Unika Atma Jaya Luncurkan Buku, Ingatkan Soal Keseimbangan!

0

JAKARTA (Suara Karya): Pandemi covid-19 yang terjadi dalam dua tahun terakhir ini seharusnya menyadarkan manusia betapa pentingnya menjaga keseimbangan dan keberlanjutan dalam pembangunan, tanpa mengorbankan lingkungan dan alam sekitar.

“Krisis yang terjadi akibat pandemi adalah bukti nyata tidak seimbangnya peradaban manusia dengan seluruh dinamika yang ada,” kata Rektor Unika Atma Jaya, Agustinus Prasetyantoko pada peluncuran buku ‘Laporan Keberlanjutan’ di kampus Semanggi, Jakarta, Jumat (3/6/22).

Menurut Prasetyantoko, pembangunan ekonomi yang terlalu cepat menimbulkan konsekuensi terhadap biaya lingkungan yang begitu tinggi. “Pandemi telah mengkoreksi ketidakseimbangan itu, sehingga mengubah arah peradaban menuju masa depan yang lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Pembuatan buku tersebut, lanjut Rektor, sebagai rangkaian perayaaan Dies Natalis ke-62 Unika Atma Jaya. Hal itu sekaligus wujud kepedulian kampus dalam menjawab tantangan perubahan iklim yang kini menjadi isu global dan memberi pengaruh yang nyata kepada Indonesia.

“Pemerintah harus memperhatikan perubahan tatanan sosial masyarakat pascapandemi covid-19 dan mengantisipasi bisnis lewat beragam kolaborasi, dengan tetap mengedepankan konsep keberlanjutan,” tuturnya.

Buku setebal 87 halaman itu berisi laporan tentang konsep keberlanjutan dalam dunia pendidikan tinggi, seperti mata kuliah lintas program studi, program penelitian hingga program CSR (corporate social responsibility) yang berkelanjutan.

Program lain yang dikembangkan antara lain, pendampingan mahasiswa secara berkelanjutan (student life journey), pengabdian masyarakat yang merupakan penjabaran dari 17 tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals/SDGs).

“Buku tersebut diharapkan menjadi terobosan dalam implementasi konsep keberlanjutan (sustainability) di kalangan perguruan tnggi.

Hadir secara daring Pelaksana tugas (Plt) Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam, Kementerian PPN/Bappenas, Arifin Rudiyanto. Ia memaparkan pentingnya masyarakat menjaga lingkungan, karena Indonesia masuk dalam negara yang rentan terhadap perubahan iklim. (Tri Wahyuni)