UKBI Adaptif Merdeka Raih 2 Rekor Prestisius dari MURI

0

JAKARTA (Suara Karya): Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda Ke-93, Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara meraih dua penghargaan prestisius dari Museum Rekor Indonesia (MURI).

Penghargaan itu diberikan karena rekor siswa terbanyak dalam pelaksanaan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) Adaptif Merdeka. Kegiatan itu diikuti sekitar 5.000 pelajar SMA dan SMK dari 18 wilayah cabang dinas pendidikan di 33 kota/kabupaten di Provinsi Sumatera Utara.

Kedua, MURI juga memberi penghargaan karena rekor peserta terbanyak menggunakan busana adat dalam pelaksanaan UKBI Adaptif Merdeka di Provinsi Sumatera Utara.

Prestasi tersebut mendapat apresiasi dari Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek), Endang Aminudin Aziz.

“Kegiatan tersebut merupakan bagian dari promosi UKBI Adaptif Merdeka secara masif di masyarakat. Sebagai alat uji, UKBI Adaptif mampu mengukur kemahiran berbahasa dari tingkat terendah sampai tertinggi,” kata Aminudin dalam siaran pers, Minggu (31/10/21).

Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatra Utara, Maryanto dalam kesempatan terpisah mengatakan, penghargaan MURI yang diperoleh menjadi bukti konkret pentingnya kehadiran Balai Bahasa Provinsi Sumut.

“Sebagai UPT Badan Bahasa Kemdikbudristek, Balai Bahasa akan bergerak bersama pihak pemerintah Provinsi Sumatera Utara dalam mengusung program besar Kemendikbudristek untuk memajukan bahasa dan sastra di wilayah kerja masing-masing,” ujar Maryanto.

Ditambahkan, momentum Hari Sumpah Pemuda menjadi bukti empiris kebahasaan, betapa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) butuh semangat kepemudaan. Dan UKBI rekor MURI bisa dikatakan menjadi salah satu pemantik semangat juang kita,” ujarnya.

Gubernur Sumatra Utara, Edy Rahmayadi, dalam sambutan secara luring di kantornya, Kamis, (28/10/21) mengatakan, peringatan Hari Sumpah Pemuda sangat berarti, terutama dalam pelaksanaan UKBI Adaptif Merdeka yang dilakukan para pelajar di Sumatera Utara.

“Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan sikap positif dalam berbahasa dengan menunjukkan khazanah kebinekaan Indonesia,” ujar Gubernur Sumut Edy Rahmayadi usai menerima secara resmi dua plakat Rekor MURI dark Senior Manager MURI, Yusuf Ngadri.

Edy menegaskan, miniatur kebinekaan Indonesia ada di wilayah Sumut. Melalui kegiatan itu, bahasa Indonesia terbukti tetap tangguh dan tumbuh mengingkat kebinekaan itu.

Begitupun, kegiatan gerak serentak giat UKBI, selain menyiapkan proposal kembalinya Kongres Bahasa Indonesia (KBI) di Sumatra Utara pada 2023 sebagaimana KBI (yang pertama setelah NKRI lahir) di Medan pada 1954.

Sebagai informasi, instrumen UKBI berisi tiga kompetensi, yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap. Pengetahuan strategi berbahasa Indonesia, antara lain untuk mencari, mengolah dan menyajikan informasi (ilmu) pengetahuan sesuai konteks situasi dan budaya. Hal itu merupakan persoalan kebahasaan yang diujikan dalam UKBI.

Instrumen juga mengujikan keterampilan berbahasa Indonesia secara lisan dan tulis. Keterampilan berbahasa Indonesia lisan diujikan melalui butir-butir soal mendengarkan pada Seksi I dan keterampilan tulisnya melalui butir-butir soal membaca pada Seksi III.

Sementara itu, Seksi II (Merespons Kaidah) lebih menekankan soal-soal pengembangan sikap positif, yaitu setia, bangga, dan tanggung jawab terhadap kaidah penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar.

Kendala komunikasi berbahasa pada setiap ranah akan mudah teratasi dengan kemahiran yang makin meningkat.

Penggunaan UKBI di masyarakat diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 70 Tahun 2016 tentang Standar Kemahiran Berbahasa Indonesia. Badan Bahasa diberi tugas untuk menyusun soal, mengembangkan soal, dan memberi layanan UKBI yang dilakukan melalui ujian berbasis kertas, ujian berbasis jaringan komputer, atau ujian berbasis jaringan internet.

Sebagai tes standar, UKBI Adaptif Merdeka secara resmi diluncurkan pada awal 2021. UKBI berfungsi tak hanya untuk mengukur pengetahuan dan keterampilan atau kemahiran berbahasa Indonesia, tetapi juga menumbuhkan sikap positif dan rasa bangga masyarakat Indonesia terhadap bahasanya. (Tri Wahyuni)