Tak Cukup Calistung, Siswa Masa Kini Harus Kuasai Calismakturtung!

0

JAKARTA (Suara Karya): Siswa di era digital seperti saat ini tak cukup diajarkan keahlian dalam membaca, menulis dan berhitung (calistung). Ada keahlian lain yang tak kalah penting bagi siswa, yaitu menyimak dan bertutur.

“Kelima literasi dasar itu harus dikuasai guru, agar siswanya memiliki 4C, yakni critical thinking, collaborative, creative and communicative yang merupakan tuntutan Revolusi Industri 4.0,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik (PB PGRI) Unifah Rosyidi dalam diskusi publik soal pendidikan di Jakarta, Senin (18/11/2019).

Unifah menjelaskan lebih lanjut konsep calismakturtung (membaca, menulis, menyimak, bertutur dan berhitung). Pertama, guru mulai membiasakan murid suka membaca. Kebiasaan itu tak hanya menjadi tugas guru bahasa Indonesia, tetapi semua guru yang ada. Setelah itu, murid diminta untuk menuliskan kembali apa yang mereka baca.

“Karena siswa punya tugas untuk menuliskan kembali apa yang dibaca dan menuturkan di depan kelas, mau tak mau siswa menyimak bacaan secara mendalam. Cara seperti itu membuat anak menjadi lebih serius dalam belajar,” ucapnya.

Begitupun dengan keahlian berhitung. Menurut Unifah, menghitung disini bukan cuma matematika tetapi bagaimana siswa memahami literasi data. Karena di era digital, keahlian dalam membaca dan memahami data juga sama pentingnya.

“Ini sekaligus mengubah budaya siswa kita yang biasa mendengar jadi biasa menulis. Bukan asal menulis, tetapi bagaimana menuangkan gagasan atau ide ke dalam bentuk tulisan. Keahlian menulis ini juga dibutuhkan saat siswa masuk dunia kerja,” katanya.

Menurut Unifah, konsep calismakturtung lebih mudah diterapkan, dibanding rencana perubahan kurikulum secara besar-besaran. Karena perubahan semacam itu secara teknis sulit, karena ada kewenangan berstruktur mulai dari pusat, daerah, sekolah lalu guru.

Jika calismakturtung diterapkan secara massif, lanjut Unifah, maka hasil akan optimal. Karena, bagaimana pun pesatnya teknologi tanpa diiringi lima literasi dasar, dampaknya tidak akan tepat sasaran.

“Apakah teknologi bisa menggerakkan hati? Tidak. Tetapi calismakturtung bisa mengimbangi teknologi agar bisa menggerakkan hati. Guru dilibatkan bersama siswa dalam calismakturtung, sehingga kelas menjadi hidup,” ujarnya.

Ditanya apakah konsep calismakturtung juga perlu diterapkan di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), Unifah membenarkan hal itu. Karena, jika bicara pendidikan semua harus dilakukan dari hulu ke hilir.

“Ada catatan kritis masuk ke meja saya, apakah konten pelatihan guru PPG sesuai kebutuhan guru, jika hal itu dikaitkan dengan konteks perubahan. Apakah konsep on in yang diterapkan dalam pelatiham guru saat ini berkaitan dengan mutu,” tuturnya.

Padahal, lanjut Unifah, berbicara soal mutu itu adanya di dalam kelas. Yakni, bagaimana guru bisa berdialog, diskusi dan bertatap muka dengan siswanya. Sehingga terjadi interaksi dua pihak, sikap simpati atau empati dan karakter baik siswa yang harus ditumbuhkan.

“Jika perlu ada perubahan pola pikir (mibdset) untuk meraih pendidikan berkualitas, semua hal harus dibuat jelas, apa yang ingin diubah. Mari kita mulai lewat konsep calismakturtung, lalu lihat perubahan yang ada dalam kelas,” ucap Unifah menandaskan. (Tri Wahyuni)