif terhadap mutasi virus covid-19.

“Hingga saat ini belum ada penelitian atau bukti ilmiah yang menunjukkan vaksin ternyata dapat melindungi dari virus varian baru ini. Dengan demikian, vaksin ini efektif untuk penanggulangan pandemi covid-19,” kata Nadia menegaskan.

Ditambahkan, studi juga menunjukkan angka kematian pada nakes yang belum divaksinasi jauh lebih besar dibandingkan nakes yang sudah vaksinasi lengkap. Begitu pun pada nakes yang baru dapat vaksinasi dosis pertama, jumlah mereka yang meninggal lebih banyak dibanding nakes dengan vaksinasi dosis lengkap.

Pada dua periode observasi, yaitu Januari-Maret dan April-Juni 2021, terlihat proporsi kasus meninggal karena covid-19 pada nakes yang belum divaksinasi sebesar 0,03 petsen. Angka itu tidak berbeda dengan nakes yang telah mendapat vaksin dosis pertama (0,03 persen).

“Vaksinasi dosis lengkap melindungi nakes dari risiko kematian dengan rasio 0,001 persen pada periode Januari-Maret 2021 dan 0,01 persen pada periode April-Juni 2021,” katanya.

Data tersebut memperlihatkan, vaksinasi covid-19 dosis lengkap bisa diandalkan untuk melindungi nakes dari risiko kesakitan dan kematian, akibat infeksi covid-19. Efektivitas vaksin covid-19 dosis lengkap dalam mencegah infeksi selama Januari-Maret sebesar 84 persen atau dengan kata lain, hanya 2 dari 10 orang nakes yang berpeluang terinfeksi covid-19.

“Ini menunjukkan vaksinasi covid-19 berperan dalam memperlambat risiko terpapar. Nakes yang divaksinasi lengkap relatif memiliki ketahanan yang lebih lama untuk tidak terinfeksi covid-19 dibanding nakes yang belum divaksinasi,” ujarnya.

Pada periode April-Juni 2021, ada 474 nakes yang dirawat karena terinfeksi covid-19. Namun mereka yang divaksinasi lengkap tak banyak yang dirawat atau jumlah yang dirawat berkurang hingga 6 kali lebih rendah, yaitu dari 18 persen turun menjadi ke 3,3 persen.

Data menunjukkan, lama perawatan nakes yang divaksinasi relatif lebih singkat yaitu 8-10 hari dibanding nakes yang belum divaksinasi (9-12 hari). Dari total nakes yang dirawat, 2,3 persen perlu perawatan intensif di ICU. Sebagian besar (91 persen) yang dirawat intensif adalah nakes yang belum divaksinasi atau baru dapat vaksinasi dosis pertama.

Meskipun sudah divaksinasi, Nadia berpesan agar tetap melaksanakan protokol kesehatan 3M (mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak), “Karena kemungkinan untuk terpapar virus akan tetap ada. Namun kemungkinan untuk mengalami gejala parah akan semakin kecil,” katanya menandaskan. (Tri Wahyuni)