TSRA Dorong Mahasiswa Kembangkan Inovasi Berbasis Kewirausahaan

0
Head of Scholarship & Leadership Development Tanoto Foundation, Aryanti Savitri. (suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Tanoto Foundation kembali menggelar Tanoto Student Research Award (TSRA), sebuah kompetisi bagi mahasiswa yang mendorong terciptanya inovasi berbasis kewirausahaan. Inovasi itu penting untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Tanah Air.

“Inovasi juga dapat menciptakan efisiensi dalam perekonomian, sehingga produk yang dihasilkan semakin kompetitif,” kata Head of Scholarship & Leadership Development Tanoto Foundation, Aryanti Savitri dalam acara media briefing secara virtual, Rabu (24/2/2021) terkait pelaksanaan kompetisi nasional TSRA.

Aryanti menjelaskan, TRSA merupakan inisiatif Tanoto Foundation dalam mendukung generasi muda untuk berinovasi melalui penelitian terapan di kampus masing-masing. Selain juga membangun potensi hilirisasi penelitian.

“Lewat kegiatan TSRA, kami ingin membantu pemerintah dalam meningkatkan jumlah peneliti, terutama peneliti yang tumbuh dari perguruan tinggi di Tanah Air,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan ‘TSRA National Competition’ tak hanya mencakup perlombaan dan penjurian saja tetapi juga kuliah ‘Credit Earning’. Hal itu merupakan aktivitas belajar di luar kampus, dimana mahasiswa mengikuti perkuliahan metode lenelitian dari IPB University, yang selanjutnya dapat diklaim dalam satuan kredit semester (SKS).

“TSRA National Competition adalah salah satu perwujudan komitmen Tanoto Foundation dalam mendukung program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang digulirkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” tuturnya.

Untuk sinergitas lebih lanjut dengan program Kampus Merdeka, lanjut Aryanti, TSRA juga mengundang perwakilan dari Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), serta Kedaireka, platform baru yang mendekatkan peneliti di kampus dengan DUDI. Platform tersebut dikembangkan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kemdikbud.

Ditambahkan, TSRA telah berjalan sejak 2007 yang melibatkan sejumlah perguruan tinggi, seperti IPB University, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Hasanudin (Unhas).

“Pada 2021 ini, terpilih 24 tim finalis TSRA yang dikompetisikan secara nasional dalam 2 kategori, yaitu teknologi dan sains,” ucap Aryanti.

Ia menyebut, tim dari IPB University merupakan salah satu pemenang untuk kategori teknologi. Hasil inovasinya berupa alat pendeteksi kualitas minyak goreng portable.

Seperti dijelaskan anggota tim dari IPB University, Abdul Azim, idenya tersebut muncul saat sidang pengujian kualitas pangan di laboratorium. “Kami sadar, inovasi ini akan memakan waktu yang lama. Tetapi teknologi uji kualitas pangan ini dapat lebih cepat mengetahui kualitas pangan terbaik,” katanya.

Pemenang untuk kategori sains diraih tim dari Universitas Brawijaya Malang. Achmad Roekhan menjelaskan, penelitiannya tentang kemampuan multifungsi konsorsium bakteri kitinolitik dalam budidaya tanaman kedelai.

“Bakteri Kitinolitik dapat memacu pertumbuhan pada tanaman kedelai dan menjaga kelestarian lingkungan,” kata Achmad menandaskan. (Tri Wahyuni)