Trend Sunat bagi Pria Dewasa, Metode Apa yang Paling Aman?

0

JAKARTA (Suara Karya): Sirkumsisi atau sunat sudah lama diketahui memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, mulai dari menurunkan risiko infeksi saluran kemih, penyakit menular seksual hingga risiko terkena kanker prostat dan kanker serviks. Karena alasan itulah, trend sunat meningkat di kalangan pria dewasa.

“Tingginya minat sunat di kalangan pria dewasa itu muncul dari pihak perempuan yang menjadi pasangannya. Jadi sunat bukan semata aspek agama dan budaya, tetapi aspek kebersihan dan kesehatan,” kata praktisi kesehatan seksual, Boyke Dian Nugraha dalam diskusi bertema sunat bagi pria dewasa secara virtual, Kamis (8/4/2021).

Pembicara lain dari diskusi itu Ketua PP Ikatan Ahli Bedah Indonesia (IKABI), Andi Asadul Islam dan youtuber asal Jepang yang mahir berbahasa Indonesia bernama Genky.

Boyke menjelaskan, jika tidak disunat, kondisi normal kepala penis pria tertutup oleh kulup atau kulit. Butuh pembersihan secara berkala bagi pria yang tidak disunat, agar terhindar dari penyakit. Salah satunya bersumber dari virus.

“Virus HPV atau Human Papillomavirus memicu terjadinya penyakit menular seksual. Virus itu dalam kondisi tertentu bisa memicu kanker. Selain itu, pria yang tidak disunat, berpotensi memiliki kotoran, bakteri, atau virus lain di sekitar kepala penis,” tuturnya.

Demi kesehatan dan kebahagiaan seksual, lanjut Boyke, banyak perempuan meminta calon suaminya untuk bersunat. Hal itu disampaikan narasumber misterius bernama Mawar yang mengaku banyak perbedaan saat berhubungan badan dengan suaminya belum disunat dan sesudahnya. “Jadi terasa lebih nyaman saja,” ucapnya.

Hal senada dikemukakan Genky, lajang asal Jepang yang belum lama ini melakukan sunat di Indonesia. “Meski budaya Jepang tidak dikenal sunat, ini saya lakukan demi kesehatan,” ujarnya.

Ia memilih Indonesia untuk bersunat, karena dinilai memiliki berpengalaman paling panjang dibandingkan negara lainnya. “Saya pikir sunat itu semacam operasi yang butuh waktu 1-2 jam. Jadi sebelum disunat deg-degan terus. Ternyata prosesnya cepat sekali, tak sampai 5 menit,” ujarnya.

Ditanya apakah melakukan sunat karena ingin menikah dalam waktu dekat, Genky menyatakan, itu bukanlah alasannya untuk sunat. Upaya itu dilakukan demi kesehatan semata.

Ketua PP Ikatan Ahli Bedah Indonesia (IKABI), Andi Asadul Islam menjelaskan, perbedaan antara sunat saat masih kecil dan dewasa. Karena pada orang dewasa, dikhawatirkan penis tiba-tiba ereksi yang akan menimbulkan pendarahan di area kelamin pascasunat.

Dari sejumlah metode sunat yang ada, seperti konvensional, laser atau electric couter dan klamp, apakah prosedur yang paling dianjurkan untuk pria dewasa?

Andi Asadul mengemukakan, pada awalnta sunat dilakukan dengan cara konvensional. Didahului anestesi, terus dipotong sedikit dari atas, melingkar ke kanan, lalu melingkar ke kiri baru dijahit. Pemotongan seperti itu, memiliki banyak risiko seperti perdarahan dan infeksi karena ada yang luka terbuka.

Pada laser, lanjut Andi, digunakan semacam lempeng besi tipis yang dipanaskan dengan listrik. Prinsipnya, sama seperti solder. Ketika ujung lempeng menyala proses pemotongan pun dilakukan.

Berbeda dengan metode klamp, dimana prosedur dilakukan tanpa jahitan dan menggunakan semacam alat penjepit. jika menggunakan klamp, maka diameter penis maksimal yang dikhitan yakni 3,4 cm.

“Risiko perdarahan saat khitan, tergantung ukuran penis. Sebab, makin besar ukuran penis, makin besar juga pembuluh darah sehingga risiko perdarahan makin besar,” kata Andi menandaskan. (Tri Wahyuni)