Tim Olimpiade Biologi Indonesia Raih Medali Emas di Hungaria

0

JAKARTA (Suara Karya): Empat siswa yang tergabung dalam Tim Olimpiade Biologi Indonesia (TOBI) berhasil mempertahankan tradisi emas dalam kompetisi International Biology Olympiad di Szeged, Hungaria, pada 14-21 Juli 2019. Mereka mendapat 1 emas, 2 perak dan 1 perunggu.

“Ini kado terindah jelang peringatan Hari Anak Nasional. Karena mereka membuktikan anak Indonesia tak kalah dibandingkan anak-anak di luar negeri,” kata Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Atas (SMA), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Purwanto Sutanto saat menyambut para juara di bandara Soekarno-Hatta, Tangerang Banten, Senin (22/7/2019).

Keempat siswa berpretasi itu adalah Aditya David Wirawan dari SMAK 1 Petra Surabaya berhasil meraih 1 medali emas, Nedi Sawego Yogya dari SMA Pribadi Bandung 1 medali perak dan Made Ayu Utami Intaran dari SMAN 21 DKI Jakarta 1 medali perak dan Hanif Al Husaini dari SMAN 1 Salatiga meraih 1 medali perunggu.

Purwanto mengutip pernyataan tertulis Chairman IBO, Prof Ryoichi Matsuda dalam sambutan tertulisnya saat membuka IBO ke-30 yang menarik untuk disimak para siswa Indonesia. Saat ikut perhelatan kelas internasional, jangan hanya datang untuk berkompetisi, tetapi juga pentingnya untuk melakukan kolaborasi dan membangun jejaring.

“Dua hal seperti kolaborasi dan membangun jejaring menjadi penting bagi para saintis muda agar memiliki karir yang bagus di masa depan. Apalagi mereka ingin berkarir di tingkat global,” ujarnya

Peraih medali emas IBO, Aditya David Wirawan mengaku lebih rileks saat mengerjakan soal IBO di Hungaria. Pada pelaksanaan IBO ke-29 di Irak pada 2018, David hanya meraih 1 medali perak. “Saya senang bisa meraih emas tahun ini. Kompetisinya juga lebih seru,” kata David.

Ia menjelaskan, kompetisi meliputi 4 topik praktikum dengan waktu 1,5 jam untuk masing-masing topik. Penelitian mencakup biokimia, fisiologi hewan dan biologi molekuler, anatomi hewan, ekologi dan sistematik tumbuhan serta bioinformatika dan neurobiologi.

Pada hari ketiga, lanjut David, para siswa diminta mengerjakan dua set soal teori dengan total waktu pengerjaan selama 6 jam. Kegiatan tes praktikum dilaksanakan di Andras Dugonics Piarist Grammar School, sedangkan tes teori di perpustakaan terbesar di Eropa Tengah di kampus Universitas Szeged.

Selama IBO, siswa didampingi 6 pendamping yang sekaligus berperan sebagai juri internasional. Mereka adalah Agus Dana Permana, Ahmad Faizal dan Ramadhani Eka Putra dari ITB (Institut Teknologi Bandung), Danang Chrysnanto dari kampus ETH Zurich dan Arif Ibrahim Ardisasmita dari University of Utrecht.

Selain menerjemahkan soal ke bahasa dari negara masing-masing, juri juga ikut menelaah soal-soal tes (praktikum dan teori). Hal itu dilakukan untuk menjaga kualitas agar sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang biologi modern.

David menambahkan, ia menjalani pelatihan penuh selama 2 minggu sebelum ke Hungaria. Dalam pelatihan itu siswa diberi banyak pelajaran, tak hanya materi yang berhubungan dengan materi lomba. “Karena kita pergi mewakili nama Indonesia,” katanya.

David mengatakan, ini merupakan IBO terakhirnya saat duduk bangku SMA. Tahun depan, ia berharap bisa tembus seleksi di kampus teknik terbaik dunia, Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika Serikat. Program studi, nantinya akan dipilih tak jauh-jauh dari mata pelajaran yang disukai yaitu biologi.

Dua pemenang lainnya yaitu Made Ayu Intaran telah diterima di Prodi Teknik Industri ITB dan Nedi Sawego Yogya di Prodi Teknik Elektro dan Informatika ITB. Sementara peraih perunggu Hanif Al Husaini sama dengan Aditya David masih duduk di bangkus kelas XII. (Tri Wahyuni)