Tulari 957 Warga, Pacitan Nyatakan KLB Hepatitis A

0

JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah Kabupaten Pacitan, Jawa Timur menyatakan kasus terjangkitnya 967 warga oleh virus hepatitis A di wilayahnya sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Faktor penyebabnya masih diselidiki, namun diduga karena 2 hal.

“Kemungkinan penularan dari air sungai Sukorejo yang tercemar atau konsumsi cincau yang dibuat dari air mentah,” kata Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Kementerian Kesehatan, Anung Sugihantono di Jakarta, Senin (1/7/2019).

Anung dalam kesempatan itu didampingi Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, drg Widyawati.

Anung menjelaskan, kasus Hepatitis A diketahui sejak 28 Mei lalu ketika ada 1 warga dusun Rejoso yang mengalami gejala yang dikenal sebagai hepatitis A. Dua minggu kemudian, kasusnya terus merebak. Hal itu diketahui dari data warga yang berobat di 9 Puskesmas di desa tersebut.

Disebutkan kasus terbanyak ada di desa Sudimoro dengan catatan 524 kasus, Ngadirojo 164 kasus, Sukorejo 82 kasus, Tulakan 69 kasus, Wonokerto 53 kasus, Arjosari 33 kasus, Bubakan 25 kasus, Tegalombo 4 kasus dan Kertowonojo 3 kasus.

“Dari total 957 warga yang terjangkit virus, 41 orang diantaranya harus dirawat di rumah sakit. Sisanya berobat jalan. Mereka diberi obat, vitamin dan diminta untuk beristirahat di rumah. Penderita hepatitis A sebagian besar mengalami penyembuhan sendiri,” ujar Anung seraya menambahkan kematikan akibat hepatitis A sangat kecil.

Menurut Anung, Pemda dapat menyatakan daerahnya sebagai KLB jika jumlah korban meningkat cepat. Penetapan status KLB diperlukan untuk memudahkan dalam koordinasi lintas sektor, surveilans, penanganan korban hingga alokasi anggaran agar kasus tak semakin meluas.

Gejala penyaki hepatitis A, disebutkan, tidak enak badan, nyeri kepala, lessu demam, diare, mual dan muntah, urine berwarna kuning pekat, faeces berwarna gelap setelah 3-5 hari terkontaminasi. Wajah berwarna kekuningan dan tidak nafsu makan.

“Segera pergi ke dokter jika mendapat gejala seperti wajah kekuningan, nyeri kepala dan demam. Meski hepatitis A tergolong self limiting disease atau penyakit yang dapat sehat sendiri, penting bagi pasien mendapat perawatan dari dokter agar kondisinya cepat sehat,” ujarnnya.

Anung mengutip data Badan kesehatan dunia WHO yang memperkirakan kasus hepatitis A terjadi setiap tahunnya hingga mencapai 1,4 juta orang.

Pencegahan hepatitis dilakukan dengan menjaga kebersihan diri, dengan rajin mencuci tangan setelah 5 saat kritis yaitu sebelum makan, sebelum mengolah dan menghidangkan makanan, setelah atau sebelum buang air besar, mengganti popok bayi dan saat akan menyusui bayi.

“Dan tak kalah penting, buang air besar di jamban yang tertutup. Jarak antara jamban dan sumber air bersih sekitar 10 meter dan lakukan vaksinasi sebagai proteksi dini,” kata Anung menandaskan. (Tri Wahyuni)