Uni Eropa lewat Konsorsium iHiLead Dukung Kampus Merdeka

0
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Nizam. (suarakarya.co.id/istimewa)

JAKARTA (Suara Karya): Konsorsium Indonesia Higher Education Leader (iHiLead) siap mendukung pelaksanaan program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka. Sasaran akhir dari konsorsium adalah lulusan perguruan tinggi mampu menjawab kebutuhan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI).

IHiLead beranggotakan 7 perguruan tinggi nasional dan 3 perguruan tinggi asing dari Uni Eropa. Ketujuh perguruan tinggi Indonesia itu adalah President University, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Islam Indonesia, Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Semarang, Universitas Padjajaran dan STIE Malangkucecwara.

Sedangkan tiga perguruan tinggi asing terdiri dari University of Gloucestershire dari United Kingdom, International School for Business and Social Studies (ISBSS) dari Slovenia dan University of Granada dari Spanyol.

Dalam pelaksanaannya, konsorsium iHiLead mendapat dukungan dari Education, Audiovisual and Culture Executive Agency (EACEA), sebuah badan di bawah Eramus+ dari Uni Eropa. Erasmus+ adalah komisi di Uni Eropa yang mendukung berbagai kegiatan dalam bidang pendidikan, pelatihan, kepemudaan dan olahraga di berbagai negara di dunia.

Karena pandemi covid-19, rapat perdana iHiLead dilangsungkan secara virtual, Selasa (2/3/2021) malam yang dihadiri Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia HE Vincent Piket dan David Dawson, Director Master of Arts Higher Education Leadership and Management dari University of Gloucestershire (UoG), United Kingdom.

Acara tersebut juga dihadiri sejumlah partisipan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Nizam menjelaskan, pihaknya terus berupaya meningkatkan kualitas perguruan tinggi agar selaras dengan kebutuhan industri. Salah satunya lewat program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM).

“MBKM memberi kemerdekaan bagi mahasiswa untuk mengikuti program magang di perusahaan. Kampus Merdeka memiliki 9 kegiatan seperti pertukaran mahasiswa, magang, mengajar di sekolah, penelitian, membangun desa, studi/proyek mandiri, kewirausahaan mahasiswa, proyek kemanusiaan dan military service/komp cadangan,” ujarnya.

Disebutkan 8 Indikator Kinerja Utama (IKU) dalam transformasi pendidikan tinggi yaitu lulusan dapat pekerjaan yang layak, mahasiswa dapat pengalaman di luar kampus, dosen dapat berkegiatan di luar kampus, praktisi mengajar dalam kampus, hasil kerja dosen digunakan masyarakat dan dapat pengakuan internasional, program studi bermitra dengan perusahaan kelas dunia, kelas yang kolaboratif dan partisipatif serta program studi berstandar internasional.

“Lewat program ini, mahasiswa begitu lulus langsung siap kerja, bukan lagi siap latih. Program ini diharapkan mampu meningkatkan serapan lulusan perguruan tinggi di pasar tenaga kerja,” tuturnya.

Nizam mengungkapkan, banyak keluhan dari kalangan dunia usaha mengenai kualitas lulusan perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Selain itu, masih banyak materi kuliah yang diajarkan di kampus tak sejalan lagi dengan kebutuhan DUDI.

Untuk itu, Nizam meminta perguruan tinggi di Indonesia untuk merombak sistem pendidikannya dari pola Industri 3.0 ke pola Industri 4.0. Jika memungkinkan ke industri 5.0.

“Saat ini dunia berubah begitu cepat dan penuh dengan ketidakpastian. Perubahan juga tak lagi terjadi secara linier, tetapi semakin kompleks. Karena itu, perguruan tinggi di Indonesia harus mulai meninggalkan kompetensi lama yang tak lagi dibutuhkan,” ucap Nizam menegaskan.

Alasannya, Nizam menyebut, semakin banyak pekerjaan yang hilang atau digantikan oleh mesin. Perguruan tinggi Indonesia harus semakin adaptif dan berani mendisrupsi dirinya sendiri. (Tri Wahyuni)