Terancam Punah, KBPMU Revitalisasi Sastra Lisan Mantra di Maluku Utara

0

JAKARTA (Suara Karya): Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara (KBPMU) dalam satu tahun terakhir ini gencar melakukan revitalisasi sastra lisan mantra yang ada di wilayah tersebut. Upaya itu dilakukan guna mencegah dari kepunahan.

“Sastra lisan mantra di Maluku Utara terancam punah, karena makin sedikit anak muda yang menekuninya,” kata Kepala KBPMU, Ari Andarsyah dalam siaran pers, Senin (4/10/21).

Ari menyebut upaya konservasi sastra lisan mantra dilakukan di sejumlah desa yang ada di Tidore Kepulauan, Kabupaten Halmahera Barat dan Kabupaten Halmahera Utara. “Konservasi penting dilakukan agar sastra lisan mantra tak punah, tetapi dijaga sebagai warisan budaya,” ujarnya.

Dijelaskan, orang Tidore menyebut mantra sebagai Olisou. Olisou adalah kalimat sakral yang diyakini mampu menghasilkan sesuatu yang diinginkan. Mantra dituturkan sendiri di tempat yang sunyi dan alat musik. Mantra diucapkan umumnya memakai bahasa Tidore.

“Sayangnya, tak semua mantra bisa didokumentasikan. Hanya mantra tertentu saja, seperti mantra penentuan hari baik dan mantra pembukaan lahan,” katanya.

Ari menambahkan, upaya perlindungan sastra lisan mantra di Maluku Utara dilakukan dalam beberapa tahapan, mulai dari pemetaan sastra, kajian vitalitas dan konservasi yang meliputi sastra lisan, manuskrip dan sastra cetak.

“Konsep pemetaan sastra bukanlah penelitian untuk mendeskripsikan unsur-unsur kartografi dalam ruang fiksi. Tetapi pemetaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat tutur bahasa lisan di Maluku Utara,” ucapnya.

Pemetaan sastra yang dilakukan di Desa Talaga, Desa Awer, Desa Taraudu dan Desa Loce, Kabupaten Halmahera Barat melibatkan masyarakat adat, tokoh adat, pemilik sastra lisan dan pemerhati budaya.

Data yang diperoleh berupa sastra lisan Mai’o, pantun/syair, cum-cum/teka-teki, dolabolo, bobita/sambutan, siloloa atau mempersilakan makan dan cerita rakyat talaga rano. Hasil pemetaan nantinya diolah untuk kemudian ditindaklanjuti melalui kajian vitalitas, konservasi dan revitalisasi.

“Kajian vitalitas sastra adalah tahapan lanjutan dari pelindungan sastra, setelah pemetaan. Kajian itu mengukur sejauh mana daya hidup sastra lisan suatu daerah. Status sastra lisan itu akan berimplikasi pada tindakan yang perlu dilakukan, misalkan konservasi, revitalisasi atau konservasi sekaligus revitalisasi,” tutur Ari.

Adapun sastra lisan yang menjadi objek kajian vitalitas adalah Mai’o. Penunjukan Mai’o sebagai objek kajian dilihat dari data pemetaan sastra, dimana persebaran bahasanya yaitu Sahu tersebar di Desa Gamtala, Desa Loce, dan Desa Awer,” katanya.

Mai’o (bahasa Sahu) merupakan jenis berbalas pantun yang disampaikan pada pesta adat, pernikahan, pesta panen, penyambutan pejabat. Mai’o selain menggunakan bahasa Ternate juga bahasa Sahu. Pantun berbalas itu dilakukan 2 orang atau lebih dan disertai alat musik. Pantun yang disampaikan akan berirama seperti nyanyian.

Kajian vitalitas sastra lisan Salumbe juga dilakukan di Desa Gura dan Desa Kakara, Kabupaten Halmahera Utara. Salumbe adalah nyanyian rakyat berisi syair nasihat kepada anak yang akan pergi jauh. Salumbe dibawakan secara berkelompok dengan menggunakan alat musik tifa.

Narasumber Salumbe adalah Mama Pere dan Mama Lodara. Maestro itu pernah mendapat penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Mereka berdua juga pernah melisankan Salumbe saat Presiden Soekarno berkunjung ke Maluku Utara pada 1945. (Tri Wahyuni)