Tarif Baru PLN Berlaku 1 Juli

0

JAKARTA (Suara Karya): Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Bob Saril, mengatakan perubahan tagihan listrik untuk pelanggan pasca bayar baru akan terlihat pada tagihan bulan Agustus nanti. Sedangkan untuk sistem pra bayar sudah akan berlaku tarif baru mulai 1 Juli 2022 sesuai dengan penggunaan listrik masing-masing pelanggan.

Seiring akan diberlakukannya kenaikan tarif listrik untuk golongan mampu dan pemerintah ini, Bob mengungkapkan sangat minimnya permintaan turun daya dari golongan pelanggan yang tarif listriknya dinaikkan.

“Jadi apakah banyak yang turun daya sekarang? Nggak juga.  Dalam catatan kami sedikit sekali, (tapi) memang ada yang nanya-nanya bisa turun daya nggak,” kata Bob dalam webinar bertajuk “Keadilan Tarif Dasar Listrik, Perlukah Dilakukan Penyesuaian?”, Kamis (30/6/2022).

Menurutnya, listrik sejatinya sudah menjadi kebutuhan, apalagi untuk orang-orang mampu yang memiliki rumah mewah di mana sensitivitas terhadap harga listrik hampir tidak ada. Turun daya memang bisa, tetapi kalau turun daya jadi jeglek-jeglek kan kenyamanan mereka terhalang juga.

Untuk diketahui, pemerintah akan menaikkan tarif listrik untuk rumah tangga (RT) mampu dengan daya listrik cukup besar. Saat ini, kewenangan naikkan atau turunkan listrik ada di tangan Pemerintah cq. Ditjen Gatrik Kementerian ESDM.

Pelanggan Pemerintah P2 dengan daya di atas 200 kVA tarifnya disesuaikan dari Rp1.114,74 per kWh menjadi Rp1.522,88 per kWh, dengan kenaikan rekening rata-rata sebesar Rp38,5 juta per bulan dengan daya 3.500 VA per 1 Juli 2022. Kalau di Asia untuk tarif listrik  rumah tangga (RT), kita termasuk dua dari bawah.

Namun demikian kata Bob, pemerintah tentu akan  bersikap adil dan hati-hati. kenaikan tarif listrik ini meski kecil akan mendapatkan respon beragam dari masyarakat. Untuk yang di-adjustment itu, kita juga masih rendah. Tarif industri itu kita paling kompetitif.

Sementara kenaikan tarif listrik itu hanya akan dikenakan pada konsumen RT mewah. Dan ini menjadi kewenengan Pemerintah. Tarif listrik naik atau bahkan turun PLN siap mendukung.

PLN sebagai pemegang izin Ketenagalistrikan siap mendukung kebijakan Pemerintah terkait tariff lisatrik ini. Mereka itu orang kaya dan tak semestinya mendapatkan subsidi layaknya masyarakat  miskin dengan daya 450 VA.

Adapun, pelanggan Rumah Tangga R2 dengan daya 3.500 VA hingga 5.500 VA dan R3 dengan daya 6.600 VA ke mulai 1 Juli 2022 tarifnya disesuaikan dari Rp1.444,70 per kWh menjadi Rp1.699,53 per kWh.

Dengan kenaikan rekening rata-rata sebesar Rp111 ribu per bulan, jelas Bob, untuk pelanggan R2 dan Rp346.000 per bulan untuk pelanggan R3.

Pelanggan Pemerintah P1 dengan daya 6.600 VA hingga 200 kVA dan P3 tarifnya disesuaikan dari Rp1.444,70 per kWh menjadi Rp1.699,53 per kWh, dengan kenaikan rekening rata-rata sebesar Rp978 ribu per bulan untuk pelanggan P1 dan Rp271 ribu per bulan untuk pelanggan P3.

Pelanggan Pemerintah P2 dengan daya di atas 200 kVA tarifnya disesuaikan dari Rp1.114,74 per kWh menjadi Rp1.522,88 per kWh, dengan kenaikan rekening rata-rata sebesar Rp38,5 juta per bulan.

Sementara itu, Direktur Energy Wacth Mamit Setiawan, mengatakan kebijakan ini sudah tepat dilakukan di tengah kondisi indikator kenaikan biaya produksi yang sudah memang masuk syarat untuk meng-ajustment tarif listrik.

Selain itu kata Mamit, sebagai salah satu upaya dari pemerintah dalam melakukan penghematan terhadap beban kompensasi yang harus dibayarkan kepada PLN. Jadi beban pemerintah bisa berkurang dan PLN sendiri bisa sedikit bernapas lega karena beban beban yang harus dibayar terlebih dahulu akhirnya bisa berkurang juga.

“Jadi saya kira ini memang langkah yang cukup tepat meskipun memang masih ada pro kontra karena yang namanya kebijakan itu tidak ada yang sempurna, apapun Kebijakan itu pasti akan membuat ramai di publik,” katanya.

Dia berharap, PLN dan juga pemerintah masih tetap bisa konsekuen dan yang pasti tidak boleh ditinggalkan adalah sosialisasi bahwa ini memang akan terus ada ajustmen tergantung kepada indikator-indikator terhadap biaya pokok produksi bahwa ketika memang naik maka akan naik dan ketika turun maka juga akan turun.

“Saya kira masyarakat juga tidak perlu panik terutama kepada masyarakat penerima subsidi karena kebijakan ini tidak menyentuh mereka. Jadi saya harapkan semua bisa berjalan dengan baik dan  lancar,” ujarnya. (Bayu)