Tidak Perlu Musdalub, Golkar DKI Sudah Bekerja Totalitas

0
Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Provinsi DKI Jakarta, Ashraf Ali. (suarakarya.co.id/istimewa)

JAKARTA (Suara Karya): Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Provinsi DKI Jakarta, Ashraf Ali menilai tidak ada urgensinya untuk diselenggarakannya Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) Partai Golkar DKI Jakarta.

“Tingkat urgensinya dimana lakukan Musdalub? Menurut saya sekarang ini saatnya melakukan penataan di masa tenang menunggu keputusan sidang MK terkait hasil pileg,” kata Ashraf di Jakarta, Selasa (9/7/2019).

Ashraf menilai memang Musda (Musyawarah Daerah) adalah sebagai bagian proses dinamika politik, namun harus dengan cara dan dengan aturan yang berlaku.

“Bersuara silahkan, jangan memekakkan telinga, orang kan ada waktunya juga. Istilahnya kalau belum Magrib jangan pukul bedug dan jangan adzan dulu kan ada waktunya nanti, sekarang belum waktunya,” tegasnya.

Terkait adanya aksi unjuk rasa kader Partai Golkar yang menuntut penyelenggaraan Musdalub Partai Golkar DKI Jakarta terkait hasil Pileg 2019. Ashraf berpendapat, raihan kursi yang sudah didapat Partai Golkar di Pileg 2019 harus disyukuri, karena memang saat ini bukan hanya Partai Golkar yang mengalami, namun Partai Golkar masih beruntung, dan penurunan kursi DPRD Partai Golkar DKI Jakarta harus dilihat secara menyeluruh, tidak parsial.

“Saya kira harusnya kita semua bersyukur, dibanding partai lain, capaian Golkar masih bagus. Dan kalau ada aspirasi dari kader itu sah -sah saja. Tapi bukan bukan berarti baku hantan di dalam, berpartai kan ada fatsunnya, ngapain juga pakai demo-demo segala. Saya rasa Plt Ketua DKI kalau diajak bicara ok-ok saja kok,” jelasnya.

Ashraf bahkan memuji kepemimpinan Plt Rizal Mallarangeng yang secara totalitas bekerja dan mengeluarkan seluruh potensi yang ia miliki ditengah turbulensi politik yang menerpa Partai Golkar. Sementara ada partai lain yang saat mengalami turbulensi politik justru sulit bangkit.

“Pak Rizal sudah berusaha maksimal dengan potensi yang ada beliau lakukan untuk Golkar DKI, di tengah turbulensi politik yang ada. Namun masalah keberhasilan kan kerja kolektif, tak elok disalahkan ke satu orang,” ujarnya.

Ashraf menyebutkan masalah terpilih atau tidak sebenarnya bukan urusan kita, kembalikan kepada kekuasaan Allah.

“Kita kan berpolitik tidak cari duit, kita berpolitik agar kekuasaan atau kewenangan yang kita miliki itu bisa membantu masyarakat. Nah kalau sekarang seperti saya tidak jadi lagi, karena memang saya niat berpolitik bukan cari duit, tapi ingin bisa dengan mudah membantu masyarakat kalau saya jadi,” paparnya.

Ashraf juga menegaskan dukungannya kepada Airlangga Hartarto untuk tetap menjadi ketua umum. Pasalnya, Airlangga Hartarto terbukti mampu membawa Partai Golkar keluar dari masa-masa sulit dan mengkonsolidasikan mesin partai pada Pemilu Serentak 2019.

“Pak Airlangga memang layak dipilih karena berhasil mempertahankan Golkar tetap nomor dua pada Pemilu 2019. Bahkan, layak untuk didukung kembali untuk menjabat ketua umum periode 2019-2024,”ungkapnya.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPD Partai Golkar DKI itu juga menjelaskan, di bawah kepemimpinan Airlangga Hartarto, Partai Golkar dinilai berhasil memperoleh capaian positif di Pemilu 2019.

“Pak Airlangga mampu menunjukkan kembali betapa Golkar memiliki ketahanan yang tinggi dalam menghadapi kesulitan sebesar apa pun. Golkar dengan terpaan badai topan dan tsunami politik selama 5 tahun, dualisme dan banyak kasus, ibarat seperti keadaan pesawat di ketingggian tertentu mengalami turbulensi cuaca, maka yang berperan adalah pilotnya. Kalau pilotnya piawai maka akan mendarat dengan mulus dan Pak Airlangga adalah pilot Partai Golkar yang handal, karena mengalami turbulensi, tidak memimpin dari awal dan menggantikan pilot sebelumnya, namun mampu menempati urutan kedua. Ini prestasi luar biasa,” pungkasnya. (Gan)