Terima PuSEK, Gubernur Mahyeldi Bicara Hilirisasi Gambir dan Investasi

0
Gubernur Mahyeldi Ansharullah (kiri) menerima Ketua Umum Pusat Kajian Ekonomi Kekeluargaan (PuSEK) Chairul Hadi M Anik, SE.Ak, MBA, PhD (Cant) Jakarta bersama tim PuSEK di Istana Gubernur, Padang. (Foto:Humas Pemprov Sumbar)

PADANG (Suara Karya): Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menyatakan serius memperbaiki mutu produk gambir dengan langkah hilirisasi dan membangun kerjasama dengan berbagai pihak. Hilirisasi ini memerlukan sentuhan teknologi dan peluang investasi.

“Untuk meningkatkan pendapatan petani, Pemprov (Sumbar) serius mengurusi gambir untuk meningkatkan pendapatan petani, jawabannya dengan hilirisasi,” kata Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah di sela kesibukannya menerima tamu baik dari daerah, berbagai organisasi profesional termasuk Pusat Studi Ekonomi Kekeluargaan (PuSEK) di Istana Gubernur di Padang, Rabu (20/10/21).

Beberapa diantara tamu Mahyeldi pada waktu libur Maulid Nabi Saw tersebut diantaranya, tokoh masyarakat dari Kab Pesisir Selatan, perhotelan, keluarga pejuang Khatib Sulaiman, dan PuSEK.

“Tadi kita bicara dengan kelompok masyarakat dari Kota Padang yang akan melakukan hilirisasi. Bagaimana pemanfaatan hilirisasi dari produk gambir bisa digunakan, diantaranya untuk penyamakan kulit, pewarna pakaian, atau lainnya, ini menjadi perhatian dan kami mendorong (pihak yang peduli dan mau terlibat), ” ujar dia.

Menurut Mahyeldi, hilirisasi produk gambir akan dapat membantu beban Pemprov Sumbar yang tujuannya untuk meningkatkan pendapatan petani gambir.

“Bagi kita Pemrov Sumbar, dengan hilirisasi akan sangat tertolong, dari segi pemasaran dan teknologi untuk hilirisasi tersebut. Ini mendorong investasi di Sumbar,” ucapnya.

Sementara ini, Pemprov Sumbar menghadapi permasalahan meliputi, kualitas produk gambir karena masih diusahakan dengan cara tradisional.

“Karena itu, masyarakat perlu kita edukasi, sehingga kualitas gambir bisa ditingkatkan menjadi lebih baik. Usaha yang masih berupa usaha tradisional ini perlu sentuhan (teknologi) dan kedua, pemasaran produk setelah hilirisasi berupa turunannya (produk-produknya dari gambir perlu kita komunikasikan (pasarkan) kepada pihak yang memerlukan seperti kebutuhan kosmetika, bahan penyamak kulit, dan srbagainya,” papar dia.

Dikatakan, Sumbar menjadi daerah terbesar di dunia dalam hal produk gambir. “Kita terbesar di dunia dan 80% kebutuhan gambir dunia ada di Sumbar. Potensinya ada di 50 Kota, Pasaman, sebagian Agam, Padang dan Pesisir Selatan,” jelas Buya.

Terpisah, Ketua Umum PuSEK Chairul Hadi M Anik, MBA, PhD (Cant) setelah bertemu Mahyeldi mengatakan tertarik dengan potensi gambir dan potensi perekonomian daerah pada umumnya, yang memerlukan restrukturisasi agar tujuan untuk peningkatan pendapatan dari usaha rakyat sebagaimana disampaikan Gubernur Mahyeldi benar-benar bisa diwujudkan.

“Bagi kami, peningkatan pendapatan dari usaha petani seperti produk gambir bisa dilakukan secara terstruktur, yaitu melalui organisasi usaha para pelaku bisnis di desa atau nagari, tidak melalui para pedagang perorangan yang tidak lain adalah jejaring pemodal besar yang justru membuat usaha rakyat di nagari menjadi hancur,” kata Chairul Hadi.

Tepat sekali, tambahnya kedatangan pihaknya bertemu dengan Mahyeldi guna membicarakan upaya-upaya peningkatan ekonomi daerah berbasis nagari.

“Berdasarkan kajian kami dari PuSEK, maka pelaku usaha atau pebisnis anak nagari yang terdiri dari petani, peternak, pengrajin dan nelayan berada dalam dua tekanan ekonomi yaitu bila menjual produknya selalu harganya rendah dan saat membeli untuk keperluannya harga mahal. Ini tidak benar dan masalah inilah yang perlu diperhatikan. Nanti kita bicara sama Pak Gubernur,” kata Chairul Hadi. (indra)