Tim Mahasiswa ITS Berhasil Ubah Sampah Ampas Tebu jadi Biobriket

0

JAKARTA (Suara Karya): Tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil mengubah ampas tebu menjadi briobriket berbahan dasar bagasse dan limbah blothong, dengan tambahan kulit singkong.

“Inovasi ini tercipta akibat banyaknya bagasse atau ampas tebu dan limbah blothong yang dibiarkan begitu saja di lingkungan pabrik pengolahan tebu. Hal itu menimbulkan lingkungan yang tak sehat,” ujar ketua tim mahasiswa pencipta briobriket, Zakiyah Nur Rafifah dalam siaran pers yang dikeluarkan ITS, Jumat (7/5/2021).

Ia didampingi anggota tim lainnya, yaitu Dicka Tama Putra dan Fat’hul Mubin Gufron.

Meskipun dari departemen yang berbeda, ketiga mahasiswa tersebut mampu mengembangkan inovasi biobriket dengan memanfaatkan limbah, namun sangat bermanfaat untuk masyarakat. Dam biayanya pun murah, serta ramah lingkungan.

“Prinsip pembuatan biobriket dari bahan limbah ini tidak sulit, karena memiliki beberapa tahap,” ucap Zakiyah.

Ia menambahkan, tahapan itu mulai dari pembuatan adonan, pencetakan dan pengeringan hingga menjadi briket siap pakai. Hal terpenting dalam pembuatan biobriket adalah mengurangi kadar air dari bahan dasar briket dengan cara menjemur langsung di bawah sinar matahari.

“Jika sudah kering, bahan dasar itu baru digunakan untuk menjadi adonan dengan cara ditumbuk dan diberikan perekat hingga menjadi padat. Kepadatan itu sangat penting untuk kualitas biobriket. Semakin padat biobriket yang dihasilkan, maka makin tinggi daya nyala api yang dihasilkan,” ujarnya.

Zakiyah mengungkapkan, penggunaan bagasse dan limbah blothong sebagai bahan dasar biobriket karena faktor lingkungan. Hasil analisis menunjukkan bagasse memiliki karakteristik mudah terbakar, memiliki kandungan air, gula, serat, dan mikroba yang dapat melepaskan panas akibat fermentasi.

“Penambahan kulit singkong membuat biobriket semakin rendah kadar airnya. Hal itu akan mengefisienkan pembakaran,” katanya.

Hebatnya, tim tersebut hanya butuh waktu sekitar 2 minggu untuk menghasilkan biobriket, hingga akhirnya mendapat penghargaan perunggu dalam ajang “Smart Innovation and Ideas for Indonesia Transformation in Pandemic Era”.

Dalam waktu yang cukup singkat, ketiga mahasiswa itu berhasil mengumpulkan, mempelajari dan mengembangkan jurnal terdahulu sehingga tercipta inovasi biobriket tersebut.

Menurut Zakiyah, pengembangan inovasi biobriket masih bisa lebih dioptimalkan lagi. Ia juga mengungkapkan harapannya secara pribadi agar inovasi timnya bisa mendapat pendanaan yang cukup untuk mewujudkan harapanya menjadi nyata.

“Inovasi ini dapat digunakan untuk lingkungan yang lebih baik,” kata Zakiyah menandaskan. (Tri Wahyuni)