Tinggi, Minat Kampus D-3 Naik Status jadi D-4

0
Dirjen Pendidikan Vokasi, Kemdikbud Wikan Sakarinto. (Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) memberi kesempatan kepada perguruan tinggi pemilik program diploma 3 (D-3) untuk meningkatkan statusnya menjadi sarjana terapan (D-4).

“Program tersebut merupakan terobosan untuk memaksimalkan penyerapan lulusan vokasi di dunia kerja,” kata Dirjen Pendidikan Vokasi, Kemdikbud Wikan Sakarinto dalam keterangan pers, di Jakarta, Selasa (15/12/20).

Hadir dalam kesempatan itu, Direktur Pendidikan Tinggi Vokasi dan Profesi, Ditjen Pendidikan Vokasi, Kemdikbud, Beny Bandanadjaya.

Wikan menegaskan, tawaran peningkatan status dari D-3 ke D-4 itu bersifat pilihan. Namum diharapkan, kampus memanfaatkan momentum tersebut, karena ada beberapa kemudahan yang ditawarkan, sehingga sayang jika dilewatkan.

“Bagi kampus peminat, kami memberi kemudahan dalam perizinan, termasuk urusan dengan pihak Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Selain bantuan dana untuk penguatan organisasi dan dilibatkan dalam program kerja sama dengan perguruan tinggi vokasi dari Jerman atau Taiwan,” ujarnya.

Wikan menambahkan, saat ini tercatat ada 18 perguruan tinggi dengan 276 program studi (prodi) yang menyatakan minat peningkatan status dari D-3 ke D-4. Hal itu diperoleh dari hasil survei kecil-kecilan yang dilakukan Ditjen Pendidikan Vokasi pada akhir November 2020 lalu.

“Survei itu dibuat guna mengetahui seberapa tinggi minat dan kesiapan perguruan tinggi untuk mengikuti peningkatan status dari D-3 ke D-4. Ternyata jumlahnya cukup banyak,” ujarnya.

Wikan menilai, banyak keuntungan untuk perguruan tinggi maupun lulusannya dengan adanya peningkatan status itu. Lulusannya tak perlu menambah kuliah S-1 lagi saat bekerja, karena kompetensi lulusan D-4 itu sudah setara S-1.

“Satu kelemahan dari lulusan program D-3 adalah ijazah tersebut kurang jika ingin meraih jabatan tertentu, terutama di perusahaan-perusahaan besar. Biasanya minimal pendidikan harus S-1 atau sarjana. Karena itu, banyak lulusan D-3 yang ambil kuliah lagi setelah pulang kerja,” tuturnya.

Belajar dari pengalaman itu, lanjut Wikan, lulusan D-4 tak perlu kuliah lagi demi memenuhi kualifikasi sarjana. Sebagai lulusan D-4, saat mulai merintis kerja pun bisa langsung meraih golongan 3A Bandingkan lulusan D-3 masuk kerja mulai dari golongan 2C.

“Kuliahnya hanya beda 1 tahun, tetapi meraih golongan dari 2C ke 3A butuh waktu kerja hampir 10 tahun. Itu salah satu alasan, kenapa kami ingin program D-3 di Indonesia naik status jadi D-4,” ujarnya.

Ditanya soal kebutuhan dosen serta sarana dan prasarana, Wikan mengatakan, hal itu bisa menggunakan SDM serta sarana dan prasarana yang ada. Karena kualifikasi untuk pembukaan D-4 hampir setara dengan D-3.

“Jadi pakai SDM dan sarana yang ada dulu. Untuk dosen, syarat untuk D-3 adalah lulusan S-2. Itu sama dengan D-4. Jadi tak terlalu terkendala. Kami akan bantu dana untuk penguatan baik dosen maupun sarana pembelajaran,” katanya.

Wikan menyebut sejumlah syarat untuk peningkatan status dari D-3 ke D-4, antara lain mendapat dukungan dari industri. Hal itu dibuktikan lewat dokumen kerja sama, termasuk penyediaan dosen ahli dari industri, tempat magang, hingga komitmen dalam rekrutmen lulusan.

Selain itu, kampus harus menunjukkan keunggulan dari program studi yang akan ditingkatkan. Prodi tersebut harus memiliki catatan lulusannya mudah terserap di dunia kerja serta rancangan pembelajaran dari Program Merdeka Belajar.

“Syarat lainnya adalah memiliki bukti kerja sama dengan perguruan tinggi asing bereputasi. Jika semua syarat itu terpenuhi, maka prosesnya akan jadi lebih mudah,” kata Wikan menandaskan.

Disinggung soal status akreditasi, Wikan mengatakan, kemungkinan terjadi penurunan status bisa saja terjadi karena prodi tersebut belum memiliki lulusan. Namun, hal itu tidak jadi masalah. Karena dalam 2 tahun kedepan akan ada lulusan. Sehingga status prodi tersebut bisa naik kembali. (Tri Wahyuni)