TF Luncurkan Buku ‘Panduan’ Sekolah Sukses Di Era Merdeka Belajar

0

JAKARTA (Suara Karya): Tanoto Foundation (TF) meluncurkan buku yang diharapkan bisa memberi ‘panduan’ bagi sekolah agar berhasil di era Merdeka Belajar. Buku tersebut menitikberatkan pada model kepemimpinan kepala sekolah (kepsek) yang menjadi kata kunci dalam keberhasilan itu.

Peluncuran buku berjudul “Praktik Baik Kepemimpinan Pembelajaran Kepala Sekolah dan Madrasah” itu dilakukan Direktur Program PINTAR Tanoto Foundation, M Ari Widowati di Jakarta, Selasa (17/3/20).

Buku yang diterbitkan bersama TF, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama itu merupakan karya 13 jurnalis nasional yang ditulis dari hasil observasi dan wawancara dengan sejumlah kepsek yang saat ini menjadi mitra Program PINTAR.

Ari menjelaskan, kepsek menjadi kunci dalam keberhasilan program, karena ia yang paling tahu atas semua aktivitas di sekolah. Ia juga memastikan apakah guru dapat pelatihan dan menerapkan hasilnya, pentingnya budaya baca di kalangan siswa, keterbukaan dalam keuangan serta pelibatan orangtua dalam peningkatan kualitas sekolah.

“Kami juga libatkan pengawas sekolah dalam program PINTAR, agar upaya peningkatan mutu pendidikan dapat berjalan dalam satu visi,” ujarnya.

Spesialis Manajemen dan Kepemimpinan Kepala Sekolah Tanoto Foundation, Makinuddin Samin menambahkan, Program PINTAR diperkenalkan TF sejak 2018 lalu. Pendataan dilakukan pada 28 persen sampel sekolah dan madrasah. Karena fakta di lapangan menunjukkan, hanya 32 persen kepsek yang dianggap berhasil menerapkan kepemimpinan dalam pembelajaran.

“Rendahkan kepemimpinan kepala sekolah berdampak pada implementasi pembelajaran aktif. Hal itu terlihat hanya 22 persen guru yang menerapkan pembelajaran aktif di kelas,” ujarnya.

Untuk mendukung perubahan di sekolah dan madrasah, lanjut Makinuddin, melatih dan mendampingi para kepala sekolah, guru, komite sekolah dan pengawas dari 440 sekolah dan madrasah. Pelatihan dan pendampingan berguna untuk mendorong diterapkan kepemimpinan pembelajaran dalam bingkai Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).

“Satuan pendidikan dilatih untuk konsisten dalam menjalankan pembelajaran aktif yang memadukan unsur Mengalami, Interaksi, Komunikasi, dan Refleksi (MIKiR) dan program budaya baca,” tuturnya.

Hasilnya, kata Makinuddin, lewat Aplikasi Pemantauan Sekolah (APS) diperoleh data ada 81,4 persen kepala sekolah dan madrasah yang sudah menerapkan kepemimpinan pembelajaran. Jumlah itu, meningkat dari sebelumnya hanya 32 persen.

”Pembelajaran aktif yang sebelumnya terjadi pada 22 persen sekolah, kini meningkat menjadi 63 persen sekolah telah menerapkannya. Siswa difasilitasi untuk lebih banyak melakukan kegiatan percobaan, pengamatan, presentasi hasil karya serta melakukan refleksi untuk perbaikan belajar.

“Model pembelajaran ini yang diharapkan Mendikbud Nadiem Makarim, dimana siswa didorong lebih aktif dalam mengalami, melakukan, mengamati dan menemukan,” ujarnya.

Makinuddin mengutip pengalaman Kepala Sekolah SDN 2 Kalilumpang, Kendal Jawa Tengah, Robingah, Kepala SDN 2 Kalilumpang, Kendal, Jawa Tengah. Dalam buku itu dipaparkan bagaimana Robingah berhasil mendorong kebiasaan membaca pada siswa, meski sekolahnya berada di pelosok perkebunan karet dan tak memiliki perpustakaan.

“Dalam seminggu, siswa sekolah itu jadi terbiasa membaca 2-4 buku bacaan. Ia juga berhasil mengajak orangtua membeli buku bacaan yang disukai anak-anak,” tuturnya.

Setiap kelas ada pojok membaca guna mendekatkan anak pada buku. Sekolah juga menyediakan klinik baca untuk siswa yang belum lancar membaca, serta memastikan semua guru dapat pelatihan pembelajaran dan budaya baca, agar memiliki visi dan misi yang sama dengan dirinya.

“Kami juga membuat parenting literasi dimana orangtua wajib mendampingi anaknya membaca buku di rumah. Upaya itu dilakukan agar program pendidikan di sekolah dan di rumah berjalan bisa saling menguatkan,” kata Makinuddin mengutip pernyataan Robingah.

Atas inisiasitifnya itu, lanjut Makinuddin, Robingah meraih penghargaan sebagai kepala sekolah kedua terbaik se-kabupaten Kendal.

Ditambahkan, upaya serupa dilakukan Kepala Madrasah Ibtidaiyah Nadhalatul Ulama (MINU) Balikpapan, Gunanto. Ia berhasil membawa madrasahnya sebagai terfavorit di Kota Balikpapan. Pada penerimaan siswa baru 2019, ratusan calon siswa terpaksa ditolak lantaran kuota tiga kelas sudah penuh. Padahal sebelumnya, sekolah tersebut susah sekali mendapat murid baru.

Gunanto mengelola madrasah secara transparan dan partisipatif. Ia mampu meyakinkan guru, orangtua dan masyarakat untuk terlibat menyukseskan program madrasah. Bahkan orangtua mau ikut membantu perbaikan gedung madrasah dan menyediakan kebutuhan pembelajaran dan budaya baca di kelas.

Berkat keberhasilan itu, Gunanto diberi penghargaan sebagai kepala madrasah terbaik 2019 oleh Kantor Kementerian Agama Kota Balikpapan.

Dalam kesempatan terpisah, Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemdikbud, Supriabo mengapresiasi program PINTAR Tanoto Foundation yang melatih dan mendampingi para kepala sekolah, guru dan komite sekolah untuk bersinergi meningkatkan kualitas pembelajaran. Dukungan itu membantu pemerintah agar dapar mempercepat peningkatan kualitas pendidikan di tanah air.

“Saya merekomendasikan buku Praktik Baik Kepemimpinan Pembelajaran Kepala Sekolah ini sebagai referensi bagi kepala sekolah dalam mendorong terciptanya lebih banyak guru-guru penggerak, lebih besarnya partisipasi masyarakat agar siswa dapat belajar lebih baik lagi,” kata Supriano menandaskan. (Tri Wahyuni)