Upaya Peningkatan Mutu Faskes lewat BPJS Kesehatan Award

0

JAKARTA (Suara Karya): Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan kembali memberi penghargaan kepada fasilitas kesehatan (faskes) lewat BPJS Kesehatan Award. Upaya itu dilakukan sebagai bagian dari peningkatan mutu layanan di faskes seluruh Indonesia.

“Ada 26.772 faskes yang dinilai, lalu terseleksi 52 Fasilitas Kesehatan Tahap Pertama(FKTP), 42 rumah sakit (RS) dan 13 apotek terbaik di tingkat wilayah,” kata Dirut BPJS Kesehatan, Fachmi Idris disela acara pemberian penghargaan BPJS Kesehatan Award di Jakarta, Kamis (15/8) malam.

Ditambahkan, tim kemudian melalukan seleksi kembali hingga terpilih satu FKTP terbaik dari lima kategori, yaitu Puskesmas, klinik pratama, dokter praktik mandiri, dokter gigi, dan apotek Program Rujuk Balik (PRB). Dan satu rumah sakit terbaik dari masing-masing kelas, yakni rumah sakit kelas A, B, C dan D.

Lewat penghargaan BPJS Kesehatan Award, Fachmi berharap para pemenang dapat menjadi contoh atau benchmark bagi faskes lain. Begitupun jika faskes ingin menjadi mitra BPJS Kesehatan, ada standar layanan yang dilihat.

Disebutkan, kriteria penilaian bagi FKTP adalah kepatuhannya terhadap Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan BPJS Kesehatan, yang mana harus mencapai skor 100. Aspek lainnya meliputi kepatuhan terhadap pemenuhan Surat Izin Praktik (SIP) dokter, bidan, dan dokter gigi yang berlaku, ketentuan pembayaran klaim non kapitasi.

“Penilaian juga dilakukan pada ketentuan pengelolaan Program Rujuk Balik (PRB) dengan jumlah 65 persen peserta PRB aktif, pemenuhan kredensialing atau rekredensialing dengan nilai >70, pemenuhan area of improvement untuk capai nilai KESSAN ≥85, dan pelaksanaan ketentuan mekanisme Kapitasi Berbasis Kompetensi (KBK) dengan 2 indikator yang berhasil tercapai,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut Fachmi, FKTP harus dapat nilai KBK 100 persen. Setelah itu, baru dilihat dari prestasi, utilasi review dan akreditasi. Tim juga melihat nilai plus lainnya yang jadi bahan pertimbangan. Apakah FKTP juga punya inovasi yang berdampak atas peningkatan kualitas layanan. Hal itu, diharapkan bisa menjadi contoh bagi FKTP lain.

Bagi rumah sakit, kata Fachmi, beberapa hal yang menjadi indikator penilaian antara lain kesesuaian rumah sakit dalam memenuhi komitmen perjanjian kerjasama, tingkat kepuasan, layanan kepesertaan, kecepatan respon terhadap keluhan serta inovasi yang dikembangkan rumah sakit dalam memberi kemudahan bagi peserta JKN-KIS.

“Upaya rumah sakit untuk mengurangi keluhan dan meningkatkan kepuasan peserta JKN-KIS juga menjadi poin tambah tersendiri dalam penilaian,” ujar Fachmi yang dalam kesempatan itu didampingi Menteri Kesehatan (Menkes) periode 2012 – 2014, Nafsiah Mboi.

Menurut Fachmi, variabel penilaian tambahan yang menjadi pedoman bagi tim saat turun ke lapangan antara lain tsisi humanisme. Misalkan, pada layanan IGD, rawat inap dan pelayanan farmasi/obat menjadi nilai tambah bagi faskes yang berfokus pada.kebutuhan pasien dan keluarga, seperti perlakuan cepat, profesional dan tanpa diskriminasi.

Selain itu, lanjut Fachmi, adalah faktor kebersihan, networking atau koordinasi antar petugas sehingga pelayanan lebih cepat dan efisien. Selain poin tambahan atas ruang administrasi dan pengaduan yang memadai. (Tri Wahyuni)