Suami Diminta Aktif, Sperma tak Berkualitas juga Bikin Mandul

0

JAKARTA (Suara Karya): Istri selalu menjadi pihak yang paling disalahkan jika tak kunjung hamil selama perkawinan. Padahal, suami juga berperan dalam membuat kemandulan, apalagi jika spermanya tak berkualitas.

“Saya suka sebal, jika lihat istri berobat ingin hamil tanpa didampingi suaminya. Karena kehamilan itu terjadi karena peran dua pihak,” kata Kepala K-Clinic Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Grand Family, Ferdhy Suwandinata disela seminar bertajuk “Gangguan Kesuburan dan Penanganan Bayi Tabung”, di Jakarta, Minggu (10/3/2019).

Hadir dalam kesempatan itu, tim dokter K-Clinic lain yang juga ahli fertilitas, M Luky Satria dan Budi Wiweko.

Ferdhy mengemukakan, masalah infertilitas perlu mendapat perhatian karena kasus yang terus meningkat setiap tahun. Ia memperkirakan ada sekitar 4 juta pasangan usia subur di Indonesia yang mengalami gangguan kesuburan.

Faktor penyebab tingginya angka fertilitas, disebutkan, antara lain faktor usia, genetik, riwayat radiasi, kemoterapi, paparan zat kimia, riwayat penyakit tertentu dan gaya hidup. Makin tinggi usia perempuan menikah menentukan peluang kehamilannya. Disarankan menikah usia 25-35 tahun.

“Diatas usia 35 bukannya tak bisa hamil, tapi peluangnya kecil. Karena alat reproduksi semakin menua, seiring pertumbuhan usia. Karena itu, jika menikah diatas usia 35 tahun segera ke dokter untuk memeriksakan diri dan mendapat saran,” ujarnya.

Ditanya soal sperma berkualitas, Ferdhy menjelaskan, cara paling mudah dengan memperhatikan volume, warna dan bau sperma. Jika saat ejakulasi jumlah sperma yang dipancarkan sedikit, kemungkinan terjadi bisa penyumbatan dalam saluran ejakulasi.

Jika sperma normal berwarna putih kekuningan atau keabuan, tapi jika berwarna cokelat atau hijau, maka segera periksa ke dokter. Kemungkinan terjadi perdarahan atau infeksi. Sperma berbau busuk juga mengindikasi adanya infeksi.

Ditambahkan, dokter akan memeriksa secara klinis jumlah sperma. Minimal sekitar 15-20 juta/mililiter dalam sekali ejakulasi. Sperma dikatakan subur jika minimal ada 40-60 persen yang bergerak. Bentuk sperma sehat memiliki bentuk kepala bulat dan ekor yang panjang sehingga membantu pergerakannya.

“Jika kondisi sperma sudah berkualitas, maka pemeriksaan selanjutnya pada istri. Apakah rahimnya sehat, artinya ada embrio di indung telor, tidak terjadi penyempitan karena adanya miom, kista atau tumor. Jika rahim juga sehat, maka pasien dianjurkan untuk ikut program inseminasi buatan,” tuturnya.

Dijelaskan, inseminasi buatan dilakukan dengan cara “mencuci” sperma dari air mani pria untuk mendapatkan sperma terbaik. Sperma tersebut kemudian dimasukkan melalui kateter. Kateter ini akan disambungkan ke dalam leher rahim agar langsung menuju rahim.

“Setelah itu sperma akan dengan sendirinya menemukan cara untuk mencapai tuba falopi dan menemukan sel telur. Proses mencuci sperma ini juga bisa digunakan untuk memilih jenis kelamin anak. Namun, pasien jarang minta hal semacam itu. Yang penting mereka bisa hamil,” katanya.

Ditanya soal tingkat keberhasilnya, Ferdhy mengatakan, sekitar 25-30 persen. Meski angkanya terlihat kecil, peluang untuk mendapat anak masih ada.

“Biasanya pasien ikut inseminasi 2-4 kali baru berhasil. Karena mereka sudah memahami prosedur dan tubuh sudah lebih santai,” katanya.

Jika prosedur itu tak juga berhasil, Ferdhy mengatakan, ada pilihan lewat bayi tabung. Tingkat keberhasilannya pun sekitar 25-30 persen. “Kami biasanya ambil 10 embrio satu kali sedot untuk program bayi tabung. Jadi jika tindakan pertama tak berhasil, masih ada kesempatan berikutnya sampai stok embrionya habis,” katanya.

Ditanya soal harga, Ferdhy mengatakan, inseminasi buatan sekitar Rp2-5 juta tergantung tindakan dan obat-obatan yang dipakai. Sedangkan program bayi tabung sekitar Rp39 juta. “Pasien dianjurkan untuk ikut inseminasi buatan dulu, baru bayi tabung. Pada pasangan yang sudah menikah puluhan tahun yang ikut program bayi tabung,” kata Ferdhy menandaskan. (Tri Wahyuni)