Suara Karya

Transportasi Masih Jadi Penyumbang Inflasi Tertinggi di Jakarta

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DKI Jakarta Arlyana Abubakar, (Foto: suarakarya.co.id/Bayu Legianto)

JAKARTA (Suara Karya): Kenaikan tarif transportasi, tercatat sebagai penyumbang kenaikan angka inflasi tertinggi di Jakarta yakni sebesar 0,71 mtm. Inflasi pada kelompok tersebut terutama didorong oleh kenaikan tarif angkutan udara dan angkutan antar kota sebagai dampak dari tingginya permintaan pada periode libur anak sekolah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta Arlyana Abubakar, mengatakan selanjutnya kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga sebagai penyumbang inflasi yakni sebesar 0,29% mtm. Angka itu lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya (0,20% mtm) sehingga memberikan andil sebesar 0,06%.

Menurut Arlyana, kenaikan inflasi pada komoditas tersebut terutama bersumber dari peningkatan harga pada komoditas daging ayam ras dan telur ayam ras sejalan dengan meningkatnya harga pakan dan meningkatnya permintaan masyarakat pasca kepulangan haji.

“Harga cabai merah juga meningkat. Hal ini didorong oleh menurunnya pasokan akibat telah berlalunya periode panen di daerah sentra produksi,” kata Arlyana melalui keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Rabu (2/8/2023).

Sementara itu kata dia, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran juga mengalami inflasi sebesar 0,17% (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan lalu (0,06% mtm) dan memberikan andil sebesar 0,02%. Kenaikan inflasi pada kelompok tersebut terutama disebabkan oleh kenaikan harga pada ketoprak, sate, dan ayam bakar sejalan dengan kenaikan harga bahan baku pangan (daging ayam ras dan telur ayam ras).

Sekadar informasi, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Juli 2023, Jakarta yang share inflasinya 26,90% terhadap nasional, mencatatkan inflasi sebesar 0,19% mtm dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,01% mtm.

Inflasi Jakarta secara kumulatif (Januari-Juli 2023) tercatat sebesar 1,14% (ytd). Namun demikian, secara tahunan inflasi Ibu Kota ini masih terkendali yaitu sebesar 2,81% yoy, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya (3,20% yoy) dan inflasi nasional (3,08% yoy).

Dia menegaskan, realisasi inflasi DKI Jakarta yang masih terkendali tentunya tidak terlepas dari hasil sinergi, kolaborasi serta koordinasi yang baik dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi DKI Jakarta, termasuk dalam rangka implementasi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

Diketahui, selama Juli 2023, TPID Provinsi DKI Jakarta telah melakukan berbagai kegiatan dalam rangka pengendalian inflasi, antara lain:
a. Coaching clinic bumbu pangan olahan UMKM binaan/mitra KPw BI Provinsi DKI Jakarta dalam rangka penguatan hilirisasi pangan;
b. Kunjungan bersama Perumda Pasar Jaya ke Pasar Tanah Tinggi Tangerang Banten dan PT Berdikari dalam rangka sinergi ketahanan pangan dan pengelolaan pasar serta kolaborasi dalam pemenuhan pasokan daging sapi dan daging ayam ras di DKI Jakarta;
c. Visitasi dan monitoring pasokan pangan oleh Food Station ke mitra kerjasama on farm dan stand by buyer;
d. Gerakan Pangan Murah berkolaborasi dengan Perumda Dharma Jaya dalam rangka pemenuhan permintaan daging ayam ras; serta
e. Rapat koordinasi TPID mingguan dalam rangka pemantauan stok dan harga.

“Ke depan, sinergi dan kolaborasi antara Pemerintah Pusat dan Daerah dengan Bank Indonesia serta seluruh stakeholder terkait yang tergabung dalam TPID Jakarta akan terus diperkuat untuk memastikan strategi 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi Efektif) dalam pengendalian inflasi dapat berjalan baik dan efektif, serta terus mendorong Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) sehingga inflasi Jakarta diharapkan dapat tetap terkendali dalam sasaran 3,0±1% pada sisa tahun 2023,” ujarnya. (Boy)

Related posts