Tsunami Tunda Mimpi Banten Sebagai Bali Baru

0
Foto Istimewa

Teriakan histeris terdengar mengiringi masyarakat dan wisatawan yang berada di wilayah Anyer hingga Tanjung Lesung, Banten pada Sabtu (23/12/2018) pukul 21.27 WIB. Mereka nampak berlari berhamburan menyelamatkan diri dari bencana tsunami yang menerjang wilayannya.

Rasa ketakutan nampak jelas terlihat di wajah ribuan warga yang bermukim di pesisir pantai maupun wisatan yang sedang menikmati liburan. Sebagian dari mereka terlihat berlari dengan menjinjing barang bawaan dan ada juga perempuan menggendong anak, pontang-panting berhamburan namun tak tentu arah.

Mereka semuanya panik. Ingin menyelamatkan diri saat gemuruh angin yang datang bersama ombak tinggi dari tengah laut, menggulung berkejaran menerjang daratan.

Foto Istimewa

Wisatawan yang akan menghabiskan malam libur panjang di Anyer dan Tanjung Lesung, tak menyangka musibah tsunami datang menghampiri mereka.

Padahal, untuk menikmati liburan itu, wisatawan ada yang sengaja menginap di sejumlah hotel dan cottage, namun tidak sedikit juga yang akan menghabiskan malam panjangnya dengan hanya mengobrol di warung-warung di pinggir pantai yang berada di sepanjang Anyer hingga Tanjung Lesung.

Mereka yang berada di kamar hotel maupun cottage, bisa jadi sedang asyik lalu terperangkap oleh genangan air laut dan ambruknya bangunan tempat mereka menginap.

“Saya saat itu bersama satu orang teman tidak berada di kamar hotel. Kami ngobrol di pantai dan langsung berlari ke dataran yang lebih tinggi ketika air laut terlihat mulai pasang tak seperti biasanya,” kata Andrey lelaki 35 tahun, salah seorang pengunjung pantai Anyer yang berhasil lolos dari maut, karena lari ke dataran lebih tinggi.

Dia bercerita, masing-masing dari mereka berusaha menyelamatkan diri pada ketinggian dataran, saat secara tiba-tiba ombak laut saling kejar, bergulung dalam bentuk tsunami,malam itu.

Namun apa hendak dikata. Tuhan berkehendak lain atas upaya penyelamatan diri ratusan orang dari berbagai daerah yang akan menghabiskan malam liburnya di kawasan pantai tersebut, ikut menjadi korban tersapu gelombang tsunami.

Berdasarkan catatan, jumlah korban meninggal terbanyak merupakan para wisatawan serta  beberapa lainnya warga setempat yang melakukan aktivitas berjualan di kawasan wisata tepi pantai.

Setidaknya tercatat 281 orang korban meninggal dunia, digulung air laut dalam bentuk tsunami malam itu. Catatan lain menyebutkan sebanyak 30 orang dinyatakan hilang tak ditemukan oleh tim evakuasi, selama lebih dari 11 jam sejak awal peristiwa.

Foto Istimewa

Korban terbanyak merupakan pengunjung hotel dari luar daerah Banten yang menginap di villa dan cottage malam itu. Mereka terkubur diantara reruntuhan puing bangunan. Sedangkan yang lainnya menghilang terseret ombak, entah kemana.

Sementara korban lainnya merupakan wisatawan yang biasa menghabiskan malam dengan bercengkrama ria di pantai, tanpa menginap di hotel. Mereka yang termasuk tidak menyewa hotel, cottage dan villa serta pedagang pada malam itu, kendati ada yang menjadi korban tewas, namun relatif lebih banyak selamat dari maut.

Berbagai sumber menyebutkan, kerusakan terparah dan terbanyak menelan korban jiwa adalah mereka yang berada di kawasan wisata Tanjung Lesung di Kabupaten Pandeglang. Saat peristiwa terjadi, di kawasan Tanjung Lesung sedang berlangsung pertunjukan hiburan musik dangdut. Diantara pengunjung umum terdapat rombongan dari PLN dan Kementerian Pemuda dan Olahraga yang tengah menyelenggarakan suatu acara.

