UNJ Gelar Bedah Buku ‘Darul Misaq’ Karya Wapres Ma’ruf Amin

0

JAKARTA (Suara Karya): Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menggelar bedah buku berjudul ‘Darul Misaq: Indonesia Negara Kesepakatan’ karya Wakil Presiden Ma’ruf Amin, di kampus UNJ Rawamangun, Senin (7/6/2021). Bedah buku tersebut merupakan rangkaian kegiatan Dies Natalis UNJ ke-57.

Dalam sambutannya yang disampaikan secara daring, Wapres Ma’ruf Amin menjelaskan pemikirannya tentang Darul Misaq sebagai jalan tengah atas pandangan Islam dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) agar Indonesia menjadi negara yang moderat dan penuh toleransi atas berbagai keragamannya.

“Buku itu diharapkan bisa menjadi masukan bagi pemerintah guna mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya.

Buku Darul Misaq, secara garis besar membahas seputar Indonesia sebagai ‘nation state’ dan mozaik luar biasa indah yang ditenun dari kemajemukan suku bangsa, adat istiadat, bahasa, agama, ras dan antar golongan.

Ditambahkan, Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika adalah pengikat dari kemajemukan tersebut. Sebagai negara dengan bangsa yang majemuk, Indonesia juga dianugerahi kondisi geografis yang unik-strategis dengan kekayaan alam yang melimpah. Semua itu dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat Indonesia.

“Potensi kemajemukan dan kekayaan alam merupakan peluang sekaligus tantangan bagi ikatan kebangsaan Indonesia,” ujarnya.

Menurut Ma’ruf, ikatan kebangsaan Indonesia tidak muncul begitu saja, tetapi lewat proses panjang dan fluktuatif. Trajektori semangat dan rasa kebangsaan pada masanya naik hingga titik tertinggi, yaitu momentum Kebangkitan Nasional (1908), Sumpah Pemuda (1928) dan Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (1945).

Namun, di masa yang lain, kondisi itu turun hingga titik paling kritis dan mengkhawatirkan, misalkan konflik era 50-60an dan 1998-2000an. Bahkan, kondisi itu bisa mengancam disintegrasi bangsa.

“Kejadian semacam itu bisa dimengerti, karena semangat dan rasa kebangsaan itu tidaklah bersifat permanen, melainkan bergantung pada kondisi dan situasi yang melingkupinya,” tuturnya.

Di era disrupsi saat ini, disebutkan, tiga tantangan bagi ikatan kebangsaan Indonesia yaitu teknologi, komunikasi dan infomasi digital, terutama media sosial yang semakin berisiko. Persebaran berita atau informasi dari media sosial begitu masif, perputarannya per detik dan sulit dikendalikan.

“Berita atau informasi hoax, provokasi, dan ujaran kebencian sangat mudah ditemui di media sosial,” ujarnya.

Sikap moderat dan toleransi digempur setiap hari oleh tayangan dan konten radikal yang begitu mudah disebar dan viral di media sosial. Lemahnya edukasi bermedia sosial dan kekhawatiran lemahnya penghayatan tentang agama dapat memicu munculnya pemahaman sempit dan radikalisme.

“Kenyataan itu, bila tidak ditangani secara serius, segera dan komprehensif dapat menurunkan semangat, mengoyak dan merobek ikatan kebangsaan Indonesia,” katanya.

Rektor UNJ, Komarudin menilai, buku Darul Misaq menjadi oase, sekaligus solusi dalam mengatasi problematika ikatan kebangsaan kita yang tengah menghadapi tantangan besar era disrupsi dan segala derivasinya.

“UNJ sebagai perguruan tinggi yang fokus terhadap pendidikan ingin berkontribusi terhadap masalah bangsa dan negara dengan cara mengedukasi masyarakat lewat diskusi publik, bedah buku, media sosial dan Edura TV,” ucapnya.

Komarudin menambahkan, konsepsi Darul Misaq yang digagas Ma’ruf Amin telah melalui proses lanjang pergulatan pemikiran, genealogis dan empirik sang Empunya. Sejak pergulatannya di dunia pesantren, kampus, organisasi kemasyarakatan, organisasi politik, hingga pemerintahan.

“Konsepsi Darul Misaq secara detail, tidak hanya menjelaskan konteks sosial politik yang melatarbelakangi munculnya terminologi Darul Misaq, tetapi juga pembahasan dasar tentang Darul Misaq dalam bingkai teologis, sosial, politik, pendidikan, dan kebangsaan,” ucapnya.

Dalam konteks bidang pendidikan, konsepsi Darul Misaq menjadi diskursus penting yang relevan dan solutif di tengah problematika pendidikan nasional yang minus dan hampa kesadaran kebangsaan.

“Konsepsi Darul Misaq juga dapat menjadi jembatan bagi lahirnya kurikulum pendidikan nasional yang berwawasan kebangsaan. Kurikulum pendidikan kebangsaan yang bertujuan untuk melahirkan kecerdasan kewarganegaraan digital yang Pancasilais, moderat dan berakhlaqul karimah,” katanya.

Hal senada dikemukakan Direktur Pascasarjana UNJ, Nadiroh yang menjadi salah satu narasumber dalam bedah buku tersebut. Katanya, makna Darul Misaq merupakan realitas keragaman yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia.

“Internalisasi nilai Darul Misaq dapat dilalui lewat adaptasi dan transformasi,” katanya.

Hadir sebagai pembahas Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi, Dosen Filsafat Ketuhanan STF Driyarka, Simon Petrus Lili Tjahjadi. Pengatar diskusi oleh Staf Khusus Wakil Presiden, Masykuri Abdillah dan pakar pendidikan, Azyumardi Azra. (Tri Wahyuni)