Tenaga Kependidikan Diminta Tak Alih Profesi jadi Dosen

0

JAKARTA (Suara Karya): Tenaga Kependidikan (tendik) di perguruan tinggi yang melanjutkan studinya hingga pascasarjana diminta untuk tak alih profesi sebagai dosen. Karena profesi tenaga kependidikan pun butuh orang-orang yang berkualitas.

“Peran tenaga kependidikan di kampus jangan dipandang sebelah mata. Tenaga kependidikan yang kompeten membuat proses belajar mengajar terselenggara dengan baik,” kata Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID), Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek), Ali Ghufron Mukti di Jakarta, Senin (28/10/19) malam.

Pernyataan itu disampai dalam acara Anugerah Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Diktendik) Berprestasi Tahun 2019. Acara yang digelar untuk ke-16 kalinya itu memilih tujuh tenaga kependidikan yang meliputi pranata laboratoriun pendidikan, pustakawan, arsiparis, pengelola keuangan dan administrasi akademik terbaik.

Ali Ghufron menyebut kriteria penilaian kepada tenaga kependidikan berprestasi, baik dari sisi temuan, inovasi, dedikasi, karya hingga kualitas layanan selama menjalani profesinya. Masing-masing kategori memilih tiga pemenang terbaik dari berbagai perguruan tinggi se-Indonesia.

Sedangkan penghargaan bagi dosen, lanjut Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada itu, dibagi 2 yaitu bidang yaitu sains dan teknologi (saintek) dan sosial dan humaniora (soshum). “Dari 7 penghargaan, dua penghargaan diberikan untuk untuk dosen berprestasi dan 5 penghargaan untuk tenaga kependidikan,” ucapnya.

Ali Ghufron berharap, perhelatan memberi motivasi bagi pendidik maupun tenaga kependidikan untuk membangun iklim akademik yang kondusif. Hal itu akan berdampak pada pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia.

“Peran pendidik dan tenaga kependidikan sebagai pendukung proses perkuliahan disini tidak kalah penting. Saya yakin para finalis adalah yang terbaik di kampusnya masing-masing,” kata Dirjen Ghufron.

Ia menyoroti tenaga kependidikan yang kerap minim perhatian dari pimpinan perguruan tinggi. Bagi Ghufron, peran tenaga kependidikan krusial lantaran sebanyak apapun prestasi perguruan tinggi, jika data-datanya tidak tersimpan dengan baik, maka hal itu tidak akan meningkatkan mutu institusi.

“Pemerintah juga akan mengalokasikan beasiswa kepada tenaga kependidikan agar makin kompeten,” tuturnya.

Terobosan Ditjen SDID sendiri untuk meningkatkan kualifikasi tenaga kependidikan lewat skema beasiswa jenjang S-2 yang disebut Beasiswa Pascasarjana Tenaga Kependidikan Berprestasi (PasTi). Beasiswa tersebut harus benar-benar dimanfaatkan tenaga kependidikan guna meningkatkan pelayanan di perguruan tinggi.

“Kami minta kepada tenaga kependidikan yang dapat beasiswa PasTi untuk tidak beralih profesi menjadi dosen. Karena selama ini, banyak tenaga kependidikan yang sudah memperoleh gelar S-2 justru ingin menjadi dosen,” ucapnya.

Direktur Karier dan Kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), Bunyamin Maftuh menjelaskan, para finalis sebelumnya mengikuti seleksi di tingkat perguruan tinggi. Kampus akan mengirim nama yang dinilai untuk seleksi tingkat nasional.

“Ada 279 orang yang terdaftar dalam tingkat nasional. Dipilih 10 finalis untuk masing-masing kategori. Kompetisi kali ini banyak diikuti tenaga muda, karena salah satu syaratnya adalah maksimal lektor kepala dan karya yang dihasilkan dalam lima tahun terakhir,” ujarnya.

Disebutkan, pemenang 1, 2 dan 3 untuk dosen sains dan teknologi berprestasi 2019 yaitu Anuraga Jayanegara (Institut Pertanian Bogor), Alva Edy Tontowi (Universitas Gadjah Mada) dan Leny Yuliati (Universitas Ma Chung Malang).

Sedangkan pemenang 1,2 dan 3 untuk dosen sosial humaniora berprestasi 2019 yaitu Adhi Setyo Santoso (Universitas Presiden), Megawati Simanjuntak (Institut Pertanian Bogor), Deny Willy Junaidy (Institut Teknologi Bandung).

Pemenang 1,2 dan 3 untuk laboran berprestasi 2019 yaitu Yeni Rendieni (Universitas Padjadjaran), Riyanto (Universitas Islam Indonesia) dan Silviana Fransciska (Universitas Airlangga).

Pemenang 1, 2 dan 3 untuk Pustakawan Berprestasi 2019 yaitu Kurniasih Yuni Pratiwi (Universitas Brawijaya), Sony Pawoko (Universitas Indonesia) dan Khusnun Nadhifah (Universitas Jember).

Untuk pemenang 1,2 dan 3 tenaga administrasi akademik berprestasi 2019 yaitu Syepriyanto Endrizal (Universitas Indonesia), Anies Rosdyana (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) dan Fitriana Iftatika (Universitas Diponegoro).

Pemenang 1, 2 dan 3 untuk tenaga pengelola keuangan berprestasi 2019 yaitu Anom Setyo Widha (Universitas Airlangga), Kusnadi (Institut Pertanian Bogor) dan Rianti Mutiara (Universitas Indonesia).

Pemenang 1,2 dan 3 untuk arsiparis berprestasi 2019 yaitu Ully Isnaeni Effendi (Universitas Gadjah Mada), Rama Nararya Anuraga (Universitas Sebelas Maret) dan Wawat Setiawati (Universitas Padjadjaran). (Tri Wahyuni)