Tidak hanya itu, beberapa anggota grup musik yang manggung membelakangi laut dan menghadap arah sejumlah kamar hotel di Tanjung Lesung dikabarkan tewas serta diantaranya hilang terseret air laut. Salah satu media online memberitakan, istri dari anggota grup ini hilang dan belum ditemukan, hingga beberapa waktu lamanya.

Sekedar diketahui, Tanjung Lesung merupakan kawasan proyek Strategis Nasional (PSN) dan menjadi salah satu dari 10 destinasi pariwisata Bali baru. Pihak Kementerian Pariwisata dan Tim Percepatan Pembangunan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas, baru saja menyertakan Tanjung Lesung untuk mengikuti kegiatan promosi, termasuk Economic Forum 2018 yang digagas oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Seoul serta China International Travel Mart di Shanghai pada 16-18 November 2018 lalu.

Tanjung Lesung disebut sebagai salah satu dari destinasi wisata Bali baru dan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Setelah itu terdapat  KEK Morotai di Maluku Utara, KEK Mandalika di Nusa Tenggara Barat dan KEK Tanjung Kelayang di Bangka Belitung.

Destinasi wisata Tanjung Lesung sebelum peristiwa tsunami malam itu, terus dipercantik. Sejumlah fasilitas penunjang untuk menjadikan KEK Tanjung Lesung menjadi Bali Baru, disuport  penuh oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Semangat untuk menjadikan Tanjung Lesung sebagai destinasi wisata mesin pencari uang, antara lain ditandai dengan dibangunnya  jalan bebas hambatan (tol) Serang-Panimbang sepanjang 83 kilometer, dengan total biaya mencapai Rp 5,3 triliun, yang dimulai sejak bulan Mei 2018.

Tawaran menginap di sejumlah villa di Tanjung Lesung yang dimulai dari tariff sewa semalam Rp 701 ribuan hingga hamper Rp 2 jutaan lebih sungguh lebih murah dibanding dengan harga sewa sejumlah hotel di kawasa hotel Anyer yang mencapai Rp 2,5  jutaan. Ini semua dilakukan, tentu untuk menjadikan Tanjung Lesung sebagai destinasi wisata semakin terkenal.

Namun apa hendak dikata, bencana tsunami yang terjadi dan memporak-porandakan seluruh kawasan Anyer hingga KEK Tanjung Lesung, bisa jadi akan melunturkan jaminan rasa aman berwisata bahari di Banten. Gaung promosi aman, sambil menyaksikan fenomina alam dari anak Gunung Krakatau, yang sesekali terbatuk dan mengeluarkan asap tebal dari pantai Anyer dan Tanjung Lesung, telah luntur akibat tsunami tanpa sebelumnya ditandai gempa malam itu.

Dengan demikian, Pemprov Banten harus bisa lebih bersabar untuk bisa berbangga diri dalam menonjolkan industri pariwisatanya yang saat ini sedang dilanda musibah. Perbaikan infrastruktur harus dikebut pasca tsunami yang menghantam wilayah itu.

Dengan demikian, masyarakat dan pemerintah Provinsi Banten harus kembali menunggu untuk menjadikan Banten sebagai salah satu Bali barunya Indonesia.

Padahal Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Banten Ahmad Sari Alam, dalam keterangan pers  sebelumnya–bahwa tingkat okupansi hotel di wilayah Provinsi Banten menjelang perayaan natal dan pergantian tahun 2018-2019 terus naik. “Biasanya seluruh hotel, sudah mempersiapkan agenda kegiatan saat momen itu, sampai”.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) masih menyelidiki penyebab pasti penyebab tsunami. Masih dalam dugaan, tsunami tersebut disebabkan longsor bawah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

Dampak pemberitaan media massa–baik dalam dan luar negeri, yang secara terbuka memberitakan peristiwa maut, serta kerugian yang diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah tersebut, pasti akan membuat calon pengunjung merasa takut. Kalau sudah demikian–dampaknya akan membuat Dunia Wisata Bahari Banten Menangis. (Wisnu Bangun)