Tiga Strategi Malaysia Bersaing di ‘Pasar’ Pendidikan Tinggi Global

0

JAKARTA (Suara Karya): Malaysia kini menjadi salah satu pusat pendidikan yang diminati mahasiswa internasional. Setiap tahun, negara jiran tersebut menerima sekitar 40-50 ribu mahasiswa baru dari berbagai negara.

“Meski masih pandemi, permohonan untuk menjadi mahasiswa baru dari berbagai negara tetap tinggi. Pada 2021 lalu, kami menerima sekitar 40 ribu mahasiswa baru,” kata Menteri Penasehat (Pendidikan), Kedutaan Besar Malaysia, Prof Madya, Dr Mior Harris Mior Harun di Jakarta, Senin (21/3/22).

Dari jumlah itu, lanjut Mior Harris, mahasiswa baru terbanyak berasal dari China hingga 17 ribu orang. Posisi kedua diduduki Indonesia sebanyak 7.248 orang. Dan negara lainnya datang dari Bangladesh, Nigeria dan India.

“Kami menargetkan tahun ini ada 10 ribu pelajar Indonesia yang melanjutkan pendidikan tingginya di Malaysia. Dan jumlahnya ditingkatkan menjadi 20 ribu dalam tiga tahun kedepan. Butuh kerja keras dari semua pihak,” ujarnya.

Ditanya upaya Malaysia dalam menarik minat mahasiswa internasional, Mior Harris menyebutkan, ada tiga strategi. Pertama, pendidikan dengan biaya terjangkau. Biaya kuliah mahasiswa internasional pada beberapa kampus itu sama dengan mahasiswa lokal. Kalau ada perbedaan, jumlahnya sedikit lebih tinggi.

“Bandingkan dengan negara lain, mahasiswa internasional biasanya dikwnakan uang kuliah (tuition fee) tiga kali lipat lebih mahal dibanding mahasiswa lokal,” ujarnya.

Ditanya besaran uang kuliah, Mior Harris menyebut untuk kampus negeri umumnya sekitar Rp15-20 juta per semester, tergantung program studi yang dipilih. Untuk perguruan tinggi swasta, biasanya sekitar Rp30-40 juta per semester.

Sementara itu, biaya kuliah kampus cabang antar bangsa seperti Monash University, Curtin University atau Nottingham Unversity sedikit lebih mahal. Dibanding kuliah di kampus aslinya di Australia, belajar di Monash University di Malaysia tetap lebih ekonomis.

“Selain uang kuliah, biaya hidup dan akomodasi di Malaysia juga lebih murah dibanding Australia. Meski demikian, ijazah yang diberikan Monash seperti aslinya, tidak ada kata Malaysia. Ini bisa jadi peluang bagus bagi calon mahasiswa yang ingin berkarir di dunia global,” tuturnya.

Strategi kedua adalah penggunaan bahasa Inggris dalam setiap perkuliahan. Hal itu akan membantu mahasiswa saat ini terjun ke dunia global. “Kadang kuliah di Malaysia itu sekadar batu loncatan, bagi mereka yang ingin karir di kancah dunia. Karena terbantu dengan penguasaan bahasa Inggris yang sangat bagus,” katanya.

Mior Harris menambahkan, strategi ketiga adalah beberapa perguruan tinggi memiliki rangking dunia. Misalkan Univesitas Malaya yang berada di peringkat 57 dunia. Dan beberapa kampus lain dengan urutan rangking 200-400 di dunia.

“Ketiga strategi ini terus kita tingkatkan, sehingga perguruan tinggi Malaysia bisa menarik minat pelajar dari negara-negara lain,” katanya.

Soal beasiswa, Ketua Pegawai Eksekutif (CEO) EMGS, En Mohd Radzlan bin Jalaludin mengemukakan, Malaysia memiliki kuota hingga 100 kursi untuk diperebutkan mahasiswa internasional. Persaingannya terbilang ketat.

“Kendati demikian, perguruan tinggi swasta juga memiliki program beasiswa khusus untuk pelajar Indonesia. Salah satunya, Universitas Al Bukhori yang setiap tahun menerima mahasiswa kurang mampu dari Indonesia.

“Beasiswa ini dikelola bersama Baznas. Pemilihan hingga keberangkatan ditangani Baznas, setiba di Malaysia akan diurus EMGS,” kata Mohd Radzlan.

Program beasiswa lainnya adalah Malaysia International Scholarship (MIS) untuk pascasarjana dari Indonesia. Program tersebut bekerja sama dengan pemerintah daerah di Indonesia. “Ada sekitar 60 mahasiswa dari Nusa Tenggara Barat kuliah pascasarjana di Malaysia. Ini program kerja sama dengan Pemda NTB,” katanya.

Selain itu masih ada 46 mahasiswa Indonesia lainnya yang saat oni ikut program kerja sama Indonesia-Malaysia yang digagas Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim melalui program ‘Merdeka Belajar Kampus Merdeka’ (MBKM).

Tentang kemungkinan bekerja bagi mahasiswa international, Mior Harris menegaskan, hal itu belum bisa dilakukan. Karena pemerintah menetapkan kebijakan lulus tepat waktu bagi mahasiswa internasional.

“Saat ini lagi dibahas kemungkinan mahasiswa asing kerja paruh waktu di Malaysia. Tapi saat ini belum bisa. Kalaupun ada hanya dilakukan saat libur kuliah. Itu pun harus dapat izin dari dekan fakultas tempatnya kuliah,” kata Mior Harris menandaskan. (Tri Wahyuni)