Career Day SMP Labschool Jakarta
Tancapkan Keinginan Kuat, Melangkah Pasti, dan Jangan Putus Asa

0

JAKARTA (Suara Karya): Meski masih duduk di bangku sekolah menengah pertama atau SMP, tetapi jika para siswa mempunyai cita-cita dan keinginan kuat untuk menempuh program atau jurusan tertentu, baik di perguruan tinggi dalam negeri maupun di luar negeri, suatu saat hal itu akan terbukti.

Namun untuk menggapai harapan itu para siswa tidak boleh putus melainkan harus mengupayakannya dengan semangat baja dan mengikuti passionnya dengan konsisten.

Demikian benang merah dari acara bertajuk “Caree Day and Achievment Motivation Training-AMT” yang digelar SMP Labschool Rawamangun Jakarta, secara virtual di Jakarta, Selasa (2/11/2021).

Acara yang dipandu dua guru senior yakni Trezadigjaya, MS.i dan Dyah Wisnuningrum  ini manghadirkan para alumni SMP Labschool yang sudah melanjutkan sekolah, kuliah dan berkarir di berbagai bidang.

Para alumni yang hadir mengisi hari pertama Career Day adalah Muh. Hanif Fauzan (SMA Unggulan HusiThamrin), Zhafran Rafiedli (SMAN 8 Jakarta), Budiman Danardana (FHUI), Muh. Rizky (KU Leuven, Brussel- PPI Belgia), artis film, Nadia Arina, dan dr.Monica Andalusia.

Alumni SMP Labschool yang kini berprofesi sebagai dokter psikiatri, Monica Andalusia mengatakan, para siswa memang sejak dini harus membuat goal atau tujuan, kea mana akan melanjutkan studi dan nanti berkeinginan menjadi apa.

“Letakkan passion, jika ada masalah di tengah jalan, kita harus bangkit segera. Jangan terlena dengan berbagai kendala yang dihadapi,” ujar Monica.

Pernyataan senada dikemukakan Nadya Arina yang mengatakan, untuk berhasil dalam karir, kita memang harus mendengar kata hati dan passion kita. Jika keinginan kita berbeda dengan keinginan orang tua, maka hal ini kita harus meyakinkan orang tua.

“Semula orang tua juga tidak setuju saya terjun ke dunia selebritas, khususnya ke film dan FTV. Tapi jangan takut, kita harus mampu membuktikan dan meyakinkan ke orang tua bahwa inilah passion kita dan kita akanberhasil di jalan ini,” ujar Nadya.

Berbeda dengan M.Hanif yang sekolah di SMA MH Thamrin Jakarta. Sejak SD bahkan dia sudah mempunyai cita-cita seperti keluarga besarnya, bidang kesehatan. Ada anjuran dari orang tua agar nantinya Hanif juga menjadi dokter. Anjuran ini bukan tekanan, malah tantangan baginya untuk meraih harapan itu.

“Sejak SD saya sudah melihat dan menyaksikan langsung bagaimana masyarakat datang ke klinik keluarga kami untuk berobat. Jadi situasi dan kehidupan keluarga mendorong saya untuk bercita-cita menjadi dokter. Bahkan keinginan saya lebih menjadi dokter ketimbang saran dan harapan orang tua. Saya yakin saya mampu nanti menjadi dokter,” ujar Hanif.

Alumni Labschool Jakarta yang lain, Zhafran Rafiedli juga menceritakan bagaimana perbedaan saat sekolah di SMP Labschool dan sekolahnya saat ini, SMAN 8 Jakarta.

“Cara belajar di SMA 8 menekankan kita harus mandiri, ini menjadi tantangan saya untuk menyesuaikan cara belajar saat SMP. Akhirnya saya bisa beradaptasi dan mengikuti pelajaran,” katanya sambil menambahkan situasi pendemi saat ini dengan sistem pembelajaran daring membuat kita lebih kreatif.

Belajar di Luar Negeri

Lain lagi cerita Muhammad Rizky, alumni SP Labschool yang melanjutkan studinya ke luar negeri, sejak SMA dan hingga kuliah saat ini. Rizky termasuk sedikit dari alumni yang berani mengambil tantangan dengan mencari beasiswa SMA ke luar negeri. Rizky lolos seleksi dan melanjutkan pendidikan SMA–nya ke sekolah internasional bernama Knightsbridge Schools International (KSI) di KotaTivat, Montenegro, Eropa Selatan.

“Secara sadar, sejak kecil saya ingin belajar di luar negeri. Kenapa? Dua kakak saya sudah kuliah di luar negeri, dengan beasiswa saat masih SMP. Saya sering membaca buku-buku milik ayah di perpustakaan di rumah yang bercerita tentang situasi di belajar di luar negeri, seperti buku Bung Hatta, dan juga buku tentang Tan Malaka,” ungkap Rizky.

Menurut Rizky yang kini kuliah di KU Leuven, Brussel, Belgia, banyak pengalaman dan llmu yang diperoleh saat belajar di luar negeri. Semua itu bisa menjadi modal kita untuk meraih karir dan cita-cita masa depan. Jadi, jangan takut dengan beragam tantangan belajar di luar negeri.

“Sistem pembelajaran dengan kurikulum IB yang menuntut kita banyak membaca dan menulis membuat kita terbiasa dengan dunia akademis. Begitu juga kemandirian yang sejak awal saya dapatkan, mengingat sejak SMA saya terpisah dengan orang tua dan keluarga. Apalagi saat pandemi menghantam dunia, dua tahun saya hidup di asrama, di kompleks sekolah yang sangat sepi. Ini proses yang membawa saya ke situasi yang nyaman sata kuliah di Belgia.” Papar Rizky.

Kepada adik-adik yang masih duduk di SMP, Rizky menyediakan diri untuk konsultasibelajar di luar negeri. “Bisa menghubungi saya via IG atau email. Kesempatan untuk kuliah dan mendapatkan beasiswa di luar negeri terbuka luas,” katanya. (Pramuji)