Universitas Pertamina Gandeng PT ESRI Perkuat Riset Manajemen Bencana

0

JAKARTA (Suara Karya): Universitas Pertamina menggandeng PT ESRI Indonesia mengembangkan riset manajemen bencana di Indonesia. Kerja sama itu merupakan bagian dari tridarma perguruan tinggi berbasis ilmu teknologi geospasial.

“Universitas Pertamina mengembangkan ilmu geografi dan geoscience, dimana mata kuliah mitigasi bencana ada di dalamnya. Jika ilmu itu disinergikan dengan industri, maka hasilnya bisa menjadi solusi bagi negara,” kata Rektor Universitas Pertamina, Prof IGN Wiratmaja usai penandatangan naskah kerja sama dengan PT ESRI secara daring, Jumat (12/3/2021).

Prof Wiratmaja menilai pentingnya riset manajemen bencana karena Indonesia berada di daerah rawan bencana. Belum lagi kondisi cuaca ekstrem yang menimbulkan bencana alam seperti banjir dan longsor.

“Kondisi itu diperparah lagi dengan adanya pandemi corona virus disease (covid-19) yang hingga kini kasusnya masih tinggi. Maka kerugian negara dan masyarakat lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Bahkan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) DKI Jakarta, beberapa waktu lalu memperkirakan kerugian para pengusaha akibat banjir mencapai Rp30 hingga Rp40 miliar. Hal itu lantaran terganggunya pasokan logistik.

Presiden Joko Widodo dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Penanggulangan Bencana Tahun 2021, menyatakan Indonesia masuk dalam 35 negara paling rawan bencana di dunia.

“Karena itu, perlunya dilakukan antisipasi potensi bencana di masa depan. Butuh strategi manajemen kebencanaan yang bersifat preventif dengan fokus pada pengurangan risiko bencana. Hal itu dilakukan secara multisektoral dan desentralisasi sebagai tanggung jawab bersama,” kata Presiden.

Sementara itu, CEO PT ESRI Indonesia, Achmad Istamar mengemukakan, manajemen bencana sangat penting untuk mengurangi risiko kerugian material dan korban jiwa. Dalam menjalankan manajemen bencana, PT ESRI Indonesia fokus pada survey lokasi dan analisa data mendalam.

“Hasil analisa dalam bentuk peta itu kemudian dibagikan ke masyarakat melalui website dan aplikasi yang dapat diakses lewat smartphone. Data itu jadi bekal bagi masyarakat di daerah rawan bencana agar lebih siap dan waspada,” ujar Achmad.

Ke depannya, PT ESRI Indonesia dan Universitas Pertamina akan melakukan kegiatan tridarma terkait pengembangan ilmu teknologi geospasial. Data geospasial, diperlukan untuk menyusun kebijakan terkait kebencanaan secara tepat.

“Kami beru lisensi ‘software’ geospasial yang dapat digunakan sivitas akademika Universitas Pertamina untuk kegiatan penelitian,” ucapnya.

Selain fokus pada penyiapan peta bencana berdasarkan ‘historical’, ditambahkan Prof Wiratmaja, penting dalam manajemen bencana untuk melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi dengan cepat. “Sebagai unsur yang dekat dengan masyarakat, SDM di Universitas Pertamina diharapkan bisa membantu proses ‘recovery’ ini,” katanya. (Tri Wahyuni)