Tahun Depan Anggaran Matching Fund Kedaireka Naik jadi Rp1,4 Triliun

0

JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah akan menaikkan anggaran ‘matching fund’ Program Kedaireka yang dikelola Ditjen Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Diktiristek), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Ristek dan Teknologi (Kemdikbudristek) dari sebelumnya Rp950 miliar menjadi Rp1,4 triliun.

Kenaikan anggaran matching fund tersebut memang terbilang fantastis, karena besarannya hampir mencapai 6 kali lipat dibanding tahun ini sebesar Rp250 miliar. Hal itu terjadi setelah Presiden Joko Widodo melihat manfaat program sepanjang 2021 ini.

“Awalnya anggaran matching fund tahun 2022 diberikan Rp950 miliar, jadi ada kenaikan Rp700 miliar. Tapi belakangan, saya dapat kabar kalau anggarannya ditambah menjadi Rp1,4 triliun,” kata Sekretaris Ditjen Diktiristek, Parisriyanti Nurwandani dalam acara Sosialisasi Program Kompetisi Kampus Merdeka, di Bandung, Kamis (14/10/21).

Menurut Paris, kenaikan anggaran matching fund karena program tersebut dinilai bagus untuk pengembangan inovasi di Tanah Air. Karena sejalan dengan program pemerintah yaitu Bangga Buatan Indonesia (BBI).

“Pemerintah mendorong berbagai kegiatan yang menghasilkan produk atau jasa baru. Hal itu penting untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi pascapandemi,” ujarnya.

Paris menjelaskan, program matching fund Kedaireka mendapat cukup banyak peminat. Tercatat ada sekitar 1.200 proposal yang masuk. Namun, dari jumlah itu hanya 427 proposal yang disetujui. “Dana Rp250 miliar itu hanya cukup untuk membiayai sekitar 427 proposal. Dipilih proposal yang sesuai dengan kriteria yang kita tetapkan,” ucapnya.

Kriteria itu, disebutkan, antara lain memiliki mitra industri yang mau berbagi dana dan tanggungjawab atas keberhasilan ‘project’ yang dikerjakan tersebut. Kerja sama itu haris menghasilkan produk atau jasa baru.

Kriteria kedua adalah mitra industrinya bukan perusahaan abal-abal.

“Kita tidak melihat apakah industrinya itu besar atau kecil, yang penting adalah perusahaan itu ada, bukan sekadar papan nama. Kita tidak boleh menafikan keberadaan industri kecil. Karena bisa saja, produk atau jasa yang dikembangkan bersama perguruan tinggi akan memberi keuntungan besar,” tuturnya.

Ditanya besaran dana kontribusi industri dan dikti, Paris berharap diberikan berimbang, sebesar 50:50. Namun, tidak menutup kemungkinan kontribusi industri dibawah 50 persen. “Sebenarnya bukan soal uangnya, tetapi semangat industri dan insan dikti dalam mengembangkan inovasi,” ujarnya.

Kriteria ketiga, Paris menyebutkan, dilihat dari kelayakan ‘project’ tersebut. Karena ada satu proposal yang mencantumkan angka Rp10 miliar. Namun, setelah ditelisik, nilai ‘project’ tersebut ternyata tidak sebesar itu.

“Perlu saya tegaskan, ini bukan program bagi-bagi uang. Tetapi, upaya kita mendekatkan industri dengan insan dikti. Kami ingin industri dan dikti seperti koin. Jika satu sisi hilang, maka koin tersebut tidak laku,” kata Paris menandaskan. (Tri Wahyuni)