Unas Gandeng Ponpes Darussalam Rajapolah Kembangkan Eco-Pesantren

0

JAKARTA (Suara Karya): Universitas Nasional (Unas) menggandeng Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam guna mengembangkan eco-pesantren. Diharapkan program pemberdayaaan pesentren tersebut memberi kontribusi pada perekonomian Indonesia.

Penandatanganan kerja sama dilakukan oleh Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana Unas, Firdaus Syam, Dekan Fakultas Biologi Unas, Tatang M Setia dan Pimpinan Ponpes Darussalam, Rajapolah, Tasikmalaya, KH Ahmad Dani Rustandi di Ponpes Darussalam, Rajapolah, Tasikmalaya, Sabtu (11/1/20).

Hadir dalam kesempatan itu, Wakil Direktur (Wadir) Sekolah Pascasarjana Unas, Maswadi Rauf, sesepuh Ponpes Darussalam, KH Asep Dudung dan KH Asep Nawawi, Kepala Pusat Pengkajian Islam Unas, Fachruddin Mangunjaya, Kepala Laboratorium Mikrobiologi dan Genetika Unas, Noverita dan tim Corporate Social Responsibility (CSR) Mediacomm.

Wadir Sekolah Pascasarjana Unas, Firdaus Syam mengatakan, selama ini sebagian besar masyarakat Indonesia berpikir jika pesantren hanya tempat untuk mengkaji ilmu agama. Padahal, pesentren bisa juga mengembangkan banyak hal, yang memanfaatkan sumber daya alam (SDA) maupun sumber daya manusia (SDM).

“Unas sebagai salah satu perguruan tinggi di Indonesia melihat potensi pesantren dan kaitannya dengan ilmu pengetahuan dan ekonomi nasional,” ujarnya.

Firdaus menilai, banyak hal bisa diteliti dan dikembangkan oleh pesantren. Seperti dilakukan Ponpes Darussalam Rajapolah yang memiliki beragam usaha mulai dari ternak ayam campuran antara negeri dan kampung, areal tanaman obat, sumber air panas alami dan pabrik roti.

“Bayangkan, jika Fakultas Teknik Unas kerja sama dengan sumber daya air panas di Ponpes Darussalam, Fakultas Peternakan dan Biologi bekerja sama mengembangkan ras ayam campuran, atau pabrik roti dengan Fakultas Ekonomi Unas, maka hasilnya akan lebih baik di masa depan,” tuturnya.

Ajakan kerja sama Unas disambut baik Pimpinan Ponpes Darussalam Rajapolah, KH Ahmad Dani Rustandi. Pihaknya membuka diri dengan banyak perguruan tinggi yang ingin bekerja sama. Dengan demikian, keberadaan Pesantren Darussalam Rajapolah dapat diterima masyarakat tak hanya di Indonesia, tetapi juga dunia.

“Pemerintah sebenarnya sudah punya program eco-pesantren atau pengembangan potensi ekonomi pesantren. Namun hal itu tampaknya belum jadi prioritas. Karena itu, kami senang jika ada perguruan tinggi yang ingin mengembangkan eco-pesantren di Ponpes Darussalam,” ujarnya.

Sementara itu, CEO Mediacomm, Fetty Aziza mengatakan, pesantren adalah simpul pendidikan dan kekuatan riil umat Islam di Indonesia. Pesantren juga menjadi dasar dikembangkan gerakan mencintai lingkungan. Diharapkan program tersebut dikembangkan banyak pesantren di Indonesia.

“Eco-pesantren adalah salah satu jawaban agar para santri muda dapat meningkatkan sikap hormat, melindungi dan menjaga ekosistem hingga hal-hal yang berhubungan dengan integritas moral muslimin serta muslim,” ucapnya.

Menurut Fetty, musibah banjir yang menimpa sejumlah wilayah di Indonesia, belakangan ini terjadi karena kesalahan umat manusia dalam menjaga serta melestarikan lingkungan. “Lewat kerja sama ini, diharapkan tumbuh pribadi-pribadi peduli lingkungan di pesantren,” katanya.

Hal senada dikemukakan Kepala Pusat Pengkajian Islam Unas, Fachruddin Mangunjaya. Katanya, banyak pesantren di Indonesia yang telah menerapkan pola pendidikan modern seperti penggunaan dwi bahasa (Arab dan Inggris) dalam keseharian dan pengembangan potensi ekonomi dalam pondok.

“Karena itu, keterlibatan Unas sebagai perguruan tinggi penting untuk memperdalam penelitian mulai dari produk, pengembangan hingga distribusinya,” ucap Fachruddin.

Sedangkan Dekan Fakultas Biologi Unas, Tatang M Setia mengemukakan, dalam mengelola potensi sumber daya alam, setiap insan harus memiliki etika. Tanpa etika, alam akan memberi respon yang tidak baik bagi manusia.

“Jika kita mengeksplorasi hasil hutan, sudah seharusnya menjaga keseimbangan alam dengan menanam pohon kembali. Jika tidak, maka alam akan merespon hal negatif bagi umat manusia,” kata Tatang menandaskan. (Tri Wahyuni)