Tak Hanya Stunting, Ada Tiga Masalah Gizi pada Anak Indonesia

0

JAKARTA (Suara Karya): Ada tiga kendala dalam penanganan masalah gizi pada anak di Indonesia. Bukan cuma masalah stunting (bertubuh pendek) seperti banyak diberitakan selama ini, tetapi juga ada masalah gizi berlebih (obesitas) dan defisiensi mikronutrien.

“Angka gizi berlebih saat ini masih sekitar 8 persen dari total balita (bayi dibawah lima tahun) di Indonesia. Kondisi ini tak boleh diabaikan, karena angkanya bisa naik terus jika tidak ditangani secara serius,” kata Dirjen Kesehatan Masyarakat (Kesmas), Kementerian Kesehatan (Kemkes), Kirana Pritasari┬ádi Jakarta, Selasa (14/1/2020).

Dalam acara bertajuk “Praktik Baik Program Gizi Mikro (Mitra) di Provinsi Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat” itu dihadari Human Development Councelor Australian Embassy, Michelle Lowe, Director of Global Operation Nutrition International, Ann Witteveen dan Country Director Nutrition International, Sri Kusyuniati.

Kirana Pritasari mengutip hasil Riset Kesehatan Dasar (Rikesdas) 2018 yang menunjukkan, prevalensi balita dengan berat badan rendah (underweight) sebesar 17,7 persen, wasting (kurus) 10,2 persen, stunting sebesar 30.8 persen dan obesitas pada balita 8 persen.

“Pemerintah melakukan berbagai intervensi dalam mengatasi masalah gizi pada anak di Indonesia. Salah satunya program Mitra yang dilakukan bersama lembaga Nutrition International, pemerintah Australia dan Kanada sejak 2015 lalu,” ujarnya.

Sri menjelaskan, program Mitra berfokus pada peningkatan akses ke layanan kesehatan dan membangun kesadaran tentang pencegahan stunting melalui strategi intervensi perubahan perilaku. Selain pemberian suplemen vitamin A bagi 720 ribu balita serta tablet zinc dan oralit bagi 64 ribu balita yang terkena diare.

“Balita yang terkena diare dianjurkan minum tablet zinc dan oralit, dibanding obat antibiotika yang bisa menimbulkan resistensi pada anak,” tuturnya.

Program Mitra merupakan program zat gizi mikro terintegrasi yang dilaksanakan sejak Agustus 2015 di 20 kabupaten di provinsi Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk meningkatkan akses ke layanan kesehatan bagi balita dan ibu hamil.

Upaya itu dilakukan, menurut Sri Kusyuniati, karena angka prevalensi anemia pada ibu hamil 48,9 persen dan prevalensi pada Wanita Usia Subur (WUS) kurang energi kronis sebesar 17,3 persen. Di sisi lain, anemia pada remaja putri usia 15-24 tahun sebesar 18,4 persen (Riskesdas 2013).

“Pemberian suplemen Tablet Tambah Darah (TTD) masih terkendala di kalangan remaja putri, karena mereka menganggap TTD sebagai obat, bukannya suplemen vitamin yang dibutuhkan. Jadi angka kepatuhan dalam minum TTD sangat rendah,” ucap Sri menandaskan.

Salah satu contoh inovasi yang dilakukan Kabupaten Bangkalan, Provinsi Jawa Timur dalam meningkatkan cakupan TTD pada ibu hamil agaknya bisa jadi praktik baik (lesson learned) untuk daerah lain. Tenaga kesehatan memberi konseling kepada ibu hamil dan keluarga di Puskesmas.

“Para ibu hamil itu dipantau kepatuhannya dalam minum TTD melalui telepon. Jika tidak direspon, maka bidan akan melakukan kunjungan ke rumah. Ini merupakan hal yang sangat strategis dalam melibatkan kader sebagai mitra pembangunan,” katanya. (Tri Wahyuni)