Tingkatkan Mutu Lulusan, Kemdikbud ‘Re-branding’ Pendidikan Vokasi

0
Dirjen Pendidikan Vokasi (Diksi), Kemdikbud, Wikan Sakarinto. (Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) akan melakukan ‘rebranding’ pendidikan vokasi. Upaya itu dilakukan guna meningkatkan mutu lulusan, baik di jenjang sekolah menengah kejuruan (SMK) maupun di pendidikan tinggi.

“Kami ingin program link&match dengan industri diterapkan dengan strategi paket 8+1. Jadi tak sekadar menandatangani perjanjian kerja sama, tetapi harus benar-benar saling berkolaborasi,” kata Dirjen Pendidikan Vokasi (Diksi), Kemdikbud, Wikan Sakarinto dalam keterangan pers, Sabtu (9/1/21).

Wikan menyebut salah satu strategi yang akan diterapkan Ditjen Diksi adalah menerapkan program link&match paket 8+1. Kedua adalah ‘rebranding’ pendidikan vokasi serta merombak mindset atau pola pikir sumber daya manusia (SDM) pendidikan vokasi.

“Paket 8+1 adalah cakupan penyelarasan kurikulum satuan pendidikan vokasi dengan industri. Yaitu, pengembangan softskill dengan project base learning, guru tamu dari industri mengajar di satuan pendidikan vokasi (minimal 50 jam per semester per prodi),” ujarnya.

Selain itu, lanjut Wikan, harus ada program magang bagi siswa maupun mahasiswa minimal satu semester, penerbitan sertifikasi kompetensi, pendidikan dan pelatihan pengajar pendidikan vokasi di industri, riset terapan yang menghasilkan produk untuk masyarakat serta komitmen serapan lulusan oleh dunia usaha dan industri (DUDI).

“Sedangkan +1 adalah bantuan beasiswa maupun ikatan dinas yang diberikan dunia usaha dan industri,” katanya.

Soal ‘re-branding’, Wikan menjelaskan, pihaknya akan melakukan strategi pemasaran dengan berbagai konten untuk menarik minat masyarakat terhadap pendidikan vokasi. Strategi itu memanfaatkan platform digital bagi milenial.

“Selain media cetak konvensional, kami akan ‘re-branding’ melalui media sosial dalam bentuk video, film maupun lagu, dan lain. Upaya itu dilakukan tim ahli di Sekretariat Ditjen Diksi. Termasuk didalamnya Direktorat Kemitraan dan Penyelerasaan Dunia Usaha dan Industri (Mitras DUDI),” ucapnya.

Terkait perombakanan mindset SDM pendidikan vokasi, Wikan menjelaskan, pihaknya harus mulai berani mendorong para pimpinan maupun pengajar satuan pendidikan vokasi untuk mengubah karakternya demi melakukan berbagai inovasi bagi pendidikan vokasi.

“Saat ini tercatat ada lebih dari 3 ribu pimpinan dan pengajar SMK yang dapat pelatihan tentang mindset, leadership dan kompetensi produktif pada 2020 lalu. Kami akan beri dukungan, berupa bantuan dana maupun kebijakan, agar hasilnya seperti yang diharapkan,” katanya.

Ditambahkan, pihaknya juga membentuk Forum Pengarah Vokasi (Rumah Vokasi) yang beranggotakan 50 orang tokoh dari berbagai latar belakang seperti pemimpin dunia usaha dan industri, misalkan Kadin, Apindo, BUMN, asosiasi profesi dan kawasan industri.

Wikan mengungkapkan, selama 6 bulan terakhir terjadi peningkatan pemahaman dan juga gairah, baik dari satuan pendidikan vokasi maupun dunia usaha dan industri. Hal itu dibuktikan lewat program link&macth yang secara nyata antara satuan pendidikan vokasi dengan DUDI.

“Paket 8+1 ini sudah diwujudkan ribuan SMK serta ratusan perguruan tinggi vokasi (PTV) dan lembaga kursus dan ketrampilan (LKP),” katanya.

Wikan mengungkapkan, ada perubahan mindset dari para pimpinan satuan pendidikan vokasi di Tanah Air yang kini lebih terbuka dan berani melakukan terobosan untuk mewujudkan link& match yang seutuhnya.

Ditambahkan, tak hanya satuan pendidikan vokasi, pihak industri juga kian terbuka untuk melakukan kerja sama dengan satuan pendidikan vokasi. “Kami telah memberi penghargaan kepada 40 IDUKA (dunia indusri, usaha dan kerja) baik swasta maupun BUMN karena ikut membina puluhan, bahkan ratusan, satuan pendidikan vokasi,” kata Wikan menandaskan. (Tri Wahyuni)