Tak Ada Pengobatan Kanker Tanpa Efek Samping, Kenali Prosedurnya!

0

JAKARTA (Suara Karya): Ada beragam prosedur dalam pengobatan kanker, mulai dari operasi, kemoterapi, radiasi maupun kombinasi antara ketiganya. Dari semua prosedur pengobatan itu, tak ada satupun yang tanpa efek samping.

“Soal efek samping ini penting diketahui, agar penderita kanker siap atas segala kemungkinan yang terjadi,” kata dokter spesialis bedah kanker, Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk, Jeffrey Tenggara disela pembukaan perdana unit layanan kemoterapi dan one day care untuk pasien kanker di RS Siloam Kebon Jeruk Jakarta, Kamis (6/12/2018).

Jeffrey menjelaskan, tak ada satu model pengobatan dalam kanker. Pengobatan diberikan sesuai jenis kanker dan stadium penyakitnya. Jika kondisinya baru berupa tumor ringan, maka hal yang dibutuhkan hanyalah operasi tanpa perlu dilakukan kemoterapi.

“Karena itu, pentingnya melakukan deteksi dini, terutama mereka yang punya riwayat penyakit kanker dalam keluarga. Semakin dini kankernya diketahui, maka tingkat kesembuhannya makin besar,” ujarnya.

Sedangkan kemoterapi, lanjut Jeffrey, memiliki beberapa tujuan seperti mengobati kanker, mengurangi kemungkinan kambuhnya sel kanker, menghentikan atau menghambat pertumbuhan kanker, dan mengurangi gejala atau efek samping kanker.

“Untuk kanker di pembuluh darah seperti leukimia dan limfoma, tak bisa dilakukan operasi. Tindakannya gabungan antara kemoterapi dan radiasi. Istilah “ditembak” dengan radiasi, lalu pemantiknya adalah kemoterapi. Sumbatan dalam pembuluh darah bisa kembali lancar,” ujarnya.

Menurut Jeffrey, bentuk dan cara pemberian kemoterapi beranekaragam tergantung pada jenis kanker dan tingkat penyebarannya. Termasuk histori pengobatan pasien, dan permasalahan lain yang diderita oleh pasien.

“Kemo ini seperti memasukkan racun dalam tubuh. Racun tersebut memakan semua jaringan, tak hanya yang rusak tapi yang sehat. Karena itu pengobatan kanker dengan kemo selalu memberi efek samping,” ujarnya.

Mempertimbangkan kompleksitas dan efek samping dari kemoterapi, lanjut Jeffrey, pasien harus berada dibawah pengawasan dokter dan perawat yang kompeten selama proses kemoterapi berjalan. “Untuk itulah, kami bukan layanan khusus kemoterapi dan one day care bagi pasien kanker untuk meminimalisasi efek sampingnya.”

Berkat teknologi kedokteran yang makin canggih, kata Jeffrey, kemoterapi tak lagi dilakukan lewat suntikan di lengan. Karena efeknya, lengan bekas suntikan terlihat kehitaman. Suntikan diberikan lewat alat (port) yang ditanam di dada dengan ekor kateter langsung mengalir ke jantung.

“Bahan kemoterapi yang disuntikan di dada bekerja lebih baik dibanding lewat tangan. Jika kankernya ada di kepala, maka alatnya di pasang di kepala. Karena hampir sebagian besar obat kemo sulit menembus jaringan di kepala. Sehingga perlu dibuat port khusus agar kemoterapinya menjadi efektif,” tuturnya.

Penyakit kanker mendapat perhatian karena pasiennya yang bertambah setiap tahun. Kelompok peneliti kanker dari badan kesehatan dunia WHO menyatakan sedikitnya 18 juta kasus kanker terjadi di dunia selama kurun waktu 2018. Dari jumlah itu, lebih dari separonya meninggal dunia.

“Kanker telah dinyatakan sebagai penyebab kematian nomor dua di dunia. Saya ingatkan kembali untuk deteksi dini jika ada keluarga memiliki riwayat kanker. Karena potensi terkena penyakit tersebut sangat tinggi,” ujar Jeffrey menandaskan. (Tri Wahyuni)