Tak Ada Korban Baru, Kemkes Cabut Status KLB Antraks di Gunung Kidul

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Kesehatan (Kemkes) mencabut status Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit antraks di Kabupaten Gunungkidul. Keputusan itu diambil setelah tidak ada kasus baru dalam 2 pekan terakhir, di wilayah yang menjadi lumbung sapi dan kambing di Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Status KLB bisa dicabut bila 2 minggu berturut-turut tak ditemukan kasus baru. Laporan kematian hewan di Gunung Kidul terakhir kali pada 6 Januari 2020 lalu,” kata Direktur Jenderal Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Kemkes Anung Sugihantono di Jakarta, Senin (20/1/2020).

Anung dalam kesempatan itu didampingi Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, Siti Nadia Tarmizi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Wiendra Waworuntu, Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Vensya Sihotang, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Vivi Setiawaty serta Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Soekarno Hatta, Anas Ma’ruf.

Anung menjelaskan, kasus antraks pertama kali ditemukan di Gunung Kidul setelah ada laporan satu korban meninggal akibat antraks meningitis pada 27 Desember 2019. Satu hari kemudian, Dinas Kesehatan Kabupaten Gunung Kidul segera menggelar pemeriksaan, lalu diperoleh 21 orang yang secara klinis terinfeksi antraks.

“Spora antraks ini bisa menyerang organ tubuh berbeda-beda. Ada yang terkena selaput otak (meningitis), pencernaan, pernafasan dan kulit,” ujarnya.

Ditambahkan, setelah ditemukan 21 orang terinfeksi, pemerintah menetapkan status KLB di Gunung Kidul. Jika dalam dua minggu setelah ditetapkan KLB tak ada korban baru, maka status KLB bisa dicabut kembali.

“Banyak orang terinfeksi antraks di wilayah itu, karena ada kebiasaan yang salah yaitu hewan yang terlihat akan mati segera disembelih lalu dagingnya dibagi-bagikan ke warga. Sejak kasus antraks ditemukan, kebiasaan semacam itu tak lagi dilakukan. Karena itu tak ada kasus baru,” tuturnya.

Dari 54 sampel yang diperiksa di Laboratorium Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor, hasilnya pada 13 Januari lalu dilaporkan, ada 27 sampel yang positif maupun negatif. “Saya tidak tahu kenapa hasilnya bisa berimbang seperti itu,” ucap Anung.

Penanganan kasus antraks selanjutnya, kata Anung, dengan cara meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan di daerah Gunungkidul baik di puskesmas maupun klinik milik swasta, agar mereka dapat menemukenali gejalanya lebih baik.

“Intinya kami ingin meningkatkan kewaspadaan tanpa membuat kepanikan. Bupati, Gubernur dan Kementerian Kesehatan sepakat untuk tidak mengeluarkan larangan kunjungan ke Gunungkidul. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, tapi kewaspadaan perlu ditingkatkan,” ucap Anung menandaskan.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, Siti Nadia Tarmizi menambahkan, salah satu cara agar kasus tidak terulang di masa depan adalah tidak membagi-bagikan daging dari hewan yang telah sakit. Penanganan hewan yang mati mendadak dilakukan sesuai dengan prosedur.

“Penguburan hewan yang mati mendadak minimal 2 meter kedalamannya. Tak lupa pakai disinfektan disekitar kuburan agar spora tak berkembang. Hewan ternak harus diberi vaksin antraks secara rutin. Karena spora berkembang dalam tubuh hewan, yang dapat menjangkiti manusia saat konsumsi dagingnya,” kata Nadia. (Tri Wahyuni)