The Ensight jadi Wadah Aspirasi Milenial di Sektor Energi

0

JAKARTA (Suara Karya): Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) kembali mengadakan webinar The Energy Insight (The Ensight) untuk kedua kalinya pada hari Sabtu, 24 Oktober 2020. The Ensight ini disiarkan langsung pada saluran resmi YouTube PYC dengan topik “Rethinking Energy-Climate Relations in Indonesia”.

Ketua PYC Filda C Yusgiantoro mengatakan, tujuan dari The Ensight adalah sebagai wadah aspirasi bagi para pemerhati sektor energi, khususnya bagi anak muda Indonesia.

Menurutnya, The Ensight dikembangkan dari acara PYC bernama “Millenial Talks” yang telah dilaksanakan sejak berdirinya PYC pada tahun 2016, kemudian diubah menjadi format webinar pada masa pandemi.

Webinar dilanjutkan dengan pemaparan dari kedua narasumber, yang pertama Tiza Mafira. Ia merupakan lulusan dari Harvard Law School dengan spesialisasi pada bidang climate change dan carbon trading.Tiza juga merupakan salah satu inisiator Gerakan Diet Kantong Plastik Indonesia.

Dalam pemaparannya, Tiza menyatakan bahwa krisis iklim dapat memberikan dampak yang sangat luas seperti ketahanan pangan, perekonomian, hingga isu sosial. Ia juga menjelaskan bahwa dua jenis carbon pricing,yaitu carbon tax dan carbon tradingperlu dikaji apabila hendak diterapkan di Indonesia.

Menurutnya opsi carbon tradingseperti skema cap& tradedan skema carbon offsetlebih memungkinkan untuk diterapkan di Indonesia.  

Pemaparan berikutnya diberikan oleh Beni Suryadi. Ia merupakan seorang profesional sektor energi dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dan saat ini merupakan Project Manager dari proyek pertama ASEAN yang mengintegrasikan sektor energi dan isu perubahan iklim.

Ia menjelaskan bahwa isu climate changemayoritas secara global seolah-olah menjadi tanggung jawab kementerian lingkungan semata.

Padahal jika dikaji lebih mendalam, sektor lain pun memiliki andil yang besar terhadap isu tersebut. Ia juga berpendapat bahwa skema carbon pricingbisa dimanfaatkan sebagai sumber pendanaan proyek-proyek energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia.

Namun hal ini perlu dirancang secara matang dan dikaji dengan serius. Ia lantas menekankan bahwa krisis iklim merupakan krisis bersama.

Dari hasil diskusi selama dua jam yang dipandu oleh I Dewa Made Raditya Margenta, salah satu peneliti dari PYC, dapat disimpulkan bahwa isu climate changememiliki kaitan yang erat dengan sektor energi. Pemerintah perlu memastikan bahwa misi penurunan GRK bukan merupakan misi yang bersifat sektoral, melainkan sebuah misi bersama.

Oleh karena itu, sektor atau kementerian terkait perlu bergandengan tangan dan berkomitmen agar penerapan sebuah kebijakan dapat menjadi lebih efektif dan efisien untuk memastikan masa depan yang lebih baik bagi penerus bangsa.

Diketahui, hadir dalam acara tersebut Tiza Mafira. Ia merupakan lulusan dari Harvard Law School dengan spesialisasi pada bidang climate change dan carbon trading. Selain itu ada juga Beni Suryadi, Project Manager of ASEAN Climate Change and Energy Project (ACCEPT) dari ASEAN Center of Energy (ACE). (Andara Yuni)