Terapi Plasma Konvalesen, Harapan Baru bagi Pasien Covid-19

0
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Litbangkes, Kemkes, Slamet. (Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kementerian Kesehatan secara resmi memulai penelitian uji klinik terapi plasma konvalesen pada pasien corona virus disease (covid-19). Uji klinik akan dilakukan di 24 rumah sakit seluruh Indonesia.

“Hari ini, uji klinik dilakukan di 4 rumah sakit, lalu menyusul 20 rumah sakit lainnya di Indonesia,” kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Litbangkes, Kemkes, Slamet dalam acara ‘Kick Off Meeting Uji Klinik Pemberian Plasma Konvalesen untuk Pasien Covid-19’ yang digelar secara daring, Selasa (8/9/20).

Slamet menjelaskan, uji klinik tersebut merujuk pada Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/346/2020 tentang Tim Penelitian Uji Klinik Pemberian Plasma Konvalesen Sebagai Terapi Tambahan COVID-19.

Empat rumah sakit yang menjadi tempat uji klinik, disebutkan, RSUP Fatmawati Jakarta, RS Hasan Sadikin Bandung, RS Dr Ramelan Surabaya dan RSUD Sidoarjo Jawa Timur. Jika ada RS yang berminat untuk uji klinik dapat menghubungi pihak Litbangkes. Masih dibutuhkan sekitar 20 rumah sakit.

Ditambahkan, uji klinik terapi plasma konvalesen akan melibatkan 364 pasien sebagai partisipan. Ditargetkan, dalam tiga bulan kedepan penelitian akan menghasilkan bukti keamanan dan efektivitas dari terapi plasma konvalesen.

“Penggunaan plasma darah dalam pengobatan sebenarnya bukanlah hal baru. Terapi itu telah diuji cobakan pada
pengobatan pasien akibat wabah penyakit flu babi pada 2009 lalu, Ebola, SARS dan MERS,” tuturnya.

Terapi plasma konvalesen pada pasien covid-19, lanjut Slamet, hingga kini hanya boleh digunakan untuk kondisi kedaruratan karena masih dalam taraf penelitian. Selain itu, manfaat terapi juga masih kontroversial, lantaran belum menunjukkan cukup bukti atas efektifitas pengobatannya.

Ditambahkan, uji klinik dilakukan secara acak dengan grup pembanding (randomized controlled trial). Hal itu menjadi penting untuk menjawab adanya kontroversi terapi di masyarakat.

“Perhatian utama para peneliti adalah keamanan dan efikasi dari terapi itu sendiri. Untuk itu, Balitbangkes mendukung upaya para klinisi yang menggunakan terapi plasma konvalesen pada pasien covid-19 sebagai terapi yang baru diperkenalkan,” ujarnya.

Sesuai namanya, terapi dilakukan dengan memberi plasma, yaitu bagian dari darah yang mengandung antibodi dari orang-orang yang telah sembuh dari covid-19. Para penyintas (survivor) covid-19 bisa menjadi donor plasma konvalesen dengan menjalani sejumlah pemeriksaan dan memenuhi persyaratan.

Sementara itu, peneliti senior Lembaga Biologi Molekuler Eijkman David H Muldjono yang hadir dalam acara itu menuturkan, pemberian plasma konvalesen sebagai terapi tambahan pasien covid-19 hanya diberikan untuk pasien dengan kondisi derajat sedang yang mengarah kegawatan (pneumonia dengan hipoksia) di samping pasien derajat berat.

“Terapi ini bukan bagian dari pencegahan, melainkan pengobatan pasien. Terapi ini juga belum diuji coba ke seluruh dunia, sehingga belum ada protokolnya. Karena itu, terapi bukan untuk pencegahan,” ucap David.

Penderita covid-19 yang bersedia menjadi subjek uji klinik harus memenuhi syarat diantaranya, berusia minimal 18 tahun, dalam perawatan dengan derajat sedang mengarah ke berat atau derajat berat, bersedia dirawat minimal selama 14 hari dan mengikuti prosedur penelitian.

Sebelum memulai uji klinis subjek harus menandatangani formulir persetujuan atas penjelasan ‘informed consent form’. Pada uji klinik, pasien mendapat suntikan sekitar 200 ml plasma, sebanyak dua kali dengan selang waktu tiga hari.

Selama uji klinis, pasien akan dipantau dan dievaluasi terhadap pemeriksaan laboratorium dan radiologi, yaitu rontgen paru atau CT Scan. Selain pemantauan terhadap perubahan kadar virus, perubahan kadar antibodi netralisasi dan perubahan skala perawatan.

Pelaksanaan uji klinik terapi plasma konvalesen dilakukan selama 28 hari, dengan menempatkan keselamatan pasien yang menjadi subyek sebagai prioritas. Selain itu, para pihak wajib mematuhi protokol penelitian serta prinsip-prinsip cara uji klinik yang baik (Good Clinical Practice).

Penelitian uji klinik terapi plasma konvalesen sebagai terapi tambahan covid-19 ini dilakukan bersama Pusat Litbang Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan, Badan Litbangkes; Lembaga Eijkman, Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset Inovasi Nasional (Kemristek/BRIN), Palang Merah Indonesia (PMI), Badan Pengawas Obat dan Makanan, serta seluruh rumah sakit yang terlibat. (Tri Wahyuni)