Tingkatkan SDM Kampus, Kemdikbud Kembali Gelar World Class Professor

0
Dirjen Pendidikan Tinggi Kemdikbud, Nizam dalam webinar bertajuk 'Annual World Class Professor' 2020 yang digelar secara virtual, Sabtu (12/12/20). (Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) kembali menggelar program ‘World Class Professor’ (WCP). Program yang digagas sejak 2017 itu bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di perguruan tinggi.

“Lewat WCP, diharapkan terjadi interaksi dan kolaborasi antara dosen kita di Tanah Air dengan sejumlah profesor kelas dunia,” kata Dirjen Pendidikan Tinggi Kemdikbud, Nizam dalam webinar bertajuk ‘Annual World Class Professor’ 2020 yang digelar secara virtual, Sabtu (12/12/20).

Ditambahkan, program WCP kembali diadakan karena selaras dengan Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang digulirkan Mendikbud Nadiem Makarim. Program itu akan dimanfaatkan pula untuk mendongkrak peringkat perguruan tinggi dalam negeri agar mencapai 500 hingga 100 kelas dunia.

“Keberhasilan itu tak lepas dari hasil riset perguruan tinggi yang tayang di publikasi internasional. Bicara soal publikasi internasionap, prestasi Indonesia sebenarnya telah melebihi negara-negara di ASEAN. Tetapi, upaya itu harus dioptimalkan secara kualitas, lewat program semacam WCP ini,” ujarnya.

Disebutkan, beberapa syarat yang harus dipenuhi perguruan tinggi pengusul, antara lain akreditasi institusi perguruan tinggi minimal B, perguruan tinggi pengusul wajib mengurus dokumen imigrasi bagi profesor yang akan diundang, utamakan mereka yang mau berbagi biaya (cost sharing) dalam pelaksanaan.

“Setiap perguruan tinggi pengusul dapat mengusulkan lebih dari satu proposal,” ujarnya.

Nizam menyatakan, riset, inovasi berbasis pengetahuan dan teknologi memainkan peran penting dalam meningkatkan ekonomi bangsa. Karena itu, selain untuk publikasi internasional, hasil riset anak bangsa penting untuk dihilirisasi agar berguna untuk masyarakat dan industri.

“Kami akan dorong setiap inovasi memiliki paten. Penggunaan karya intelektual itu nantinya bisa dimanfaatkan dunia industri, masyarakat, UMKM, pembangunan desa dan pembangunan masyarakat secara luas.

“Pemerintah telah membuat platform Kedaireka untuk menghubungkan dosen dan mahasiswa dengan mitra industri. Begitu juga sebaliknya, menghubungkan permasalahan dari dunia industri untuk menjadi agenda di perguruan tinggi,” katanya.

Nizam mengakui, selama riset di perguruan tinggi masih berjalan sendiri-sendiru. Sehingga sulit dilakukan hilirisasi. Dibutuhkan peran industri untuk mencapai tujuan itu. Relevansi dari riset akan lebih cepat masuk ke pasar, yang pada akhirnya akan menggerakkan industri dan produktivitas nasional.

“Hal itu sebenarnya bagian dari indikator kinerja utama (IKU) perguruan tinggi nomor 5. Mahasiswa harus dilibatkan dalam riset yang dikembangkan dalam penelitian yang dilakukan dosen,” ujarnya.

Ditambahkan, tugas utama perguruan tinggi adalah mendidik dan menyiapkan sumber daya manusia unggul. Ketika inovasi diciptakan, mahasiswa harus dilibatkan sehingga mereka menjadi kreator ilmu pengetahuan dan teknologi di maaa depan.

Sementara itu, Direktur Sumber Daya Ditjen Dikti, Kemdikbud, Sofwan Effendi menjelaskan, Program WCP telah menghasilkan luaran berupa ‘joint publication’ di jurnal internasional bereputasi minimal dalam status ‘under review’ serta menjadikan pengusul sebagai ‘first author’. Sedangkan mitra kerja dari WCP adalah ‘co-authors’.

“Sejak 2017 luaran yang sudah mencapai ‘published” pada jurnal internasional bereputasi Q1 dan Q2 ada 370 artikel. Luaran dengan posisi ‘under review’ ada 32 artikel. Dalam posisi ‘accepted” dan ‘submitted’ sebanyak 34 artikel, dimana posisi itu akan berubah ke posisi ‘under review’ atau ‘published’,” ujar Sofwan.

Selain ‘joint publication’, lanjut Sofwan, program WCP juga menghasilkan luaran lain, yaitu dokumen pengembangan program ‘capacity building’, ‘double degree’, ‘joint degree’, pengembangan kurikulum atau mekanisme transfer kredit untuk mendukung akreditasi perguruan tinggi secara internasional atau akreditasi prodi internasional. (Tri Wahyuni)