Tarif Tol Trans Jawa “Mencekik” Pengguna, Ini Delapan Penilain dari YLKI

0
suarakarya.co.id/Istimewa

JAKARTA (Suara Karya): Pada Rabu, 06/02/2019, PT Jasa Marga melakukan kegiatan “Susur Tol Trans Jawa”, dari Jakarta sampai Surabaya. Tim yang dilibatkan dalam kegiatan tersebut, adalah, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), akademisi, Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT), pemerhati kebijakan publik, dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Ketua Pengurus Haris YLKI Tulus Abadi mengungkapkan, dalam FGD di Kantor Cabang Jasa Marga Semarang, yang merupakan bagian dari kegiatan ini YLKI sebagai representasi stakeholder lain menyorot beberapa hal utama:

1. Secara keseluruhan tarif tol Trans Jawa masih dirasa mahal, baik untuk kendaraan pribadi  atau angkutan truk. Akibat dari hal ini, volume trafik di jalan tol Trans Jawa, masih tampak sepi, lengang. Situsi itu terlihat bukan seperti jalan tol saja, terutama selepas ruas Pejagan.

Oleh karena itu, usulan agar tarif tol Trans Jawa dievaluasi/diturunkan, menjadi hal yang rasional. Masih sepinya jalan tol Trans Jawa, jelas dipicu oleh  tarif tol yang mahal itu;

2. Tol Trans Jawa juga terancam gagal menjadi instrumen untuk menurunkan biaya logistik, dikarenakan mayoritas angkutan truk tidak mau masuk ke dalam jalan tol. Menurut keterangan Ketua Aptrindo, Gemilang Tarigan, yang tergabung dalam tim Susur ini, menyatakan bahwa sopir tidak dibekali biaya untuk masuk tol.

Kecuali untuk tol Cikampek. Truk akan masuk tol Trans Jawa, jika biaya tol ditanggung oleh penerima barang. Terlalu mahal bagi pengusaha truk untuk menanggung tarif tol Trans Jawa yang mencapai Rp 1,5 juta.

3. Harga makanan dan minuman di rest area juga dirasa masih mahal. Oleh karena itu, pengelola tol diminta untuk menurunkan biaya sewa lahan bagi para tenan. Sebab patut diduga, mahalnya makanan/minuman karena dipicu oleh mahalnya sewa lahan bagi para tenan. Dan diminta agar para tenan mencantumkan daftar harga (price list) terhadap makanan/minuman, dan barang lain yang dijualnya;

4. Di sepanjang jalan tol, belum terpasang rambu-rambu yang memberikan warning terhadap aspek _safety_. Seperti peringatan untuk hati-hati, waspada, jangan ngantuk, marka getar..dll, terutama di titik titik kritis. Ini sangat penting agar pengguna jalan tol tidak terlena karena jalan tol Trans Jawa yang lurus, dan jarak jauh;

5. Manajemen trafik di rest area favorit harus diperkuat. Karena sumber kemacetan baru justru potensi terjadi di rest area tersebut, khususnya di ruas Cikampek.

Apalagi setelah Jasa Marga akan menggeser gate Cikarang Utama (Cikarut), ke titik km 70, di ujung tol Cikampek.

Pergeseran loket pembayaran untuk melakukan rekayasa lalu lintas, sebab sudah 3 tahun terakhir ini mayoritas pengguna tol  Cikampek adalah para commuter dari Bekasi, Cikarang dan sekitarnya yang jumlahnya mencapai 60 persenan;

6. Titik kritis terhadap tangki bahan bakar adalah di ruas tol Palikanci. Oleh karena itu,  konsumen diimbau untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) kendarannya di rest area 207, karena setelah itu keberadaan SPBU masih jauh. Jangan sampai kendaraan konsumen kehabisan BBM, apalagi nanti saat arus mudik Lebaran.

7. Eksistensi tol Trans Jawa akan banyak membangkitkan volume trafik ke kota-kota di Jawa Tengah; seperti Tegal, Pekalongan, Semarang, dll. Terbukti, saat liburan saat ini justru arus trafik lebih banyak ke arah timur/Jateng, sekitar 40 persen.

Arus trafik ke arah Bandung justru turun. Fenomena ini harus direspon oleh pemda masing-masing untuk mereview manajemen trafik dan memperbaiki destinasi wisata setempat;

8. Agar pengelola tol Trans Jawa memperbanyak kapasitas toilet untuk perempuan, untuk menghindari antrian panjang, apalagi saat peak seassion. Dan menyediakan portable toilet/mobil toilet. (Andara Yuni)