Tarif Pesawat Belum Kondusif, Menhub Koordinasikan dengan Menko Darmin

0
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. (Ist)

JAKARTA (Suara Karya): Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengkoordinasikan soal tarif pesawat yang dinilai belum kondusif dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian BUMN untuk mengatur harga tiket pesawat jelang masa angkutan Lebaran 2019.

“Kami laporkan di rapat bahwa tarif pesawat terbang belum kondusif. Oleh karenanya, kami koordinasikan bahwa Kemenko Perkonomian dan Kemen BUMN akan ambil bagian dalam mengatur tarif pesawat penerbangan pada masa angkutan lebaran,” kata Menhub dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (25/4/2019).

Menhub mengatakan bahwa pengaturan tarif pesawat akan dikhususkan kepada maskapai Garuda Indonesia sebagai pemimpin pasar (market leader).

“Pengaturan tarif pesawat terutama kepada maskapai Garuda Indonesia Grup sebagai ‘market leader’ karena jika Garuda menetapkan tarif batas atas maka maskapai lain akan mengikuti, kalau ia turun yang lain juga turun,” katanya.

Menhub Budi menambahkan, pada angkutan lebaran tahun ini moda udara tetap akan diminati namun peningkatan yang terjadi diprediksi tidak sampai tujuh persen.

“Untuk moda udara volumenya bisa naik dengan adanya infrastruktur baru yang bertambah seperti Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang dan bandara di Yogyakarta yang bisa mulai digunakan minggu depan,” katanya.

Prakiraan jumlah penumpang angkutan udara pada Lebaran 2019, yakni 5,78 juta orang atau naik 3,17 persen dari 5,6 juta orang pada 2018.

Namun, angka tersebut menurun dari Lebaran tahun-tahun sebelumnya di mana kenaikan penumpang angkutan udara menempati posisi tertinggi.

Pada Lebaran 2018, realisasi jumlah penumpang pesawat yaitu 6,3 juta orang atau meningkat 5,7 persen dari 5,9 juta orang.

Untuk Lebaran 2019, diperkirakan penumpang pesawat bergeser ke angkutan laut.

Berdasarkan data Kemenhub, pada Lebaran 2019 jumlah penumpang tertinggi yakni moda kereta mencapai 6,45 juta orang atau meningkat 3,41 persen dari 6,24 juta orang di 2018. (Rizal Cahyono)