Tingkatkan Sumber Daya, Kemenkop Lakukan Sinergi di Sektor Industri Komponen Otomotif

0
Asisten Deputi Industri dan Jasa Deputi Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM, Ari Anindya Hartikasisten Deputi Industri dan Jasa Deputi Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM, Ari Anindya Hartika.

JAKARTA (Suara Karya): Sektor industri komponen otomotif diharapkan mampu memberikan peran dan sumbangsih dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya serta perluasan lapangan dan kesempatan kerja di Tanah Air, khususnya bagi koperasi dan pelaku UKM di sektor ini.

Sayangnya, KUKM komponen otomotif dinilai masih menghadapi permasalahan, terutama menyangkut permodalan, kapasitas SDM, iklim usaha, dan akses pemasaran.

Terkait dengan itu, Kementerian Koperasi dan UKM melakukan sinergi antar kementerian atau lembaga dan stakeholder lainnya, termasuk Institut Otomotif Indonesia (IOI), untuk mengembangkan industri komponen otomotif yang dilakukan koperasi dan UKM, di Karawang, Jawa Barat.

Asisten Deputi Industri dan Jasa Deputi Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM, Ari Anindya Hartika mengatakan, kerjasama ini, bertujuan untuk untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing KUKM komponen otomotif.

“Sebagai salah satu sektor strategis, industri komponen diharapkan mampu memberikan peran dan sumbangsihnya, baik dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya maupun perluasan lapangan dan kesempatan kerja. MoU ini, bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing KUKM komponen otomotif,” ujar Ari, pada acara penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Asosiasi Pengusaha Engineering Karawang (APEK) dengan Institut Otomotif Indonesia (IOI), di Karawang, Jawa Barat, Selasa (4/9).

Sebab, ujar Ari, untuk mewujudkan komitmen tersebut, dibutuhkan strategi dan upaya yang terencana, terpadu lintas sektor, bertahap dan berkesinambungan dalam rangka peningkatan kapasitas dan wawasan pelaku usaha KUKM bidang industri komponen.

Menurut Ari, Institut Otomotif Indonesia (IOI) sebagai organisasi independen, didirikan pemerintah dalam rangka pengembangan tiga pilar utama yang dibutuhkan dalam pengembangan otomotif nasional.

Yaitu, pengembangan supply chain/vendor, pengembangan SDM dan pengembangan teknologi, serta membantu pemerintah dalam merumuskan kebijakan strategi (think tank) dan sekaligus menjadi fasilitator/mediator untuk mengembangkan aspek-aspek dalam tiga pilar utama tersebut.

“Sebagai salah satu bagian pengembangan industri otomotif nasional pada pilar pengembangan supply chain/vendor, maka IOI melakukan MoU dengan APEK, dimana IOI akan mendorong dan memfasilitasi kerjasama antara industri otomotif dengan UKM komponen, sehingga diharapkan bisa terjadi sharing best practise dari satu vendor ke vendor lain.

Dan vendor lain, katanya, bisa menjadikan ‘best practice’ tersebut, sebagai referensi ketika mengembangkan industri di tempat masing-masing.

Sedangkan APEK, dianggap sebagai wadah kader wirausaha yang memiliki kepedulian terhadap permasalahan yang dihadapi bangsa dan sebagai salah satu solusi alternatif dalam membantu menyerap angkatan kerja di Kabupaten Karawang.

APEK terdiri dari 45 perusahaan member dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 1050 Orang yang mempunyai bidang usaha bervariasi di bidang engineering diantaranya, manufaktur, sparepart otomotif dan industri, OEM part, machining, SPM, otomasi, Tools & Dies, Plastic Forming, M/E, Service and Maintenance, dan sebagainya.

“Selama lima tahun APEK berjalan menjadi wadah bagi pelaku UKM/IKM Engineering di Karawang yang telah menjadi bagian dan mitra aktif pemerintah di semua jenjang, dari pemerintah daerah sampai pemerintah pusat melalui Dinas dan Kementerian serta stakeholders terkait, untuk mengawal perkembangan Industrial Engineering di Karawang”, ujar Ari menambahkan.

Sebagai tindak lanjut penandatanganan kerjasama ini, Ari berharap APEK dan asosiasi KUKM lainnya di Indonesia, dapat mengisi ‘supply chain’ kebutuhan komponen industri otomotif nasional, bukan dari impor. (Gan)